Senin, 14 Maret 2011

Love is circle (SEKUEL CINTA PIANO) - part 1

Hai..hai...i come back...berhubung, banyak yang minta supaya aku lanjutin nih cerbung, maka aku yang sebenarnya baru belajar nulis ini mencoba membuat sekuel cinta piano. Mudah2an nggak bosan ya. Kalo lupa sama ceritanya, baca aja dari part 1. Hehehe...Oh ya, maaf ya kalo jelek, nggak romantis, soalnya penulis belum ada pengalaman. Hehehe *jujur*Ini dia – part 1

“Selamat pagi semuanya. Seperti yang kalian ketahui, hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Karena itu, saya harap tidak ada yang sedih.” Semua anak2 hanya bisa menunduk tegang. “SMA  Ganesha tahun ini lulus 100%” tersengar sorak sorai dari anak2 kelas 3. “Mohon tenang! Selain itu, SMA Ganesha mendapat peringkat 1 dan 2 se-Jakarta sebagai NEM tertinggi. Nama yang saya bacakan harap maju ke depan. Peringkat 2 diraih oleh, Gabriel Stevent Damanik dengan NEM 56.5 dari 6 mata pelajaran.”
“Selamat ya bro..” seru Cakka. Semua yang berada di dalam aula itu pun bertepuk tangan mengiringi Gabriel yang maju ke depan.
“Peringkat pertama diraih oleh Mario Stevano Aditya Haling, dengan NEM 57 dari 6 mata pelajaran”
“Kereenn...” kata Alvin. Rio pun maju. Ia hanya cengar-cengir nggak jelas. Pak Kepala sekolah pun memberikan medali, sebagai penghargaan kepada mereka berdua. Seluruh siswa SMA Ganesha, bertepuk tangan riuh, sedangkan guru2 menangis tapi bangga.
“Pengumuman berikutnya, Untuk cap 3 jari, pengambilan ijazah dan lain2, kalian boleh mengambilnya besok. Acara wisudanya dilaksanakan hari kamis ini pukul 7 pagi, dan prom night akan dilaksanakan pada hari sabtu ini pukul 7 malam. Untuk Info selanjutnya, kalian bisa melihat papan pengumuman. Dengan demikian, kalian diizinkan untuk pulang ke rumah masing2” anak2 pun berdesak-desakan keluar ruang aula. Ada yang loncat2 kegirangan, ada yang foto2, ada yang nangis karena udah pisah, pokoknya semua ekspresi ada saat itu.
“Selamat yaa kak...” kata Ify, dan refleks memeluk Rio yang baru saja keluar aula
“Makasih..” ucap Rio
“Ehm,, Rio aja nih fy? Gue nggak?”
“Eeh,, ada kakakku yang ganteng...Selamat ya kak...,” kata Ify kemudian memeluk Iel. Ify pun memberikan selamat kepada Alvin dan Cakka juga. Shilla, Agni, dan via pun bergantian menyalami kakak kelas mereka itu.
“Hmm, gimana kalo kita jalan2 hari ini?” usul Shilla
“Setujuuuuuu” seru semuanya kompakkan. Semuanya naik motor. Via & Iel, Cakka & Agni, Alvin & Shilla, Rio & Ify. Sejak bokap Rio yang balik lagi ke keluarganya, baik kehidupan maupun perekonomian mereka pun jadi membaik. Karena itu, pak Yunus, ayah Rio memaksa untuk membelikan Rio motor. Mereka jalan2 dari satu mall ke mall yang lain. Pokoknya benar2 menghabiskan hari itu bersama
@kamar Ify
Ify yang baru saja mandi, segera mencari HP-nya yang berbunyi. Ia melihat layar HP-nya,. Seulas senyum pun nampak di wajah Ify
 Calling Rio ‘my piano’
“Ya kak.”
“Hai fy, lagi ngapain?”
“Baru aja selesai mandi. Kenapa kak?”
“Aku kangen nih sama kamu”
“Gombaaaal....”
“Aku serius fy. Nggak tau kenapa aku jadi mikirin kamu tiap detik”
“Wuiih,, kak, udah berguru nih sama ka Cakka? Gombalnya makin mantep”
“Yee,, aku ngomongnya serius kali fy. Tapi kalo aku gombal, juga kamu senang kan.” Ify hanya tersipu-sipu malu mendengar Rio. Ia masih berpikir kalo ini hanya mimpi. ”Hallo, Alyssa Saufika Umari.”
“Eh, kenapa kak?”
“Aku kira kamu udah tidur. Abisnya dari tadi dieeem aja..”
“Hehehe..Maap, maap.”
“Fy, weekend temenin aku ke promnight ya..”
“ok deh kak.”
“Ntar aku jemput jam 7”
“Berees. Tapi kak, kan masih lama. Belum juga wisuda, udah ngomongin promnight”
“Takut aja, kamu udah bikin janji sama orang lain. Btw, kamu udah makan?”
“Blm...hehehe....”
“Iiiiifyyyyyy,,, aku udah bilang kan, jangan pernah telat makan lagi. Ini udah jam 9 malam. Ntar kalo kamu sakit lagi gimana? Klo mag kamu kambuh gimana?” 
“aku udah makan kok ka.”
“Trus kenapa tadi bilang belom?”
“Mau ngetes aja perhatian ka Rio. hehehe”
“Kamu tuh ya..Kayak gitu aja pake dites. Ya pastilah aku perhatian.”
Mereka ngobrol 2 jam. Ngobrol ngalor ngidul. Nggak jelas sama topiknya.
“Kak, aku tidur dulu ya. Ngantuk nih”
“Eh, udah jam segini. Ya udah kamu tidur gih, banyakin istirahat.”
“Iya, iya, kamu juga kak. Jangan kecapekan ”
“Night my pianist. I love you”
“Night too my piano. Have nice dream. Love you too”

Ify pun tertidur dengan senyum yang tak mau berhenti.

@promnight
*sekali lagi penulis mohon maaf, nggak ceritain wisuda dll, soalnya nggak ada yang spesial. (alibi..)*
Malam itu semuanya datang menggunakan gaun maupun jas. Sangat rapi, tapi tetap terlihat seperti anak SMA.  Gedung acara prom pun sudah dipenuhi dengan siswa/i. Tak terkecuali, Cakka-Agni, Iel-Via, Alvin-Shilla dan Rio-Ify. Mereka berdelapan tampak begitu serasi. Ify terkagum-kagum dengan dekorasi para panitia prom untuk tahun itu. Pintu depan, lampu dimatikan, yang terlihat hanyalah red carpet, dengan lampu2 yang menghiasa di sisi karpet itu. Membuat acara malam itu benar2 nggak bisa dilupakan oleh siapa pun
“Waah, nggak nyangka ya malam ini rameee banget..Semuanya masih semangat?”
“Masiiih...”
“Kalo gitu, kita masuk aja di acara puncak kita. Dansa....” Lagu slow untuk dansa pun mengalun memenuhi ruangan itu,
“Vi,..dansa yukk” ajak Iel
“Aduuh ka, gue nggak bisa dansa.”
“Lo percaya kan sama gue?” Via pun mengangguk dan menerima uluran tangan Iel

“Ashilla Zahrantiara, would you dance with me?” tawar Alvin sambil berlutut
“Ya ampuun ka Alvin. Mintanya jangan giu amat dong..” kata Shilla yang sebenarnya speechless + salting.
“Tapi lo mau kan? Please...Yang terkahir nih. Kapan lagi gue bakalan dansa sama lo kalo nggak di prom ini?”
“Iya, iya..Gue mau. Asal lo berdiri dong kak” Alvin pun tersenyum

“Ni,,”
“Kenapa cakk? Lo mau dansa juga?”
“mmph, iya..”
“Ya udah, yuk.” Begitu banyak pasangan yang berdansa malam itu.
“Cak, lo kenapa sih? Kok kayaknya nggak tenang gitu deh.”
“Hah? Perasaan lo aja kali.” Jawab cakka gelagapan. Agni nggak ngebantah. ‘gue jujur nggak ya sama lo, Ni? Tapi kalo lo marah giamana? Heu,.Maaf, gue nggak maksud ’ batin Cakka sambil menatap wajah Agni lembut
“Cak, lo ngapain sih liatin gue kayak gitu? Malu tau..”
“Lo cantik banget sih malam ini”
“Gombal..”
“gue serius. Tapi emangya salah, kalo gue liat cewek gue sendiri? Daripada gue liat yang lain?” goda cakka
“Jangan macem2 deh..”
“Iya, Agni sayang..Nggak bakalan gue macem2”


“Ka..kluar yuk..”
“Lho? Kamu nggak mau dansa nih sama aku?”
“nggak ah. Males..Keluar aja yuk.” Rio pun mengikuti Ify. Mereka ke bagian belakang gedung. Di belakang gdeung itu, ada hamparan rumput yang hijau. Mereka bisa lihat bintang2 dengan indah. Rio dan Ify pun duduk di atas rumput
“Ka..”
“Hmm” sahut Rio menatap bintang2
“Kalo aku bilang takut gimana?”
“Takut kenapa?” tanya Rio yang mengalihkan pandangannya ke Ify
“Aku takut kalo ka Rio udah kuliah, udah sibuk, jadi lupain aku. Aku takut, ka Rio nggak punya waktu lagi buatku. Heu..aku egosi ya..”
“Ga mungkinlah aku lupain kamu..” kata Rio sambil mengacak rambut Ify pelan “Salahkah ku bila, kaulah yang ada di hatiku...” Rio menyanyikan sepenggal lirik lagu maliq & d’essential.
”Aku kayak anak kecil ya.”
“Emang.” Jawab Rio singkat membuat Ify mendelik ke arah Rio “Anak kecil yang udah berani bikin hatiku nggak tenang tiap kali dia dekat sama yang lain. Anak kecil yang masuk terlalu dalam di hidupku. Anak kecil yang berani nyuri hatiku, dan menempati ruang hatiku yang paling besar. Anak kecil yang berharga banget dalam hidupku. Anak kecil yang bakalan bikin aku cinta sampai kapanpun” sambung Rio yang membuat Ify tersenyum manis, walaupun detak jantungnya jadi nggak teratur. “Ify..Ify..Aku yang masih 1kota sama kamu aj, udah kayak gini, Gimana kalo waktu itu aku terima tawaran Mr.Scott ya? Padahal kamu bilang ‘aku nggak apa2 kok ka..’ ” goda Rio
“Ka Rio reseee...” Ify mencubit perut Rio
“Awww..Ampun. Sakit fy. Eh liat deh bintang itu yang paling terang” ujar Rio sambil menunjuk ke satu arah. Ify pun melihat yang Rio tunjuk. “Gimana kalo kita namain bintang itu Rify? Jadi kalo kamu lagi kangen sama aku dan aku nggak bisa dihubungin, kamu cari bintang yang paling terang, sampaikan perasaan kamu saat itu. Karena aku di manapun berada, pasti akan liat bintang yang sama, dan bakalan tau kalo kamu juga lagi mikirin aku. ” kata Rio, Ify pun mengangguk setuju. Rio melepaskan jas yang ia pakai, dan dipakaikan ke Ify
“Ka..” kata Ify kaget dengan perlakuan Rio. Rio hanya tersenyum, menggenggam tangan Ify erat, dan kembali melihat bintang.
‘Apapun yang bakalan terjadi nanti, setidaknya ini adalah kenangan terindah yang nggak akan pernah gue lupain.’
“Fy, masuk yuk. Ntar kalo kamu sakit, aku deh yang disalahin sama Iel & tante Uci. Lagian, kayaknya acara dansanya udah mau selesai tuh.” Ajak Rio
“Iya deh kak.”
“kamu nggak pengen nih dansa sama aku?”
“Bukannya gitu kak, Cuma kan masih ada 2 tahun lagi, waktu aku prom. Jadi nggak apa2 dong”
“Yayaya..” sahut Rio dan menggandeng tangan Ify memasuki gedung itu lagi.
“Ok semuanya, gue akan ngumumin siapa King & Queen kita malam ini. King Prom kita adalah Alvin Sindunata.... ” semuanya pun memberikan applause yang meriah,  “dan Queen-nya adalah Ashilla Zahrantiara ” Alvin dan Shilla pun maju ke depan sambil bergandngan tangan, yang membuat banyak pasangan cukup iri melihat mereka. Mereka menerima Mahkota untuk King dan Queen. Selain itu, mereka pun berfoto sebagai kenang2an. Acara malam itu pun selesai. Alvin dan Shilla begitu banyak mendapatkan ucapan selamat dari teman2 mereka. King dan Queen Prom Night emang terkenal dan dianggap sebagai mitos bahwa mereka akan langgeng menjadi pasangan.
“Selamat ya Bro..” ujar Rio, Cakka, dan Iel kompakkan. Seperti acara kelulusan, mereka pun bergantian untuk mengucapkan selamat
“Yaaah fy, coba tadi kita dansa pasti jadi King dan Queen gitu. Hehehe...”
Udahlah yo, masa mau lo embat juga. Nggak kasihan apa sama teman2 lo ini. celetuk Cakka
“Hehehe..Nggak, gue juga Cuma becanda doank. Ya udah pulang yuk. Gue udah cape banget.” Ajak Rio dan disambut dengan anggukan dari semuanya.

@Cakka – Agni
“Hmm, Ni..” panggil Cakka ketika mereka telah tiba di depan rumah Agni
“Kenapa?”
Tadi itu siapa sih?”
“Oh, itu si Sion teman gue main basket.”

============FLASHBACK==========
Cakka dan Agni keluar dari gedung prom. Mereka berdua berjalan ke parkiran.
“Cewek! Cantik banget sih..”
“Eh, lo jangan macem2 sama...” perkataan Agni tehenti ketika melihat lelaki yang berdiri di hadapannya “SION! Ya ampuuuun. Ke mana aja lo? Udah lama nih, gue nggak ngelihat lo. ” kata Agni dan berhigh-five dengan Sion
“Biasalah,  orang terkenal. Jadi gitu deh.”
“Jiiiah, songong lo. Eh, kenalin ini Cakka, cowok gue”
“Cakka”
“Sion. Yah, Ni, gue telat dong. Gue kira lo masih jomblo. Btw, lo makin cantik aja”
“Hahaha. Lo bisa aja. Udah ah, gue mau pulang. Bye”
“Daa”
                ==========FLASHBACK END============
“Gue nggak suka lo deket sama dia”
“Lo kenapa sih Cakk? Lo dari tadi aneh deh.”
“Pokoknya gue nggak mau lo deket2 sama dia.”
“Cakka,,, udah deh. Lo jangan kayak anak kecil. Dia tuh teman gue. Masa lo nggak percaya sih sama gue? Lagian lo tuh udah mau kuliah Cakk. Dewasa dikit napa sih?”
“Lo jangan pernah ngobrol sama dia lagi” kata Cakka yang lebih terlihat sebagai suatu perintah
“Cakka, gue ini cewek o. Gue bukan mainan lo yang bisa lo perlaukin seenak jidat lo. Gue cape. Males gue ngomong sama lo. Gue nggak suka sikap lo kayak gini.” kata Agni yang sebenarnya udah marah dan sinis banget. Ia pun membuka pintu mobil Cakka dan segera turun
BESOK SORE JAM 5, GUE TUNGGU LO DI TAMAN BIASA teriak Cakka, agar Agni mendengarnya. Agni yang sebenarnya dengar, pura2 nggak dengar. Ia lagi kesal banget sama Cakka
 “Aaargh....” teriak Cakka sambil memukul stir mobilnya. ‘Bodoooooh....Kenapa sih gue harus kayak gitu? Segitu takutnya gue kehilangan dia??  Maafin gue Ni’ batin Cakka dan memacu mobilnya pulang ke rumah

@Alvin – Shilla
“Hmm, Shill. Kita jalan dulu yuk, ke mana gitu..”
“Terserah kakak aja deh.” Alvin pun memacu mobilnya ke café d’flame
“Shill, gue bingung nih.”
“Bingung kenapa kak?”
“Bokap sama istrinya bakalan pulang.”
“Lho? Bukannya bagus kak? Kapan pulangnya? Istrinya? Emang bukan nyokap lo kak?”
“Nyokap gue udah meninggal waktu dia ngelahirin gue. Terus bokap nikah lagi. Mereka pulang, buat urusin kuliah gue di sini. Padahal tanpa mereka, juga gue bisa sendiri kok. ”
“Kan mereka perhatian sama lo kak”
“Ciih..Perhatian. Gue udah nggak ngerti sama kata itu. Gue Tanya deh sama lo, Kalo orang tua yang maksa anaknya supaya ikut kemauan mereka, apa itu bentuk perhatian? Kalo mereka ninggalin gue saat gue butuhin, dan datang Cuma buat keperluan mereka sendiri apa itu perhatian? Kalo mereka nggak pernah denger apa yang gue mau, dan lebih dengar pendapat orang lain, apa itu tandanya mereka perhatian? ”
“Kak, lo jangan selalu lihat dari sisi lo. Coba deh lo liat dari sudut pandang mereka. Kali aja, mereka tuh mau yang terbaik buat lo.”
“Terbaik buat gue atau buat mereka? Gue nggak pernah dianggap anak sama mereka Shill. Gue kadang mikir, sebenarnya bokap gue ingat nggak sih punya anak?! ”
“Ya udahlah kak. Lo tenang aja, semua pasti ada jalannya kok. Cuma belum waktunya aja.”
“makasih ya Shill. Karena ada lo di sini, makanya gue jadi lebih kuat hadapin hidup” kata Alvin sambil tersenyum manis pada Shilla “Makasih ya lo udah mau dengerin gue. Pulang yuk! Atau ada yang mau lo ceritain ke gue?” Tanya Alvin. Shilla hanya menggeleng. Mereka pun meninggalkan tempat itu dan segera pulang ke rumah.

@taman, sore
Agni menggoyang-goyangkan kakinya. Inilah kebiasaannya kalo dia udah sebal nungguin orang. Dia melirik jam di tangannya sekali lagi. Berharap, kalo ia salah melihat waktu. Ia pun merogoh Hp-nya dan memencet sederet nomor. Dia mencoba nelpon kali ini. Tapi nggak aktif, sms pun pending.
“Cakka, lo di mana sih?” gerutu Agni. Tiba2 HP-nya berbunyi
“Hallo Cakka?” Agni mengangkat Hp-nya langsung tanpa melihat penelpon itu.
“Ni? Ini gue Ify. Lo kenapa? Ada masalah lo sama ka Cakka?”
“Hah? Ify toh.Maaf, maaf. Duh, gue sebel nih sama Cakka. Dia ngajakin gue ketemuan, tapi udah 2 jam berlalu, dia nggak muncul2”
“Udah lo telponin? Atau sms-in?”
“Udah Fy, sampai jari2 gue pegel ngetiknya…”
“Hmm, gue coba telp ka Rio atau nanya ka Iel dulu deh, kali aja mereka tau.”
“Ya udah thank’s ya fy. Btw tadi lo nelpon ada apa?”
“Nggak, gue mau ngaja nginep bareng aja, liburan kita kan 3minggu
 “Oh. Lo bilang aja sama Shilla Via“
“Iya,, gue mau telponin mereka juga”

“Kaa, lo tau nggak ka Cakka sekarang di mana?” Tanya Ify
“Nggak. Emangnya kenapa?”
“Ntar aja deh, gue jelasin. Lo ada nomor telp rumahnya nggak? Kalo ada lo telponin dia ya.” Iel pun hanya menurut apa yang Ify katakan. Ify mengambil HP-nya dan mulai mengetik
To : Rio ‘My Piano’
Ka, lo tau nggak ka cakka di mana?
From : Rio ‘My Piano’
Nggak. Kenapa Fy?
To : Rio ‘My Piano’
Ntar baru aku ceritain

“Fy nggak ada yang angkat” kata Iel
“Hmm. Ya udah kalo gitu thank’s ya kak.” Ify pun kembali mencari nomor Agni di Hp-nya.
“Damn!!”
“Kenapa fy?”
“HP Agni mati. Aduuh, udah hamper jam 8 gini lagi, mana hujan di luar.,.”
“Kenapa sih? Gue nggak ngerti?” Ify pun menjelaskan semuanya pada Iel
“Kita cari Agni yuk. Tapi lo tau nggak ka, tempat favorit nonkrongnya ka Cakka?”
“Gimana kalo kita telpon yang lain juga. Supaya bisa bagi tugas gitu” Ify pun menagngguk setuju dengan ide kakaknya. Rio, Ify, Shilla, Alvin, Via dan Iel pun udah berkumpul. Mereka berenam berpencar berpasangan. Dengan catatan, kalo ada yang udah nemuin Agni harus dikabarin. Sejam mereka mencari Agni dalam hujan tapi sama sekali nggak nemuin Agni. Mereka udah ngecek ke rumah Cakka, tapi nggak ada orang. Mereka ngecek ke rumahnya Agni, tapi kata Keke, adiknya, Agni belum pulang.
“Duh…Gimana nih? Gue jadi panik” kata Shilla
“Hah gue ingat! Dia pernah cerita ke gue kalo dia sama ka Cakka sering ketemu di taman Bougen.”
“Yah Fy, kenapa nggak ngomong dari tadi”
“hehe. Gue baru ingat. Ya udah yuk” Mereka berenam pun ke taman bougen. Benar saja, seperti kata Ify, Agni di sana. Masih duduk di bangku taman. Dia meringkuk kedinginan.
“AGNI !” Agni pun menoleh. Wajahnya terlalu pucat. Ia Nampak begitu lelah
“Kalian tau ju..” belum selesai Agni ngomong, dia langsung pingsan. Mereka menggotong dan membawanya ke rumah Ify. Dengan catatan, ada yang bilang ke bokap Agni atau Keke, kalo Agni lagi nginap. Sesampai di rumah Ify, para cewekpun menggantikan baju Agni yang basah dengan salah satu baju Ify. Suhu tubuh Agni terlalu tinggi. Agni menggigil kedinginan. Dari tadi ia mengiggau. Ia hanya menyebutkan nama Cakka, Cakka, dan Cakka. Dia terlihat terlalu lemah, untuk seorang Agni yang terkenal kuat selama ini
“Kalian pada mau nginap di sini? Atau mau pulang aja?” Tanya Iel
“Nginep aja deh. Nggak tega liatin Agni kayak gitu. ” kata Via.
“Iya gue setuju. Lagian kan liburan. Jadi nggak apa2 juga kan?”
“Ya udah kalo gitu, gue juga nginep deh. ” seru Alvin
“Gue juga” balas Rio
“Ok. Tapi jangan lupa ngabarin orang tua kalian masing2. Yang cowok bisa tidur di kamar gue.  Yang cewek tidur di kamar Ify aja. Kalo ada yang butuh selimut, cemilan, susu, atau apaan gitu, minta aja sama gue atau Ify. ” mereka pun hanya mengangguk-angguk. Ibu Uci lagi keluar kota. Rumah mereka kosong. Bi Iyem juga lagi pulang kampung, liat anaknya yang lagi sakit.

Tak terasa mentari telah menampakkan wajahnya. Mereka berenam pun mulai membagi tugas. Siapa yang masak, siapa yang jagain Agni, siapa yang bersihin rumah. Pokoknya semuanya mendapat tugas. Ify mendapat tugas untuk menjaga Agni.
“Ni? Lo udah bangun?” tanya Ify yang memasuki kamarnya sambil membawa sarapan untuk Agni. Ia melihat Agni sudah duduk di atas tempat tidur sambil menatap keluar
“Iya. Makasih ya. ” seru Agni tulus sambil tersenyum. “Btw, bokap sama Keke?”
“Udah kita kabarin kok semalam.” Kata Ify sambil menyerahkan sarapan itu untuk Agni
“Fy, kita udah ngecek ke sana.”  Ujar Alvin yang baru aja masuk ke kamarnya Ify ditemani Iel “Lho? Ni, lo udah sadar? Udah baikan nih? ” Agni pun hanya mengangguk
“Trus gimana?” tanya Ify
“Eeh,, itu...Ni, sorry ya. Kita tadi ke rumahnya Cakka. Kata tetangganya, dia berangkat ke jerman kemarin, pagi2 banget.” Agni pun yang sedang meminum tehnya pun terbatuk-batuk.
“Serius ka?” tanya Agni. Alvin dan Iel pun hanya mengangguk manta.
“Cakka bodoh. Dia ke mana sih? Dihubungin aja susah amat.” Dumel Iel
“Ya udah kita keluar dulu ya.” Seru Alvin ketika melihat sorot mata Ify yang ingin mengatakan ‘sebaiknya lo berdua keluar dulu deh’
 “Ni. Lo kalo butuh teman buat cerita panggil gue. Gue nggak mau lo pendam semuanya sendirian. ” seru Ify dan beranjak pergi
“Gue marahan sama Cakka.” Seru Agni akhirnya menghentikan langkah Ify “Waktu dia ngantar gue pulang, kita ketemu sama Sion, teman gue. Dia cemburu gitu. Tapi fy lo tau kan gue paling nggak suka kalo diatur, dilarang-larang gitu?! Gue marah sama dia. Gue turun dari mobilnya. Dia bilang pengen ketemu sama gue kemarin sore, di taman. Sms-nya nggak gue bales. Telponnya juga nggak gue angkat. Gue tungguin dia fy, tapi dia nggak datang. Apa segitu marahnya dia ke gue, sampai ninggalin gue tanpa kabar kayak gini? Ini udah keduakalinya fy dia ninggalin gue. Dia ninggalin gue dengan perasaan yang sebenarnya nggak jelas buat gue. ”
“Nggak sempat kali Ni”
“Setidaknya dia sms gue lah, supaya gue tau. Gue sebal sama dia fy.” Seru Agni. Ify pun membelai kepala Agni dengan lembut. Agni emang nggak nangis.Nggak tau kenapa ia Cuma bisa jadi dirinya sendiri, ia Cuma bisa nangis, nunjukin kelemahannya di depan Cakka. Karena Cakka-lah yang selalu menguatkannya. Tapi sekarang nama Cakka seperti bumerang buat Agni. Walaupun begitu Agni tetap sayang sama Cakka.
Waktu berlalu begitu cepat. Liburan pun akan segera berakhir. Rio, Iel dan Alvin pun udah mempersiapkan segala hal untuk masuk kampus. Rio ngambil kedokteran di UI, Iel ngambil Desain and grafis di Trisakti, Alvin ngambil business and manajemen di Binus. Selama liburan, mereka bertujuh nginap di rumah Iel dan Ify. Mereka bertujuh pun sering jalan2 bareng, main basket bareng, dan melakukan kegiatan2 aneh tapi membuat mereka bertujuh jadi benar2 kompak dan nggak pengen saling kehilangan. Sebenarnya Agni nggak pengen ikut kegiatan teman2nya. Ia ngerasa kayak obat nyamuk. Ia ngerasa nggak enak kalo harus ganggu dating teman2nya itu. Tapi Ify dkk, kekeuh agar Agni ikut jalan sama mereka. Hari ini merupakan hari terakhir mereka liburan, dan nginap di rumah Ify. Mereka berkumpul di taman belakang.
“Nggak nyangka ya, liburan udah berakhir. Cepet banget siiih...” ujar Shilla
“Iya nih. Bntar lagi ka Iel , Ka Alvin sama Ka Rio bakalan kuliah” seru Agni
“Gue jadi penasaran sama dunia kampus.” kata Alvin
“Ciiie, anak kuliahan nih ye” goda Ify
“Tapi gue masih penasaran nih sama Cakka” celetuk Iel yang membuat semua di situ, terkecuali Agni memandang Ie dengan tatapan ‘Kenapa lo ungkit lagi?’ Semuanya Hening. Nggak ngomong apa2. Agni sebenarnya bingung juga sama Cakka. Twitter, facebook, e-mail pun nggak dibales. Di-sms-in, tapi nomornya nggak aktif. Agni sampai udah nyerah. Ia sampai berpikir bahwa dengan kepergian Cakka itu menandakan bahwa mereka putus. Tapi, selama kata putus itu nggak keluar dari salah satu mulut mereka berdua Agni pun mencoba berpikir positif
“Kok suasanya angker gini sih. Udah ah, gue ambil gitar dulu ya. Kita nyanyi2.” Semuanya pun mengangguk setuju.
“Ya udah, gue ambil cemilan dulu di dalam. Ni, temenin gue ya.” Agni pun menagngguk dan mengikuti langkah Ify ke dapur. Mereka kembali berkumpul di taman dan mulai bernyanyi. Dari lagu balonku ada 5, pelangi2, sampai semua lagu juga mereka embat.
“ya udah, kayaknya dari tadi nyanyi bareng2 deh. Gimana kalo nyanyi sendiri2? Kita hompimpa deh.” Seru Iel dan semuanya pun mengangguk setuju
“Lha? Kok gue sih yang pertama?”dumel Rio “Ya udah deh. Gue persembahin lagu ini buat siapa aja, tapi terkhususnya sih buat Ify.” Kata Rio sambil nyengir kuda
Melihat tawamu, mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku Warna2 indahmu
Menatap langkahmu, meratapi kisah hidupmu
Terlukis jelas bahwa hatimu,
Anugrah terindah yang pernah ku miliki
                Sifatmu nan slalu redakan ambisiku
                Tepikan khilafku dari bunga yang layu
                Saat kau di sisiku kembali dunia ceria
                Tegaskan bahwa kamu
                Anugrah terindah yang pernah ku miliki
Belai lembut jarimu sejuk tatap wajhmu
Hangta peluk janjimu

Alvin
hello teman semua
ayo kita sambut, hari baru telah tiba
apa yang kurasakan, ku ingin engkau tahu
dan berbagi bersama

buka kita buka hari yang baru
sebagai semangat langkah ke depan
jadi pribadi baru
buka kita buka jalan yang baru
tebarkan senyum wajah gembira
damai suasana baru
bukalah bukalah semangat baru
bukalah bukalah semangat baru
bukalah bukalah semangat baru

coba diam walau hanya tuk sejenak,
dengarkan kata dari s’gala yang ku ucap,
ku jelang pagi ini nikmati damai di hati,
dalam waktu penuh arti karena aku dicintai,
ku ingat kemarin suasana tak bersemangat,
namun kini ku jalani dan semua rasanya tepat,
bersama kita coba wujudkan harapan,
membuka jalan dalam ‘gapai setiap tujuan.

mentari bersinar selalu
ini yang ku minta penuh semangat tertawa
bersamamu teman semua
karena ini saatnya kita nyanyi bersama

buka kita buka hari yang baru
sebagai semangat langkah ke depan
jadi pribadi baru
buka kita buka jalan yang baru
tebarkan senyum wajah gembira
damai suasana baru

dengarkan hatimu, pastikan pilihanmu
esok mentari kan datang, bawa sejuta harapan
kita jumpa di sana, berbagi bersama
dan kita tahu, pelangi yang satukan kita


Shilla
Terdalam yang pernah kurasa
Hasratku hanyalah untukmu
Terukir manis dalam renunganku
Jiwamu... jiwaku menyatu

Biarkanlah kurasakan
Hangatnya sentuhan kasihmu
Bawa daku... penuhiku
Berilah diriku kasih putih
Di hatiku

(Ku datang padamu kekasihku)

Kucurahkan isi jiwaku
Hanyutkan daku
Dalam air hidup
Kau bawa slamanya
Diriku

(Peluk aku oh kasihku)
(Taburiku dengan cinta)



Iel
Hamparan langit mahasempurna
Bertahta bintang2 angkasa
Namun satu bintang yang berpijar
Teruntai turun menyapaku
                Ada tutur kata terucap ada damai yang ku rasakan
                Bila sinranya sentuh wajahku
                Kepedihanku terhapuskan
Alam rayapun semua tersenyum
Merunduk dan memuja hadirnya
Terpukau aku menatap wajahnya
Aku merasa mengenal dia
                Tapi ada entah di mana, hanya hatiku mampu menjawabnya
                Mahadewi resapan nilainya, pencarianku pun usai sudah


Via
Adakah waktu yang tak terbatas
Untukku merasa bahagia
Saat2, aku jatuh cinta
Saat ku terbang jauh ke sana
*Selalu denganmu kasihku selamanya
                Selalu denganmu cintaku bersama
Kaulah matahari dalam hidupku
Dan kaulah cahaya bulan di malamku
Hadirmu selalu akan ku tunggu
Cintamu slalu akan ku rindu
                Back to *
Oh Tuhan tetapkan rasa cintaku ini hanya untukmu,
Selalu setia slama-lamanya...hoo...

Ify
Somewhere over the rainbow
Way up high
In the land that I heard of
Once, once in a lullaby

Somewhere over the rainbow
Skies are blue
And the dreams that you dare you dream
Really do come true

Someday I'll wish upon a star
And wake up where the clouds
Are far behind me
Where troubles melt like lemon drops
Away above the chimney tops that's where you'll find me

Someday I'll wish upon a star
And wake up where the clouds
Are far behind me
Where troubles melt like lemon drops
Away above the chimney tops that's where you'll find me

Somewhere over the rainbow
Skies are blue
And the dreams that you dare to dream
Really do come true

If happy little bluebirds fly
Above the rainbow
Why, oh why, can't I
Agni
Dirimu, tak pernah menyadari
Semua, yang telah kau miliki
Kau buang aku tinggalkan diriku
Kau hancurkan aku seakan ku tak pernah ada
                *Aku kan bertahan, meski takkan mungkin
                Menerjang kisahnya, walau perih, walau perih
Salahkah, aku terlanjur cinta
Berharap, semua kan kembali
Kau buang aku, tinggalan diriku
Kau hancurkan aku seakan ku tak pernah ada
                Back to *

Ketika Agni bernyanyi semuanya hanya bisa menatapnya sendu. Lagu itu benar2 menggambarkan perasaan Agni saat itu.
“Woy, ngapain liatin gue kayak gitu? Udahan..Pulang yuk. ” ajak Agni ketika melihat jam telah menunjukkan 10 malam. Semuanya pun mengangguk. Karena mereka harus siap2 untuk 2 hari lagi sebelum mereka masuk sekolah, maupun yang bakalan ospek.Rio nganterin Agni, Alvin nganterin Shilla dan Iel nganterin Via

@Iel-Via
“Vi, gue pamit ke orang tua lo ya, su..”
“JANGAN.” Potong Via gelagapan “E,em. Maksud gue, ga usah kak. Nggak apa2 kok.” Kata Via.
“ya udah kalo gitu. Gue balik dulu ya.” Iel pun meninggalkan Via yang mematung
‘Fyuuh,, hampir aja ketahuan.’ Batin Via

@ SMA Ganesha
Banyak anak2 berdiri di depan papan pengumuman. Mencari nama mereka, dan segera ingin tau di manakah kelas mereka. Baik dari anak kelas 1 yang baru saja selesai MOS maupun anak kelas 2 dan kelas 3
“Yey, kita sekelas lagi..” ujar Via
“Lo pada yang enak. Gue di IPA 2, sendiri lagi. Sedangkan lo bertiga di IPA 1” omel Shilla
“Iya Shill, gue sedih deh.” Sahut Ify
“Wooy, beda kelas nggak bikin kita jadi pisah dan ngga bersahabat lagi kan? Santai aja kali, belajar bareng, makan bareng, ke kantin juga masih bisa bareng” ucap Agni. Via dan Ify pun mengangguk sambil menatap Shilla yang terlihat kecewa dan sedih.
“Iya, iya..Kita tetap sahabat kok..” kata Shilla akhirnya, dan memberikan senyumannya yang indah. Sejak liburan waktu itu, mereka berempat jadi lebih kompak.
Teng..teng..teng
“Ya udah ke kelas yuk. Istirahat kita ketemu di kantin ya.” Ucap Via ketika mendengar bel tanda masuk telah berbunyi. Ketiga sahabtnya pun mengangguk tanda setuju
@Kelas XI IPA 2
“Ok, anak2. Saya adalah wali kelas kalian yang baru. Tanpa saya perkenalkan lagi, kalian sudah tau kan?” tanya Pak Duta yang merupakan guru seni mereka
“Iya pak..” seru anak2 itu kompakkan.
“Oh ya, hari ini kita kedatangan 2 orang teman baru. Ayo kalian berdua masuk.” Panggil Pak Duta pada kedua anak baru itu.
“Selamat siang semuanya. Namaku Zahra Damariva. Kalian cuup manggil aku Zahra aja. Aku pindahan dari Bandung. ”
“Aku, Septian Putra Manuel. Pindahan dari Bandung juga.  Panggil aja Tian. Aku sepupunya Zahra.”
“Ok. Zahra kamu duduk di sebelah Shilla. Dan Septian kamu duduk di belakang Shilla, di sebelah Irsyad.” Mereka berdua pun mengangguk dan menuju ke tempat yang telah ditunjukkan pak Duta.
“Gue Zahra..”
                “Gue Shilla.”
“Semoga kita bisa jadi sahabat ya..” Shilla hanya tersenyum menanggapi pernyataan Zahra itu. Anak laki2 di dalam kelasnya pun tak henti2nya menatap Zahra yang cantik banget hari itu. Dan Yang ceweknya pada ngeliatin Septian. Sejak kelulusan Alvin, Cakka, Iel dan Rio, membuat sekolah itu jadi kekurangan cowok cakep.

@Frankfurt, Jerman
Anak lelaki itu terpaku melihat gedung yang berada di hadapannya. Mencoba meresapi dan memaknai apa yang ada
“Good. Gue harus terkurung begini di Asrama. No phone, no facebook, no twitter. How a pity! Aargh, gue bisa stress kalo nggak bisa hubungin Agni” dumel Cakka. Ia memang dikirim ayahnya ke Jerman, untuk kuliah di Music College International (MCI). Universitas ini memang paling terkenal untuk musiknya. Cakka nggak ngerti dan nggak tau apa dia bisa bertahan. Asrama disediakan untuk mahasiswa. Tapi tak boleh membawa HP, laptop, dsb.
BRUG....
“Entschuldigung (maaf..)” ujar cewek yang menabrak Cakka tanpa sengaja. Cakka yang nggak terlalu bisa bahasa Jerman hanya bisa mengangguk.
“Hallo. Mein Name ist Zevanna. Ich komme aus Indonesian. Hmm, K  (Hallo, namaku Zevanna, dari Indonesia. Apa anda bisa berbicara dalam bahasa Jerman )”
” Ujar Cakka “But, hei. Lo dari Indonesia kan? Gue juga dari Indonesia.” Kata Cakka yang baru mengingat apa  yang dikatakan Zevanna. Zevanna hanya tersenyum dan tak mebalas apapun yang dikatakan Cakka
“Don’t say, u can not speak Indonesia language?”
“Hmm, bisa kok. Santai aja kali. Gue Zevanna, lo bisa manggil gue Zeze. Gue kuliah di MCI. Kalo lo?”
“Lo udah sebutin nama lo tadi. Gue Cakka. Iya, gue juga kuliah di sini.”
“Ups,, sorry. Kayaknya gue harus pergi dulu deh. Ada yang harus gue urus. Sekali lagi sorry ya buat yang tadi” ucap Zevanna dan meninggalkan Cakka yang kembali merutuki nasibnya ini.

@Kantin
Ify, Agni dan Via duduk menunggu Shilla yang belum juga kunjung datang.
“Sorry gue telat. Biasa ceramah dari wali kelas. Oh ya kenalin, ini teman baru gue di kelas. Baru aja pindah dari Bandung, Namanya Zahra” Mereka pun saling berkenalan,dan mengobrol
“Fy, lo kok pucat sih? Sakit ya?” tanya Zahra
“Nggak apa2. Gue sakit perut doank kok..”
“Ya ampuuuun fy...mag lo kambuh ya?” tanya Agni cemas
“Kayaknya sih Ni. Tapi sakitnya jadi nggak ketulungan gini deh..” jawab Ify sambil meringis kesakitan.
“Ya udah, gue pesan teh manis aja ya 1.” Ujar Via. Ify pun hanya bisa mengangguk lemas.

***********************************
                Shilla kembali menatap jam. Sudah hampir sejam lebih, ia menunggu Alvin. Alvin memang berjanji untuk menjemputnya hari ini. Tapi Shilla sama sekali tak melihat batang hidung Alvin. Sebuah motor cagiva merah berhenti tiba2 di depan Shilla. Shilla mengernyitkan keningnya berusaha menelususri wajah di balik helm full face itu.
                “Mau pulang?” tanya orang itu kemudian membuka helm-nya.
                “Eh lo yan. Iya nih gue mau pulang, tapi lagi nunggu orang.”
                “Siapa? Pacar ya?” tanya Tian yang membuat Shilla hanya tersenyum malu2. “Trus? Dia udah di jalan?”
                “Nggak tau. Dari tadi gue hubungin, tapi nggak aktif HP-nya.”
                “Gue antar ya..” pinta Tian “Ntar lo tinggal bilang sama pacar lo, kalo udah pulang sama teman lo.”
                “Hmm, trus Zahra gimana?”
                “Well, gue spupunya, tapi bukan bodyguardnya. So, gue nggakk perlu nemenin dia terus kan? Lagian rumah gue sama Zahra nggak searah kok.”
                “Emangnya rumah lo searah sama gue?”
                “Hmm, gue nggak tau. Tapi setidaknya gue ngga cukup tega untuk ninggalin teman baru gue yang cantik ini di jalan sendirian.” Shilla yang mendengar pujian dari Septian pun hanya bisa tersenyum “Jadi? Lo mau kan?” Shilla melirik jam tangannya dan melihat ke jalan, mencari kepastian bahwa Alvin emang nggak akan datang. Shilla pun mengangguk setuju, dan segera menaiki motor Tian. Setelah Shilla menggunakan helm yang diberikan Tian, Tian pun menginjak gas membuat Shilla refleks memeluk Tian.
                DEG..’Duh gue kenapa sih?’ batin Shilla dan mecoba menyembunyikan wajahnya yang terasa panas di balik tubuh Tian. Tian hanya tersenyum senang.
               
                @kamar Ify
                Ify menjejaki kamarnya. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
                ‘Damn. Kok sakit gini sih?’ batin Ify. Ia memegang perutnya. Ia mengerang kesakitan ‘Duh nih perut nggak bisa diajak kompromi banget sih. Gue Cuma telat makan dikit doank, udah kayak gini’
                “Fy, makan bareng yuk. Ya ampuun fy, lo kenapa?” tanya Iel cemas ketika melihat Ify terbaring lemas di atas tempat tidur dengan wajah pucat.
                “Mag gue kambuh kali.”
                “Lo tuh kebiasaan banget sih. Mau ke dokter ngga?”
                “Nggak usah. Bentar lagi juga udah baikan kok. Lo kalo mau makan, makan aja duluan, ntar baru gue nyusul”
                “Ya udah kalo gitu. Gue tinggal dulu ya.” Iel pun keluar dari kamar Ify, dan segera makan. Setelah ia makan, ia mengambil HP-nya dan mulai mengetik
                To : Via
                Vi, gue ke rumah lo ya.
                From : Via
                Jangan kak!
                To : Via
                Kenapa?
                From : Via
                Gue lagi keluar sama mama
                To : Via
                Oh ya udah. Kalo gitu kapan2 aja deh.
                From : Via
                Iya kak, maaf ya.

                ‘Kok Via jadi aneh sih akhir2 ini?’ batin Iel            

                @rumah Via
                Baru saja Via meletakkan HP-nya, terdengar teriakan di luar lagi. Via memandang foto yang sempat ia bawa. Foto mama, papa dan dirinya. Walaupun ia anak tunggal, tapi setidaknya ia cukup bahagia dengan keadaannya dulu. Sekarang yang ia dengar hanya bentakan, perkelahian, pertengkaran antara mama dan papanya. Mereka nggak seperti dulu lagi, dan mungkin nggak akan pernah seperti dulu lagi. Kehangatan keluarga, perhatian mama dan papanya sirna saat kejadian itu terjadi. Kejadian yang merenggut semuanya. Kejadian yang sama sekali nggak ia pahami. Kejadian yang ia pikir hanyalah mimpi dan akan terbangun dari mimpi buruk keesokan harinya. Tapi ia tau, ini semua adalah kenyataan. Ia berharap, mereka akan lebih bahagia dari sebelumnya. Namun sayang, semuanya nggak semudah membalikkan telapak tangan. Via kembali meneteskan air mata. Air mata yang nggak ingin dia jatuhkan lagi. Air mata yang ia pikir telah terkuras habis selama beberapa hari ini.
                “Tuhan, apa maksudmu dibalik semua ini?” tanya Via dalam hatinya.
               
@kamar Shilla
Shilla yang baru saja tiba di rumahnya segera merogoh HP-nya dan membaca sms masuk.
                From : Zahra
                Shilla gue pengen curhat nih.
                To : Zahra
                Curhat aja
                From: Zahra
                Tadi bokap gue bilang, gue mau dijodohin gitu
                To: Zahra
                Hah? Serius lo? Emang masih zaman ya, Siti Nurbaya gini? Trus lo mau?
                From: Zahra
                Hmm, katanya sih janji sebagai sahabat, makanya gue udah dijodohin sebelum gue lahir. Hahaha. Klise banget sih. Tapi gue sih emang udah ketemu sama dia. Well, jujur aja, gue suka sama dia. Dia tuh dulu jadi pangeran kecil gue. Walaupun dia cuek banget, tapi dia selalu nolongin gue kalo gue jatuh ataupun  nangis
                To: Zahra
                Cieee, jadi balada cinta nih
                From: Zahra
                Apaan sih Shill
                To: Zahra
                Kenalin dong!!!
                From: Zahra
                Nggak mau ah, ntar lo embat lagi.
                To: Zahra
                Ya elah, lo kan tau gue udah punya pacar.
                From: Zahra
                Yayayay. Gue juga Cuma becanda kok. Ntar aja baru gue kenalin. Dia lagi sibuk banget sih. Btw, siapa nama cowok lo itu?
                To: Zahra
                Alvin. Ok, kenalin ke gue + Ify dan yang lainnya. Siapa nama pangeran kecil lo itu?
                From: Zahra
                Hehehe. Iya baweell...Nathan.
                To: Zahra
                Ya udah kalo lo emang mau. Udahan dulu ya ra, ada yang nelpon nih
                From: Zahra
                Alvin ya? Ya udah kalo gitu, thank’s ya lo mau dengerin gue
                To: Zahra
                Yoyoy..sama2. Bye,,mpe ketemu besok di sekolah.

                “Ya ka..” jawab Shilla melihat nama Alvin yang tertera di layar HP-nya
                “Shill, sorry tadi gue nggak bisa jemput lo soalny gue...”
                “Nggak apa2 kok ka. Lo kan bukan supir gue. Jadi nggak apa2 lah.”
                “Thank’s ya Shill, lo udah mau ngertiin gue. ”
                “Iya kak.”
                “Shill, gue nggak lama2 ya, ada yang harus gue selesaiin”
                “Ok. Met beerja ya kak.”
                “Thank u. Love u SHill”
                “Love u too ka..” Shilla mendesah pelan. Ia berharap akan kuat menghadapi semua ini.

                @MCI
                “Ok class, now we start our lesson today.” Seru seorang guru yang telah berdiri di depan kelasnya itu. Walaupun di jerman, tapi dalam kelas tetap menggunakan bahasa internasional, yaitu bahasa Inggris “Today, I want know your talent. U can singing, playing guitar or piano or whatever you want. So, please come, If i call u name.” Ujar guru mereka itu dan mulai melihat nama2 yang tertera di situ. Ia mulai memanggil satu persatu. Dan semua yang masuk kampus ini, rata2 bisa main 1 alat musik,
                “Zevanna” Zevanna pun maju, mengambil gitar dan mulai bernyanyi.
                Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah
                Kau membuatku akan slalu memujamu
                Di setiap langkahku, ku an slalu memikirkan dirimu
                Tak bisa ku bayangkan hidupku tanpa cintamu
                                Janganlah kau tinggalkan diriku, takkan mampu menghadapi semua
                                Hanya bersamamu ku akan bisa
                Kau adalah darahku, Kau adalah jantungku
                Kau adalah hidupku lengkapi diriku, oh sayangku kau begitu
                Sempurna...

Semua yang ada disitu pun bertepuk tangan
                “Cakka.” Panggil gurunya kemudian. Cakka pun maju ke depan dan mengambil gitar listrik
                “Honestly I just know playing guitar. Singing? Hmm, I hope u don’t close your ears, when hear my voice” Cakka mulai memainkan senar2 gitarnya. Ia jadi teringat Agni yang juga suka main gitar seperti dirinya
                *Saat terhias, hidupku bersamamu
                Ingin tetap menggenggam tanganmu
                Tapi ku tau, kita tak pernah satu
                Arti caramu, mencintaku
                Arti caraku mencintamu
                                Reff : Maaf, ku harus pergi.
Kini ku simpan rasa di hati ini
Back to * -> Reff
Maaf kan pergi lagi
                                Kini ku simpan, kenangan di hati.

Kembali suara tepuk tangan memenuhi ruangan itu. Mereka semua terkagum-kagum dengan penampilan Cakka, walaupun mereka nggak ngerti dari arti yang Cakka nyanyikan. Cakka pun hanya tersenyum dan kembali ke tempatnya yang dekat sama Zevanna
                “Tadi lo  keren banget.” Puji Zeze
                “Makasih. Lo juga kok.”
                “Ah lo bisa aja. Tapi serius, lo nyanyi tadi tuh benar2 dari dalam hati.” Cakka tersenyum miris. Kembali ia mengingat Agni dan rasa bersalah terngiang-ngiang kembali di hatinya. Rasa bersalah karena telah meninggalkan Agni. Rasa bersalah karena ia tak bisa  menepati janji yang ia buat sendiri. Merasa bersalah karena sekarang ini, ia benar2 nggak bisa hubungin Agni dan jelasin semuanya.



************************************************************
3 bulan berlau sudah sejak mereka semua memasuki tahun ajaran baru. Iel, Alvin dan Rio benar2 sibuk sama kuliah mereka. Weekend pun mereka nggak punya waktu buat jalan bareng. Jangankan buat jalan, buat sekedar nelpon atau sms aja udah jarang banget. Kalo Iel, tiap malam selalu ngirim sms buat Via. Selalu menyempatkan waktunya hanya sekedar mengecek kabar Via. Sedangkan Rio Cuma bisa nge-sms atau nelpon Ify waktu weekend doank. Sekali seminggu. Lebih parah lagi Alvin, dia Cuma bisa nelpon Shilla akhir bulan. Kesibukan itu membuat Ify, terkhusus Shilla sebal dicuekin mlulu. Tapi mereka tetap sabar dan mencoba ngerti.
Agni? Selama 3 bulan ini, sama swekali nggka dapat pesan apa2 dari Cakka. Hampir tiap jam Agni mengcek e-mail, sms, FB, maupun twitternya. Berharap Cakka akan ingat, walaupun hanya menulis ‘Halo Ni.’ Setidaknya bukan seperti sekarang. Ia sama sekali nggak tau kabar bahkan keadaan Cakka sekarang. Sejak kepergian Cakka, Agni jadi suka menyibukkan dirinya dengan kegiatan2 yang ia suka. Dari baskset, main gitar, sampai menelusuri gang2 yang nggak jelas ujungnya. Untuk kegiatan yang akhir itu, menurutnya sangat mengasyikkan, memacu Adrenalin. Suatu hari, ketika pulang sekolah, Agni menyusuri sebuah gang tikus. Ketika sedang berjalan-jalan ia dikagetkan dengan suara bapak2 setengah baya
                “Ayo neng, mainnan HP-nya bagus2, murah lagi” tawar bapak itu yang tak lain dan tak bukan adalah pedagang kaki lima di sekitar itu. Agni yang sebenarnya nggak tertarik pun hanya bisa tersenyum. Tapi matanya tertuju pada gantungan HP yang berbentuk Lumba2. Ia memegang gantungan itu, dan memorinya pun terbuka lebar lagi di hadapannya
===========FLASHBACK=================
                “Pengen deh jadi lumba2” seru Cakka ketika sedang berjalan-jalan dengan Agni dan melihat lukisan bergambar lumba2.
                “kenapa?”
                “Mereka terlihat begitu kompak dan selalu bersama kan? Tapi nggak selamanya mereka dalam kelompok. Terkadang mereka terpisah. Walaupun begitu, mereka tetap akan bertemu kembali, karena suara dari seekor lumba2 akan terdengar oleh teman2nya. Suara yang nggak akan pernah dimengerti oleh manusia. Suara dengan frekuensi tertentu yang sebenarnya menyatakan kesedihannya karena sendiri. Setidaknya kalo gue ada di mana, gue bakal bilang kalo gue takut sendiri tanpa lo Ni. ”
                “Hahaha. Cakka, cakka. Sekarang tuh udah tahun 2010. Udah ada yang namanya HP, FB dll. So, lo bisa hubungin gue tiap saat”
=========FLASHBACK END============
                Agni mendesah. Ia sadar kata2nya waktu itu salah. Walaupun udah di tahun 2010, tapi nggak selamanya HP dan FB itu akan berguna untuk mengirimkan pesan.
                ‘Heu..Gue juga  pengen jadi lumba2.’

                @SMA Ganesha
                “Sivia Azizah?” panggil wali kelas IPA 1 “Kamu ikut saya ke kantor.” Semua teman2 sekelasnya menatap Via dengan penuh tanda tanya. Selama ini, ia nggak pernah diapnggil ke ruang guru. Via hanya menunduk dan mengikuti langkah guru di depannya. Sesampainya di ruang guru, Via tetap menunduk.
                “Sivia, kamu tau kenapa say memanggil kamu?” Sivia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya bisa mengangguk “Kamu ada masalah apa? Ini bukan kamu yang biasanya. Kenapa kamu belum bayar uang SPP 3 bulan ini?” Via semakin menunduk, menyembunyikan matanya yang sebenarnya udah siap mengeluarkan air mata. “Kapan kamu mau bayar?”
                “Secepatnya bu.” Jawab Via akhirnya dengan kekuatan sisa yang ia miliki
                “Ya sudah kalo begitu. Kalo tidak, kamu nggak boleh ikut Ujian semester”
                “Iya bu. Saya permisi dulu” Via pun berjalan keluar dari ruangan itu dan segera ke toilet. Ia membasuh wajahnya dengan air. Menutupi air mata yang sudah mengalir.

=============FLASHBACK==============
Ting...tong...
                “Aduuuh, siapa sih yang datang pagi2 begini?” kata mama Sivia. Ia yang sedang sibuk di dapur pun harus keluar dan membukakan pintu. Saat itu Via memang lagi di kamarnya, memakai sepatu. Sedangkan papanya lagi sibuk lihat berita hari ini
                “Selamat pagi..”
                “Selamat pagi. Ada perlu apa ya?”
                “Apa betul ini keluarga Pak Anwar Subroto?”
                “Iya..”
                “Ada apa ma?” tanya pak Anwar, papanya Sivia ketika mendengar keributan di luar.
                “Anda pak Anwar?”
                “Iya. Ada apa ya?”          
                “Kami dari perusahaan Jual-beli barang ingin menyita rumah, mobil, barang2 di dalamnya.  Ini suratnya.” Kata bapak yang datang itu sambil menyerahkan selembar surat yang ditandatangani oleh Pak Anwar
                “Apa maksudnya? Saya hanya berbisnis dann....Aaaargh....Pak, tolong kasih kami waktu untuk meninggalkan rumah ini.”
                “Baiklah kalo begitu. Kami beri waktu 1 minggu dari sekarang. Atau, anda bisa tetap tinggal di rumah ini, jika anda bisa membayar 200 M. Maaf kami mengganggu makan pagi anda, kami pergi dulu.”
                Mama Via cukup shock mendengar semua itu. Tapi ia benar2 nggak mengerti sama permasalahan yang ada. Papa Via lebih merasa shock, karena mermbuat anak dan istrinya harus angkat kaki. Papa Via mengambil HP-nya dan memencet sederet nomor. Tapi, nomor yang dihubungin tak aktif
                “Ma, Pa, kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi” tanya Via ketika mendengar sepenggal percakapan tadi
                “Tanya papa kamu. Mama juga nggak ngerti” sahut mamanya tajam
                “Pa...”
                “Papa akan menceritakan semuanya.” Kata papanya. Beliau menarik nafas sebentar, dan mulai bercerita “Waktu itu papa diajak berinvestasi sama teman lama papa. Teman baik papa di SMA. Dia meminta papa untuk menanam saham di perusahaannya. Karena hasilnya akan dua kali lipat dari sebelumnya. Papa senang sekali mendengar penawarannya. Papa pun menyetujui. Keesokan harinya dia meminta papa menandatangani surat. Katanya surat penanaman saham. Papa sama sekali nggak membaca isi surat itu. Papa langsung percaya dan menandatanganinya. Tapi ternyata........surat itu menunjukkan surat pembalikan nama dari nama papa ke namanya. Sehingga ia bisa saja untuk menjual atau menggunakan rumah itu. Dan ternyata dia memilih untuk menjualnya. Papa mencoba menghubungi dia, tapi sepertinya nomor yang ia kasih itu palsu. Vi, ma, maafin papa. Ini semua kebodohan papa. Coba saja kalo waktu itu papa lebih teliti” ucap pak Anwar penuh penyesalan
                “Memang ini semua salah papa” tuduh mama Via
                “Sudah ma. Sudah pa. Kita kan keluarga, kita hadapi sama2. Papa kan masih bisa kerja di kantor papa itu kan?”
                “Hhh,, maaf vi. Papa dirumahkan sejak kemarin. Krisis di mana2, maka sebagian pegawai pun dirumahkan. ” Mama Via nggak mau lagi dengar apa yang dikatakan pak Anwar. Ia segera ke kamarnya. Via? Ia terlalu kaget mendengar semua berita buruk hari ini. Menangis? Ingin ia lakukan dari tadi. Tapi kalau bukan dia yang menguatkan papa dan mamanya? Siapa lagi? Akhirnya dia mencoba tahan akan tangisannya
                “Tenang ya pa. Papa masih ada tabungan di bank kan? Seingat Via, tabungan nggak disita. Gimana kalo kita kontrak rumah untuk beberapa tahun kedepan, biar kecil tapi bisa buat kita tinggal pa. Berhubung baju2 di sini nggak boleh dibawa, ntar baru beli aja. Yang murah2.”
                “Ide kamu bagus juga Vi.”
                “Ya udah pa. Via ke kamar dulu ya.” Via pun kembali ke kamarnya. Ia mencoba menghentikan air mata yang akhirnya jatuh juga. Ia tak mau pergi ke sekolah dengan mata merah. Tapi, air matanya tetap bergulir.
                Sejak saat itu, keluarga  Via jadi nggak harmonis. Papanya sering sakit, sehingga tabungan sisa mereka Cuma buat penyembuhan papanya. Mamanya sendiri lebih suka pergi dari rumah. Papa dan mamanya juga sering bertengkar, hanya karena hal kecil, seperti ngepel rumah dsb.
=============FLASHBACK END==============
                ‘Hh...Gue udah kerja part time di fastfood. Tapi uangnya pun juga cukup buat makan sehari2 doang. Gimana caranya supaya gue bisa bayar uang SPP?’ batin Via.

                @kantin
                Ify, Agni, Shilla dan Zahra pun menunggu Via dengan cemas. Via memasuki kantin dan mengambil tempat di samping teman2nya.
                “Lo kenapa Vi?” tanya Ify
                “Gue nggak apa2 kok. Tadi Cuma nanya tugas yang belum gue selesain” jawab Via
                “Mata lo kok sembab Vi?” tanya Agni to the point
                “Hah? Masa sih? Gue Cuma kurang tidur doank kok. Begadang, ngerjain tugas. Lo tau kan tugas kita seabrek-abrek. Eh, kapan2 kita ngumpul yuk. Udah lama banget.” Ujar Via mengalihkan pembicaraan ‘Maafin gue ya, gue belum bisa cerita ke kalian semua’ batin Via
               
                @sepulang sekolah
                “Shill,mau bareng gue nggak?”
                “Nggak deh yan, gue nggak enak numpang mlulu tiap hari di lo.”
                “Halah. Gitu doank kok. Mau nggak nih?”
                “Hehe. Nggak kak. Gue lagi ada urusan bentar dulu”
                “Oh ya udah kalo gitu. Gue duluan ya” pamit Tian. Shilla pun mengangguk dan melambaikan tangannya. Shilla membereskan buku2nya dan berjalan ke arah gerbang. Ia nengok kiri sama kanan. Matanya tertuju pada sebuah mobil Jaguar hitam yang sedang terparkir di depan sekolahnya. Tampak seorang Bapak2 turun dari mobil itu dan menghampiri Shilla.
                “Shilla?”
                “Iya om.”
                “Ayo ikut saya.” Kata Bapak itu dan menaiki mobilnya itu. Shilla hanya menurut dan mengikuti. Dia sudah membuat janji dengan bapak yang ada di sampingnya sekarang. Telpon singkat yang ia terima kemarin, cukup membuat ia berani mengatakan ya untuk bertemu sekarang. Ia juga nggak mengerti bagaimana bisa ia percaya begitu saja. Tapi setidaknya, ia nggak mau menyesal nantinya.
                @rumah Via
                Ting...tong...
                Iel berdiri di depan rumah Via. Ia memencet bel berulang-ulang kali. Tapi tak ada satupun orang yang ia lihat. Dia merutuki kebodohannya. Dia lupa untuk nge-sms Via kalo dia bakalan datang. Selama ini, Via selalu minta supaya dia nge-sms Via sebelum datang ke rumahnya. Dan biasanya jika ia sampai, Via udah berdiri manis di depan gerbang rumahnya. Sudah hampir setengah jam, ia memencet bel.
                “Mau nyari siapa den?” tanya bapak2 paruh baya yang sepertinya merupakan satpam tetangga
                “Lagi nyari orang yang punya rumah ini pak. Sivia Azizah!” seru Iel. Bapak di hadapannya pun hanya bisa mengerutkan keningnya
                “Den ini siapanya ya?”
                “Saya teman sekolahnya pak.”
                “Den nggak tau ya, kalo non Via udah pindah dari 5 bulan yang lalu.”
                “Hah? Pindah ke mana pak? Kenapa pindah pak?” Satpam itu pun menceritakan semua hal yang ia tau. “Bapak tau, mereka pindah ke mana?”
                “Kamu ke komples kamboja, rumah nomor 25a.”
                “Makasih pak, saya pergi dulu” pamit Iel. Ia segera menancap gas motornya ke area kompleks Kamboja

                @kamar Ify, malam hari
                Ify berdiri di beranda kamarnya. Ia menatap bintang yang bersinar terang malam itu. Ia benar2 kangen sama Rio. Dia ingin sekali menghubungi Rio, tapi ia takut kalo ternyata ia mengganggu kegiatan Rio. Akhirnya Ify pun mengurungkan niatnya. Ia mulai bernyanyi
                Tiga waktu berlalu, rentang hatiku menyayat
                Wajah kasih yang dulu, hadir dalam tidur
                Malamku penuh mimpi, pertemuan tak terjamah
                Sinar di ujung sana, menerangimu
                Pernah kau berkata, bila ku merindu
                Bicara saja, bintang kan mendengar
                Maka kau kan merasakannya
                Aku tau diri, semua takkan mungkin
                Biarkan saja semua jadi kenangan
                Yang mungkin takkan terlupa sampai kau menua
                Biar saja, hujan di ujung bulan
                Biar jadi saksi hati, betapapun mencinta
                Ini takkan mungkin

                “Ka rio moga kamu tau kalo aku kangen banget sama kamu.”     
                Sementara itu di kamar Rio, Rio pun menatap bintang yang sama. Ia mencoba menghubungi Ify. Tapi nomornya nggak aktif. Akhirnya mereka berdua di tempat berbeda, hanya bisa berbicara lewat bintang, berharap masing2 bisa mendengarkan keinginan dan kerinduan hati masing2.
                “Ify, Ify, gue jadi nggak konsen ngerjain tugas gara2 mikirin lo terus nih fy”

                @kamar Shilla
                Shilla jadi nggak konsen sama buku yang ada di hadapannya. Pikirannya melayang jauh. ‘Apa yang harus gue lakuin?’
                Alvin Calling
                “Ada apa ka?” sapa Shilla dengan lemas
                “Besok lo ada acara nggak?”
                “nggak. Kenapa?”
                “Gue mau ngajak lo ketemu sama bokap nyokap gue. Mereka mau kenal sama lo” kata Alvin bersemangat. Shilla tertunduk lemas mendengar info itu dari Alvin “Hei, Shill. Lo masih di sana kan?”
                “Iya kak.”
                “Jadi gimana? Besok malam, jam 7 gue jemput lo.”
                “Ka..”
                “Ya??”
                “Sebelum ketemu orang tua lo, ada yang mau gue omongin kak.”
                “Ngomong aja”
“Nggak bisa lewat telpon kak. Kita ketemu sekarang di danau tempat lo nyatain perasaan ke gue.”
“Ok, kalo gitu. Gue jemput ya”
“Iya”  Alvin pun mematikan sambungan telpon itu. Shilla hanya tersenyum ketir. Berharap semua akan baik2 saja. Berharap keputusan yang ia ambil bukan sebuah kesalahan. Shilla pun mengganti pakaiannya.
Tak lama kemudian, Alvin udah sampai di rumahnya. Mengetuk pintu dan berpamitan dengan papa Shilla. Shilla dan Alvin pun pergi ke tempat yang dituju. Danau tempat jadian mereka pertama kali, 1tahun yang lalu. Di atas motor Shilla memeluk Alvin kencang, air matanya pun sempat mengalir, dan berharap angin menghapusnya.

@Danau
Alvin menggandeng Shilla, untuk duduk di tempat mereka dulu juga.
“Ka, pernah nggak lo pengen jadi orang lain?”
“Nggak. Gue cukup bahagia dengan kelebihan dan kekurangan gue. Untuk apa kita ingin sama dengan orang lain. Kalo kayak gitu, berarti kita nggak pernah hargain hidup ini.” jawab Alvin “Lo kenapa? Ada masalah?” tanya Alvin lembut
“Nggak. Gue Cuma pengen aja jadi orang lain saat ini. Nggak tau kenapa.”
“when you are wishing to be someone, someone in somewhere wishing to be you.” Ucap Alvin sambil tersenyum dan menatap Shilla. Shilla pun membalas tatapan Alvin lama.
‘Kalo gue nggak bisa jadi orang lain, maka ini semua juga nggak bisa gue hindarin’ batin Shilla. Ia berpaling dan menatap ke arah lain “Gue mau hubungan kita berakhir sampai di sini kak” Senyum yang ada di wajah Alvin pun langsung memudar
                “Maksud lo?”
                “Kita putus” Alvin memegang lengan Shilla. Memaksa agar Shilla menatap matanya. Ia mencoba mencari kejujuran dalam mata Shilla. Dan yang terpancar adalah kejujuran yang sebenarnya begitu tersirat makna lain
                “Lo serius? Kenapa Shill?”
                “gue serius. Kenapa? Lo masih bisa nanya kayak gitu kak? Lo nggak sadar apa? Lo jarang banget hubungin gue. Lo nggak pernah perduli sama keadaan gue sekarang. Tiap kali lo nelpon, pasti lo Cuma ceritain teman2 lo. Lo nggak pernah nanya keadaan gue. Apa gue salah kalo gue nuntut kayak gitu dari cowok gue sendiri?” tanya Shilla
                “Tapi kita kan pernah  janji dulu, kalo lo bakalan tahan sama semua sikap gue”
                “Iya kak. Kita pernah janji, tapi maaf gue juga manusia. Gue juga punya hati. Gue bukan robot yang bakalan terima aja diperlakukan kayak gitu.”
                “Kalo gue berubah, apa lo mau balik sama gue?”
                “Cih..Sekarang kenapa baru lo tanya kak? Kenapa lo nggak pernah berubah dari dulu? KENAPA  SETELAH SEMUANYA TERJADI, LO BARU MAKSAIN KEHENDAK LO?” teriak Shilla tepat di depan wajah Alvin, “Jujur dari dulu gue nggak pernah sayang sama lo. Sayang gue semuanya palsu. Lo tau kan dari dulu di otak gue dan di hati gue Cuma ada ka Rio dan Riko. Gue pikir, dengan adanya lo di samping gue, gue bakal suka sama lo. Tapi ternyata gue salah. Perasaan gue nggak bisa berubah kak. Lagian gue juga udah nemuin yang lebih baik dari lo” ujar Shilla panjang lebar.
                “Siapa? Lo bercanda kan?” tanya Alvin yang shock dengan pernyataan Shilla
                “Lo nggak perlu tau siapa orangnya. Itu kehidupan pribadi gue.” Shilla pun meninggalkan Alvin yang terduduk lemas. Air mata menggantung di sudut mata Alvin. Ia masih merasa ini adalah mimpi. Ia mencubit lengannya berulang-ulang kali. Tapi ternyata ia merasakan sakit. Ini semua memang kenyataan. Ia serasa terhempas dari langit ketujuh. Sakit. Itu yang ia rasakan.

                Alvin berjalan gontai ke rumahnya. Menendang-nendang kerikil yang ada di hadapannya. Ia nggak seperti ini. Ia adalah orang yang suka menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Ia memasuki rumahnya
                “Dari mana Alvin?” tanya mama Alvin. Alvin nggak menjawab, dan ia pergi melangkah ke kamarnya
                “ALVIN JAWAB PERTANYAAN MAMA KAMU” bentak papa Alvin
                “Udah, udah, jangan marah...”
                “Baru ketemu Shilla”
                “Besok jadi kan?” tanya mamanya lembut
                “Nggak” Alvin pun langsung meninggalkan papanya yang masih marah2. Ia masuk dan membanting pintu kamarnya. Matany tertuju pada foto yang ia bingkai dan berada di atas meja belajar. Ia mengambil dan menatapnya. Foto yang diambil ketika dirinya dan Shilla menjadi King dan Queen Promnight.
                “Aaargh.....” Alvin membuang foto yang ia pegang. Ia membuang mahkota yang didapat saat prom itu juga “Omong kosong. Bakalan langgeng apanya? Apa sih maksud lo Shill?” Alvin terduduk lemas di samping tempat tidurnya. Ia benar2 lemah, ia tak ingin percaya apa yang dikatakan Shilla barusan, tapi dia harus. “Kenapa orang yang gue sayang harus pergi ninggalin gue? Dulu mama sekarang LO SHILLA. ORANG YANG PALING GUE SAYANG.” Emosinya benar2 nggak bisa terkontrol. Alvin memukul dinding di hadapannya. Ia benar2 nggak perduli kalo tangannya berdarah. Ia hanya butuh tempat untuk melampiaskan semua rasa di hatinya

                @Iel
                Iel menatap rumah yang di hadapannya sekarang. Berbeda dengan rumah sebelumnya yang besar, rumah ini hanya 1 tingkat. Cukup kecil. Sepertinya hanya ada ruang tamu, 2 kamar, dan dapur. Ia berjalan mondar-mandir. Sudah hampir sejam ia berdiri di depan rumah kecil yang tak ia kenal. Dia bingung apakah dia harus masuk atau nggak. Tapi akhirnya dia mengetuk pintu rumah itu
                “Iya, ada apa ya? Lho nak Iel? Masuk..masuk..”
                “Makasih om, Via-nya ada?”
                “Ada..ada..Via..Via..Ayo keluar”
                “Ya pa..” balas Via dan tiba2 keluar dari kamarnya. Ia terpaku karena Iel ada di sana.
                “Lho kok bingung di situ? Ayo duduk di sini. Papa masuk dulu. Uhuk..uhuk..”
                “Om sakit?” tanya Iel
                “Nggak apa2 kok, Cuma batuk2 biasa. Ayo silahkan ngobrol, om pergi dulu.”
                “Ka Iel? Lo...”
                “Keluar yuk. Gue udah izin kok sama bokap lo.” Via pun hanya mengangguk lemas. Via dan Iel pergi ke bukit.
                “Lo pake aja.” Kata Iel sambil memberikan jaket yang tadinya ia pakai
                “Makasih..”
                “Lo mau jelasin semuanya ke gue?” tanya Iel lembut. Air mata Via kembali mengalir. Nggak tau kenapa, perasaannya jadi lebih sensitif. Iel merangkul Sivia, memberikan kekuatan. Sivia pun menceritakan secara detail apa yang terjadi
                “Maafin gu..gue kak. Gue nggak cerita ke lo, karna gu..gue takut lo pergi ninggalin gue. Gue  takut kali Ify dan lainnya bakal ngejauhin gue.”
                “Hh,, Via..via..Lo kira gue sepicik itu? Lo kira gue suka sama lo karna materi? Lo kira gue bakal ngejauhin lo Cuma karena itu?” tanya Iel yang sekarang sudah berlutut di depan Via “Apapun yang terjadi sama lo, gue tetap sayang sama lo. Please Vi, kalo ada apa2 lo jujur sama gue. Gue nggak suka kalo lo nyimpan semuanya sendiri.” Ucap Iel tulus
                “Ka Iel maaf...” kata Via yang masih menangis, Iel langsung memeluknya
                “Udah..Udah. Lo jangan nangis lagi. Ntar orang2 ngira gue lagi yang bikin lo nangis” kata Iel dan menghapus air mata di pipi Via “Gue mau nyanyi aja deh buat lo...”

Although loneliness has always been a friend of mine
I'm leaving my life in your hands
People say I'm crazy and that I am blind
Risking it all in a glance
And how you got me blind is still a mystery
I can't get you out of my head
Don't care what is written in your history
As long as you're here with me

Chorus:
I don't care who you are
Where you're from
What you did
As long as you love me
Who you are
Where you're from
Don't care what you did
As long as you love me

Every little thing that you have said and done
Feels like it's deep within me
Doesn't really matter if you're on the run
It seems like we're meant to be

Chorus

Bridge:
I've tried to hide it so that no one knows
But I guess it shows
When you look into my eyes
What you did and where you are comin' from
I don't care, as long as you love me, baby.

Chorus

Who you are
Where you're from
Don't care what you did
As long as you love me
(Repeat to fade)
                PLOK...PLOK..
                “Udah lama gue nggak dengar suara lo kak. Tambah bagus aja.” Ujar Via
                “Ya udah, lo udah tenang kan. Pulang yuk. Ntar bokap lo cemas lagi. Ingat kalo ada apa2 lo harus hubungin gue”
                “Iya kak..” Iel pun mengantar Via kembali ke rumahnya.
@Ify
                Tok..Tok..Tok...
                “Masuk aja.” Seru Ify dari dalam kamar
                “Fy, ada yang mau gue omongin.” Kata Iel dan duduk di tempat tidur Ify
                “Serius amat? Ngomong aja kak” Iel pun menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir, nggak ada satupun yang ia lewatkan
                “Aduuh, gue jadi sahabatnya kok nggak peka ya? Pasti Via berat banget nanggung semua ini. Oh ya, waktu itu dia dipanggil sama wali kelas kita”
                “Kenapa?”
                “Dia bilang sih katanya, masalah tugas. Tapi kayaknya sih masalah SPP deh.” Ify mulai berasumsi
                “Coba lo tanya ke wali kelas lo. Kalo bener, kita bantu. Gimana?”
                “Iya, iya. Ntar gue bilang sama yang lain juga deh. Kali aja mereka mau bantu. Oh ya ka, gimana kalo kita minta mama aja.”
                “Buat apa?”
                “Supaya papa Via bisa kerja di perusahaan mama.”
                “Good Idea. Kita ngomong yuk sama mama” Ify pun mengangguk dan turun ke ruang santai mencari Ibu Uci. Ify dan Iel pun menceritakan semuanya dan memohon pada mamanya
                “Kasihan juga ya si Via. Kamu tau nggak fy, papanya kerja di bagian apa?”
                “Hmm, setau aku sih di Ekonomi manajemen gitu ma.”
                “Waah pas banget nih. Mama juga lagi bingung nyari orang buat isi bagian itu. ya udah kalo gitu, ntar kita pergi sama2 ya besok.”
                “makasih ma.” Ucap Ify dan Iel berbarengan

                @kantin
                Hanya ada Ify dan Shilla di kantin. Agni lagi ngurusin basket, Via lagi ke kamar mandi, sedangkan Zahra lagi sibuk nyalin catatan.
                “Shilla!”
                “Ada apa yan?”
                “Ntar pulang bareng kan?”
                “Iya.”
                “Ya udah gue ke sana ya.” Tian pun menjauhi Shilla dan Ify
                “Shill, kok gue perhatiin, akhir2 ini lo jadi sering pulang sama Tian?”
                “Kenapa? Nggak boleh?” tanya Shilla sinis
                “Bukan gitu Shill. Emangnya ka Alvin tau?”
                “Udah deh, lo nggak usah urusin masalah gue..” bentak Shilla.
“Shill, kalo lo ada masalah lo bisa cerita ke gue kok. ” Shilla tak menanggapi Ify lagi dan meninggalkan Ify yang bingung sama sikap Shilla. Ify mengambil HP-nya dan mulai mengetik sms
To : Ka Iel bawel
Ka, gue udah cek ke wali kelas kita. ternyata Via belum bayar uang SPP selama 3 bulan
From: Ka Iel bawel
Lo udah cerita sama teman2 lo?
To : Ka Iel bawel
Blm nih kak. Semuanya lagi sibuk.
From : Ka Iel bawel
Kalo nggak bisa ngomong sama semua sekaligus, ngomongya satu2 aja. Kalo mereka nggak bantu juga nggak apa2 yang penting lo udah bilang sama mereka.
To : Ka Iel bawel
Ok..
To : Shilla, Agni, Zahra
Ntar sore, jam 6, datang ya ke rumah gue. Ada yang urgent dan harus dibicarain. Oh ya, bawa uang sebanyak-banyaknya. Ntar baru gue jelasin

Bersambung...

2 komentar:

  1. Kak,post part lengkap dong dari awal sampe special part ending. Kangen banget sama cerbung ini hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah aku post kok dari cinta piano sampe love is circle part akhirnya. Lihat aja yang di bulan maret tahun 2011.. :)

      Hapus