Senin, 14 Maret 2011

I asked ..... but He give .....

Saya memohon Kekuatan ..... Dan Tuhan memberi saya Kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat
Saya memohon Kebijakan ... Dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.
Saya memohon Kemakmuran .... Dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.
Saya memohon Keteguhan hati ... Dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk diatasi.
Saya memohon Cinta dan Kasih sayang.... Dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.
Saya memohon Kemurahan/kebaikan hati.... Dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan dan tantangan untuk diatasi.
Saya tidak memperoleh yg saya inginkan....... Tetapi ... Saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.

Love is circle (SEKUEL CINTA PIANO) - part 3

                @SMA Ganesha
                Rio mondar-mandir di depan SMA Ganesha. Udah hampir setengah jam lalu, bel pulang telah berbunyi. Namun ia sama sekali tidak melihat sosok Ify keluar dari gerbang sekolah. Ia menelpon, tapi HP Ify nggak aktif. Dia sadar, udah lama banget dia nggak jalan ataupun malam mingguan. Tapi apakah dengan demikian, Ify sama sekali nggak mau mengangkat telponnya sekarang?
                “Agni, Shilla, Via!”
                “Eh, ka Rio..” ucap Agni Shilla dan Via kompakkan
                “Ada apa ka?” tanya Shilla
                “Ify mana ya? Gue telpon ke HP-nya tapi nggak aktif.
                “Lho? Ka Rio nggak tau? Ify kan sakit”
                “Hah? Kok dia nggak ngasih tau gue sih? Trus lo semua tau dari mana?”
                “Nggak sempat kali ka. Tadi Ka Iel yang datang buat izinin dia.” Jelas Via
                “Oh ya udah. Gue mau jengukin Ify. Lo semua mau jenguk dia nggak?”
                “Mau..” teriak Shilla sama Via
                “Hmm, guys, gue nggak ya. Soalnya gue ada urusan sama basket. Ntar malam baru gue jengukin Ify aja. ”
                “Ya udah kalo gitu. Eh gue kan bawa motor, ada yang mau bareng sama gue?”
                “Via aja kak, gue naik ojek.”
                “Beneran nih lo nggak apa2?”
                “Iya, gue nggak apa2.”
                “Lo ikut gue aja Shill.” Shilla yang sebenarnya mengingat dengan jelas suara itu, langsung berbalik.
                “Ka Alvin? Lo bukannya jemput Zahra?”
                “Zahra udah dijemput sama supirnya, dia lagi ada urusan. Lagian gue juga mau ngejenguk Ify.”
                “Tapi...”
                “Ya udah Shill, lo lebih aman lagi sama Alvin daripada naik Ojek.” Ucap Rio yang mebuat Shilla jadi pasrah. Via naik di motor Rio dan Shilla naik di motor Alvin. Alvin langsung menarik tangan Shilla dan melingkarkan di perutnya.
                “Pegangan. Gue nggak mau lo jatuh.” Ucap Alvin. Shilla hanya bisa menggigit sudut bibirnya dan membenamkan wajahnya di punggung Alvin. Ia jadi ngerasa saat2 waktu Alvin masih pdkt sama dia.
                ‘Aduuh,, gue nggak mau kayak gini ka Alvin. Gue takut, kalau gue meluk lo, gue nggak bisa lagi ngelepasinnya. Gue takut rasa sayang gue ke lo nggak pernah bisa hilang.’ Batin Shilla

                @kamar Ify
                Ify merasakan kecupan hangat di keningnya. Ia membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya
                “Ka Rio...”
                “Ify, kamu sakit apa sih? Kenapa kamu nggak bilang sama aku?”
                “Nggak, Cuma maag + demam doank. Maaf ya ka, nggak sempat..Hehehe...”
                “Ya udah kalau gitu. Kamu udah baikan belum?”
                “Lumayan..”
                “Ifyyyyy.....”
                “Via? Shilla? Ka Alvin? Sejak kapan kalian di sini?”
                “Duuh, Cuma ka Rio deh yang diperhatiin.” Goda Via yang membuat wajah pucat Ify bersemu merah
                “Sayangku, lo nggak apa2 kan?” tanya Shilla
                “udah baikan kok gue.” Jawab Ify sambilmengganti posisi untuk duduk.
                “Fy, kamu kurusan ya?” tanya Rio
                “Masa sih? Perasaan kamu aja ka. EH, si Agni mana?”
                “Lagi ngurusin basketnya.” Jawab Via yang membuat Ify hanya meng-oo-kan mulutnya.
                Nggak nyangka,  sejam lebih mereka berlima ngobrol2 nggak ada topik, yang membuat Ify tersenyum dan tertawa dengan lemahnya.
                “Akhirnya aku ada waktu berdua aja sama kamu” ucap Rio ketika yang lainnya udah pada pulang
                “Kamu kenapa nggak pulang?”
                “Ngusir nih ceritanya?”
                “Nggak gitu, tapi aku tau kamu lagi cape banget kan?”
                “Nggak kok, aku mau nemenin kamu di sini.” Ucap Rio dan duduk di tepi tempat tidur Ify
                “Gimana kuliahnya?”
                “Baik2 aja. Eh fy, kamu kan pernah nelfon aku terus kamu bilang pengen nyerah. Emangnya ada masalah apa?”
                “Nggak ada masalah apa2 kok ka.”
                “Kalau kamu ada masalah apa2 cerita ke aku ya. Jangan simpan sendiri.”
                “Iya ka Rio sayangku...” Ucap Ify sambil tersenyum “Ka Rio aku boleh nggak meluk kamu?”
                “Kenapa emangnya?”
                “Pengen aja. Udah kangen banget sih sama kamu.” Rio pun merentangkan tangannya, menerima pelukan dari Ify. Ify hanya diam, begitupun Rio yang merasa aneh dengan sikap Ify. Ify mencoba meresapi semua waktu agar ia mempunyai kenangan2 yang nggak akan ia lupakan sampai ia pergi meninggalkan semuanya. Saat2 seperti ini yang sangat dirindukan Ify. Saat2 seperti ini yang membuat Ify semakin takut menjalani hari esok. Saat2 yang membuat Ify merasa hidupnya nggak akan lama lagi.
                “Ehm..ehm...ngapain lo berdua?”
                “Ah lo yel, ganggu aja. Lagi asyik nih.” Ucap Rio dan melepaskan pelukannya
                PLETAK..Rio langsung mendapat toyoran gratis dari Iel
                “Jangan macam2 lo sama adek gue”
                “Kagak. Nggak bakal gue macam2..Wong kakakknya jahat begini, gue mah nggak berani”
                “Sial lo yo..” Ify hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah 2 orang yang paling ia sayangi
                “Fy, aku pulang dulu ya. Udah malam, lagian kamu juga harus istirahat”
                “Iya ka. Makasih ya.”
                “Jaga kesehatan kamu baik2. Aku nggak sanggup ngelihat kamu sakit gini”
                “Janji deh, aku nggak bakal sakit lagi. Ini yang terakhir.”
                “Bener ya? Awas loh kalau kamu sakit lagi”
                ‘iya ka, ini yang terakhir. Toh nanti juga aku bakal mati, nggak sakit lagi kan?’ batin Ify dan tersenyum pahit memandang Rio
                “Yel, gue jalan dulu ya. Bye...”
“Ka Rio..” panggil Ify yang membuat Rio menghentikan langkahnya “Aku sayang sama kamu kak. Sayaaang banget. Aku nggak mau kehilangan kamu kak.” Ucap Ify yang sebenarnya lemah banget, tapi berusaha sekuat mungkin. Karena ia takut nggak pernah punya waktu untuk ngucapin itu lagi. Rio pun mendekati Ify. Ia kembali mengecup kening Ify dengan lembut
“Aku juga sayang banget sama kamu fy. Piano-mu ini akan selalu ada buat pianistnya” ucap Rio sambil tersenyum dan meninggalkan Ify serta Iel di kamar.
‘Tapi aku yang takut ka, pianist-mu ini yang nggak bisa bersamamu piano-ku. Sampai akhir.. ’batin Ify perih
                fy.. kita harus bicara..” ujar ibu Uci yang masuk ke kamar Ify, setelah Rio pulang.
                “Soal apa Ma? Kalau soal kemo, keputusan aku nggak berubah! Ify nggak mau dan nggak akan mau!” tukas Ify seolah bisa menebak pikiran Mamanya
                “Ify... ini semua demi kebaikan kamu...”
                “Ini semua bukan demi kebaikan Ify Ma! Aku kan udah bilang sama Mama, Kemo hanya menambah penderitaanku dan menunda kematian. Tapi sampai berapa lama? Sampai uang mama  habis?! Sampai rumah ini digadai?! Sampai kapanpun, Ify akan mati juga! Kemo hanya membuat aku semakin sengsara karena bertahan hidup dalam derita penyakit ini!”
                “Ify... kamu kan belum mencoba..”
                “Mencoba apa? Mencoba kemo?! Lalu apa? Membuat rambut rontok, tersiksa dalam pengobatan panjang yang nggak ada akhirnya, ini semua omong kosong Ma!! Aku nggak akan sembuh, aku tahu hidup Ify nggak akan lama, trus kenapa?! Biar Tuhan yang nentuin kapan aku mati!!! Ma... please... yang aku mau, cuma ketenangan. Aku pengen melalui sisa hidup ini dengan kebahagiaan. Melewati hari seperti biasanya, seperti semua orang lain yang nggak sakit kanker. Aku cuma mau bertahan hidup sampe Tuhan ‘manggil’ aku. Dan kalau saat itu tiba, aku hanya ingin nggak ada penyesalan. Aku cuma mau bahagia dan percayalah, kemo nggak akan membuat aku bahagia...”
                Mamanya mendesah, mencoba mencegah air matanya kembali merebak.
                “Ma... aku tahu, Mama sama ka Iel sayang sama aku... tapi... sekali ini aja, biarin aku yang nentuin apa yang ingin Ify lakukan dengan tubuh ini... Aku mohon... jangan buat aku lebih tersiksa...Biarkan aku jalanin semuanya dengan kekuatan Ify... apapun sakitnya, aku nggak akan mengeluh... Please...” Ify semakin mendesak Mamanya. Kini wanita itu malah tak bisa lagi menahan air matanya. Dengan hati yang sesak, Ify memeluk Mamanya. Matanya sendiri basah.
                Aku tahu sejak aku sakit kanker, aku bukan lagi orang yang normal. Tapi, please, biarin Ify merasa menjadi orang normal disaat-saat terakhir hidupku...” bisik Ify. Mamanya memeluk penuh kasih. Tak bisa lagi membantah.       
                “Ify???” HP yang dipegang orang itu jatuh begitu saja dari tangannya. Ia nggak percaya apa yang ia dengar. Ia  membelalakkan matanya nggak percaya, tapi melihat Ify tersenyum lirihm membuat ia sadar bahwa ini bukanlah suatu lelucon...
                “Mama sama Iel keluar ya..” ucap ibu Uci dan meninggalkan kamar Ify
                “Maaf kalo tadi gue nggak sengaja dengar”
                “Nggak apa2. Ternyata ada yang harus tau juga” sahut Ify
                “Fy, please lo bilang sama gue kalo semua yang gue dengar itu Cuma candaan doank kan? Lo...”
                “Gue kanker lambung” potong Ify cepat sebelum Agni bertanya lebih banyak lagi. Ify pun menceritakan ketika ia pingsan, muntah darah, pergi ke dokter, semuanya ia ceritakan pada Agni.
                “Trus lo nggak mau kemo?”
                “Nggak”
                “Lo nggak sedih? Lo nggak kasihan ninggalin nyokap lo, kakak lo, gue, Shilla dan lainnya, juga ka Rio?”
                “Gue...berat banget waktu tau semua ini. Tapi kanker lambung bukan kayak kanker darah yang ada pendonor sumsum. Ini beda Ni, lagian kemo juga nggak bikin gue sembuh total. Please Ni, ini pilihan hidup gue. ”
                “Tapi kenapa lo nggak cerita sama kita? Kita udah hampir 2 tahun fy temenan, kalo gue nggak setidaknya Shilla yang udah kenal lo sejak SMP. Kenapa lo harus nyembunyiin ini semua dari kita?”
                “Shilla lagi ada masalah sama ka Alvin, lo ada masalah sama Cakka, Via lagi masalah sama keluarganya. Masa iya, gue ngebebanin pikiran kalian hanya dengan penyakit gue?”
                “LO GILA! LO BILANG INI ‘HANYA PENYAKIT’?” bentak Agni yang sebenarnya nggak tau harus bagaimana sebaiknya ia merespon
                “Hahaha. Iya kali. Gue emang udah gila. Ni, please jangan bilang sama yang lain tentang ini”
                “Nggak bisa fy. Mereka juga punya hak untuk tau.”
                “Please...Setidaknya kalau mereka harus tau, gue yang bakal ngomong.”
                “Okay kalo itu mau lo. Tapi lo harus segera bilang sama yang lain.”
                “Thank’s Ni” Mereka berdua kemudian larut dalam keheningan.
                “Sampai kapan?” tanya Agni memecahkan keheningan. Ify mengernyitkan keningnya tanda ia nggak ngerti sama pertanyaan Agni “Sampai kapan,,, lo....bisa bertahan?” sambung Agni walaupun terdengar keraguan dalam suaranya
                “Well, kata dokter kalau gue nggak mau kemo, nggak nyampe sebulan.” Agni nggak tau harus berapa banyak berita buruk yang ia tau hari ini. Agni yang Cuma mau nangis di depan Cakka, pacarnya, akhirnya mengeluarkan air matanya. Ia memeluk Ify lama seolah takut melepasnya.
                “Gue sahabat lo. Kalau ada apa2 lo ngomong sama gue. Cukup gue ditinggalin nyokap, ka Cakka, gue nggak mau lo ninggalin gue juga. Harus berapa kali gue ngerasa kehilangan? Harus berapa kali gue nangis fy?”
                “Lo nggak usah nangis. Gue butuh senyum dan dukungan lo.” Ucap Ify dan menghapus air mata Agni yang mengalir di pipi.
                “Ifyyy...” kata Agni yang mencoba tersenyum walaupun hatinya perih.

                @sepulang sekolah. (di skip ya cerita belajar2nya)
                Setelah beristirahat di rumah 2 hari, akhirnya hari ini dia udah bisa diizinkan masuk sekolah. Sebenarnya ia pengen bangeet masuk dari kemarin, tapi berhubung ia malas berargumen dengan kakaknya, ia pun memutuskan untuk masuk sekolah hari ini saja
“Jalan yuuk,.” Ajak Via
                “Iya, udah lama banget nih kita nggak jalan bareng..”
                “Hmm, maaf ya. Gue nggak bisa.”
                “Yaah fy, lo kok nggak bisa terus sih? Emang ada apaan?” tanya Zahra
                “Gue harus check up. Gara2 gue sakit kemarin, gue disuruh nyokap buat rajin check up.”
                “Kalo gitu lain kali aja deh” ujar Shilla dan disetujui lainnya

                Ify lebih memilih naik metromini ke rumah sakit dibandingkan naik taksi ataupun meminta Iel menjemputnya. Ia sudah cukup membuang banyak uang dengan obat2nya itu dan membayar dokter, karena itu ia nggak mau memanjakkan penyakitnya dengan jemputan ataupun naik taksi. Walaupun ia tau, ia bakal dimarahi sama Iel. Kebetulan metromini yang lewat halte dekat sekolahnya, berhenti tepat di depan rumah sakit, tempat ia harus check up. Sebenarnya ia benar2 malas bertemu dengan dokter Chikko, namun ia Cuma bisa menuruti mamanya daripada, mamanya lebih sedih lagi.
                “Permisi sus. Dokter Chikko-ny ada?”
                “belum datang tuh. Mungkin sebentar lagi”
                “Kalau gitu saya daftar nama aja.”
                “Nama siapa?”
                “Alyssa Saufika Umari”
                “Okay. Tunggu sebentar ya.” Ify mengangguk dan duduk di ruang tunggu. Sambil mendengarkan Ipod, ia pun mulai twitter-an dengan yang lain.
                “Nona Alyssa?” panggil seorang suster. Ify pun melepaskan earphone “Dokter Chikko udah ada di lapangan parkir, anda disuruh menunggu di ruangannya” Ify pun mengangguk dan masuk ke ruangan dokter Chikko. Ia menatap foto keluarga yang ada di meja kerja dokter Chikko. Tempat duduk pasien di ruangan itupun membelakangi pintu masuk

**************
                “Om Chikko!” panggil seseorang ketika dokter Chikko masuk melewati pintu utama
                “Hei, adit. Kok nggak bilang2 sih kalau mau datang?”
                “Hehehe. Tadi kebetulan lewat sini, ya udah aku mampir aja. Sekaligus mempelajari lebih dalam tentang kanker.”
                “Kamu masih tertaik sama kanker?”
                “Iya dong om. Aku kan mau jadi dokter kayak om yang menangani dan menyembuhkan segala macam jenis kanker”
                “Kamu ini ada2 aja..” ucap Dokter Chikko dan berjalan menaiki lift “Mama sama papa kamu gimana? Baik2 aja?”
                “baik kok om” jawab orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Rio. Rio dan dokter Chikko pun keluar dari lift. “Om ada pasien?”
                “Iya, ada.om kasihan loh liat dia. Masih muda, umur 16 tahun tapi sakit kanker lambung.”
                “Hah? Ya ampuun. Kasihan sekali. Dia Cuma beda 2 tahun sama aku, tapi dia harus menerima penyakit menggenaskan itu.”
                “Iya. Kamu mau nggak ketemu dia? Dia ada di ruang kerja om.”
                “Namanya siapa om?”
                “Namanya..”
                “Dokter Chikko maaf, pasien kamar nomor 102 dalam keadaan kritis dok. Tiba2 saja, ia berteriak kesakitan.”
                “Baik, saya akan ke sana. Adit, kamu tunggu aja di ruangan om. Kalau perlu tanya2 aja sama pasien om itu.” Dokter Chikko pun meninggalkan Rio sendiri. Rio menengok kiri dan kanan. Sering banget ia datang ke sini. Hampir semua suster sudah mengenalnya. Bukan hanya karena keponakan dokter Chikko, tapi karena Rio yang tampangnya keren dan suka nyanyi menghibur suster2 di situ. Ia pun membuka pintu ruangan dokter Chikko. Ia melihat sosok gadis berambut panjang yang duduk membelakanginya. Ia pun semakin semangat untuk mengetahui gadis di depannya ini.
                “Si...”
                “Eh, ada adit.” Ucap seorang suster yang kebetulan lewat, membuat Rio menutup pintu ruang kerja om-nya itu.
                “Hai suster Oki.”
                “Udah lama nih nggak datang ke sini”
                “Ah suster bisa aja. Terakhir ke sini kan kemarin sus.”
                “Iya sih, tapi sehari nggak ngelihat kamu tuh rasanya ada yang hampa..”
                “Hahaha...ah suster. Sus, aku mau nanya, itu pasien om Chikko namanya siapa?”
                “Banyak atuh yang jadi pasiennya dokter Chikko”
                “Hmm, bukan. Yang ada di dalam. Kayaknya pasien pertama deh..”         
                “Ooh..gadis cantik itu. Kenapa? Kamu naksir?”
                “Yee, suster. Aku serius nih. Lagian aku juga udah punya pacar kali.”
                “Yaah, patah hati dong aku?”
                “Tuh ada mas Eca, OB di sini”
                “Kamu jangan ngungkit tentang itu dong. Kan bikin aku jadi melayang..”
                “Hahaha. Suster mukanya merah tuuh..” goda Rio melihat suster Oki yang tersenyum malu2. “Eh, namanya siapa sih sus?”
                “Bentar ya saya liat dulu namanya di buku..” kata Suster itu sambil mencari “Oh,, namanya Aly..”
                “Aduuh, maafin saya ya dit. Nggak sengaja.” Ucap Eca yang nggak sengaja menumpahkan kopi ke bajunya RIo
                “Iya nggak apa2 kok mas Eca. Aku ngerti. Grogi kan ngelihat suster Oki.” Eca pun hanya tersenyum cool menanggapi godaan Rio
                “Ya udah, aku bersihin dulu ya, bajuku di kamar mandi.”
                “Sekali lagi maaf ya.”
                “Iya nggak apa2 kok” ucap Rio dan pergi ke kamar mandi.

                @ruangan dokter Chikko
                “Ify, maaf ya lama. Tadi saya harus nanganin pasien yang sakitnya tiba2.”
                “Iya nggak apa2 dok” sahut Ify, yang sebenarnya lagi mendumel di dalam hati
                “Gimana kabarmu Ify?”
“Baik dok.”
“Saya periksa dulu ya.” Dokter Chikko pun mulai memeriksa denyut jantung, tekanan darah maupun scan untuk melihat lambung Ify “maaf fy, saya harus mengatakan ini. Ini lambung kamu. 60% telah digerogoti oleh sel2 kanker yang semakin menjalar. Kalau saja kamu mau di-kemo”
“Hhh, udahlah dok. Nggak usah ngomongin kemo lagi. Saya nggak mau”
“Oke, kalau itu maumu. Saya hanya ingin yang terbaik untuk pasien saya. Obat kamu masih ada?” tanya dokter Chikko. Ify pun hanya mengangguk. “Kalau gitu, saya Cuma mau bilang, kamu harus check up 4x seminggu.” Ify memutar bola matanya tanda ia sebal
“Iya dok. Udah selesai kan dok?”
“Udah..Udah. Kamu boleh pulang kok”
“Kalau gitu saya pulang dulu. Permisi dok.” Ify pun pamit dan keluar dari riuangan dokter Chikko. Dokter Chikko hanya bisa menggeleng-geleng melihat pasiennya satu ini yang luar biasa bandelnya
Tok..Tok..Tok...
“Masuk..”
“Om, pasiennya udah pulang ya?”
“Udah.”
“Yaah, telat dong?”
“Kamu ke mana tadi?”
“bersihin tumpahan kopi. Ya udah kalau gitu om. Aku nggak lama ya, soalnya mau ngerjain tugas kelompomk sama teman2.”
“Ya sudah kalau begitu. Hati2 di jalan”
“Berees om..Aku pamit ya. Daaa oom” pamit Rio dan meninggalkan rumah sakit itu juga
               

                @cafe Melodi Raso
                Ify nggak langsung pulang ke rumahnya. Masih dengan seragam sekolahnya, ia pergi ke cafe melodi raso. Udah 2 gelas es teh manis yang ia habiskan dan telah memesan gelas yang ketiga.           Ify mengambil HP-nya dan melihat sms masuk terakhir yang  ia terima. Sudah dari 1 jam lalu sms itu ia dapatkan
                From : K’Alvin
                Fy, macet. Maaf gue mpe di sana telat.
Dan hampir 2 jam ia menunggu dari perjanjian kemarin. Ia memang membuat janji dengan Alvin sore ini di cafe ini.
                Calling K’Alvin...
                “Ya ka?”
                “Lo di sebelah mana nih?”
                “Di sudut belakang. Arah jam 11 dari tempat lo berdiri” Sambil tetap terhubung, Alvin mencari keberadaan Ify. Matanya pun berhenti mencari ketika Ify melambaikan tangannya. Alvin pun menekan tombol merah di HP-nya, mematikan saluran telpon antara dirinya dan Ify. Alvin berjalan menghampiri Ify
                “Hai fy. Lo udah lama ya?”
                “Bangeeet...”
                “maaf, maaf. Tadi ada urusan bentar di kampus. Pas jalan, ternyata macet.”
                “Iya nggak apa2. Lo pesan dulu ka..”
                “Mas, lemon tea 1 ya.” Ujar Alvin pada salah seorang waittres. “Oh ya, ada apa nih fy lo ngajakin gue ke sini?”
                “Hmm, ada yang mau gue omongin tentang hubungan lo sama Shi...”
                Buka kita buka semangat baru, tebarkan senyum wajah gembira...
                Alvin pun mengambil HP-nya yang berbunyi
                “Bentar ya fy. Hallo, ada apa ma??” tanya Alvin mengangkat telpon yang ternyata dari mamanya. Waittres pun mengantarkan lemon tea yang dipesan Alvin. “hah? Kok nggak bilang sih sama aku sih? Ya udah, dikit lagi aku juga pulang.” Ujar Alvin dan memasukan HP-nya ke dalam saku lagi
                “Duh, maaf ya fy..Maaaaaf bangeet...Setengah jam lagi gue harus pulang.”
                “Aargh.....lo gitu banget sih ka! Gue nungguin lo lama2, eh lo udah mau pulang aja..”
                “maaf fy..Ini juga dadakan. Oh ya lo mau ngomong apa? Hubungan gue?”
                “Iya, hubungan lo sama Shilla. Lo nggak ngerasa aneh kenapa tiba2 Shilla mutusin lo? Lo tau alasan dia mutusin lo?”
                “Gue juga ngerasa aneh sih. Tapi ya udahlah. Dia bilang, dia udah nemuin yang lebih baik. Dia juga ngak pernah sayang sama gue, dia Cuma pelampiasan aja karena Rio yang jadian sama lo.” Ify menggeleng cepat mendengar jawaban Alvin
                “Bukan alasan yang dia kasih ke lo, tapi alasan sesungguhnya.” Alvin mengernyitkan keningnya tak mengerti.
                “Semua alasan yang dia bilang ke lo itu nggak benar. Yang benar adalah...” Ify menggantungkan kalimatnya. Ia sudah janji pada Shilla untuk tidak mengatakannya pada Alvin. Ify sendiri nggak mau kalau Alvin akan marah2 pada papanya, setelah ia tau alasan sebenarnya. Kemudian papa Alvin akan menduga bahwa Shilla yang mengatakannya pada Alvin, sehingga  papanya Shilla bisa saja dipecat. Rangkaian sebab akibat yang ada di benak Ify membuat ia berpikir lagi apakah ia akan mengatakannya pada Alvin. Tapi sebuah alasan kuat tentang kejujuran dan kebahagiaan sahabatnya membuat Ify jadi bimbang seketika. Apalagi Ify tau, ia nggak punya waktu banyak untuk membahagiakan semuanya.
                “Hei fy! Kok bengong? Alasan apa?” tanya Alvin dan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ify
                “Hmm..Gue...Gue nggak bisa bilang ini ka. gue udah terlanjur janji sama Shilla. Tapi lo harus percaya sama gue, kalau sampai detik ini Shilla masih sayang sama lo.”
                Ingin sekali Alvin mempercayai kata2 Ify, namun yang di hadapannya sekarang berbeda. Ia melihat Shilla sedang berjalan bersama Tian melewati cafe.
                “Detik ini? Lo liat deh ke sana...” ujar Alvin sambil menunjuk 1 arah. Ify pun hanya mengikuti arah yang ditunjuk Alvin
                ‘aduuh, mampus deh. Alvin pasti salah paham.’ Batin Ify “Nggak semua yang lo liat itu adalah kenyataan ka..”
                “makasih buat usaha lo yang mau nyatuin gue sama Shilla lagi. Tapi gue rasa itu percuma, karena Shilla udah lebih bahagia dengan Tian sekarang” Alvin menyeruput lemon tea-nya sampai habis. “Gue pergi ya fy. Ada janji antar keluarga gue sama Zahra.” Alvin pun mengeluarkan uang dari dompetnya, membayar harga minum mereka berdua. Ia bangit berdiri dan berjalan ke arah pintu
                “Ka Alvin!”panggil Ify yang membuat Alvin menoleh “gue janji bakal nunjukin alasan sebenarnya kenapa Shilla mutusin lo. Gue Cuma mau lo berdua bahagia. ”
                “Gue tunggu janji lo.” Alvin tersenum tipis dan pergi. Ify frustasi, ia sama sekali nggak tau bagaimana  harus mengatakan itu pada Alvin. Tapi sekuat mungkin Ify menahan rasa stress-nya itu agar penyakitnya nggak kambuh saat ini. Ify pun mengambil tasnya dan segera pulang ke rumah

                @rumah Alvin
                Zahra datang nggak bersama orang tuanya. Kebetulan ia lagi berada di dekat rumah Alvin, sehingga ia pun langsung ke rumah Alvin. Tapi ia nggak masuk, ia hanya berdiri mematung di depan pintu rumah Alvin. Sesuatu obrolan antara papa dan mama Alvin yang sepertinya nggak boleh ia dengar. Namun rasa penasaran di dalam diri membuat kakinya tak mau melangkah menjauhi. Ia mendengar semuanya dengan jelas. Ada rasa aneh yang nggak bisa ia jelasin. Ia sendiri nggak ngerti kenapa ini semua harus terjadi. Ia nggak tau apakah mengetahui hal ini lebih baik, ataukah tidak mengetahui apa2.
                “Zahra?” Zahra tersentak kaget. Ia menutup mulut Alvin yang ada di belakangnya dan menarik tangan Alvin menjauhi ruang tamu.
                “Kenapa sih lo Zah? Narik2 gue?”
                “Ada hal yang mau gue tanyain sama lo..”
                “Nanya apa??”
                “Hmm, lo pernah pacaran sama Shilla?”
                “lo tau dari mana?” tanya Alvin
                “Udah nggak usah nanya balik. Lo cukup jawab pertanyaan gue. Apa iya lo pernah pacaran sama Shilla?”
                “Iya.”
                “Shilla teman gue?” Alvin pun mengangguk.
                “Vin, jujur gue nggak tau harus kayak gimana. Tapi tadi gue nggak sengaja dengar kalo...”
                “Zahra? Alvin? Kok kalian di situ? Ayo kita masuk sama2..”
                “Iya om, tante,.” Sapa Alvin pada ayah dan ibu Zahra ramah. Mereka pun berkumpul dan bercerita di ruang tamu. Mungkin bisa dikatakan hanyalah para orang tua mereka saja yang ngobrol, karnea Alvin dan Zahra hanya diam di tempat duduk masing2 memandangi orang tua mereka bercanda tawa. Alvin sendiri sedang memikirkan percakapan beberapa jam lalu antara dirinya dengan Ify. ‘Apa iya Shilla masih sayang sama gue?’ batin Alvin. Dari lubuk hati yang paling dalam, emang nggak mudah untuknya melupakan begitu saja cinta pertamanya. Gadis yang selalu meberikan nasihat2 bijak. Shilla bukanlah gadis manja, tapi ia hanyalah seorang gadis yang juga membutuhkan perhatian. Alvin tau, ia emang nggak care sama gadis itu beberapa waktu. Tapi apakah hanya itu hingga membuat Shilla memutuskan dirinya?
                Tak jauh berbeda dengan Alvin, Zahra pun sedang sibuk dengan pikirannya. Sibuk mencerna semua yang tak sengaja ia dengar dari obrolan papa mamanya Alvin. Ia bingung, apa harus mengatakan yang sebenarnya pada Alvin atau tetap bungkam tentang rahasia besar itu.
                =========FLASHBACK======
                “Pa, apa iya Alvin bahagia sama Zahra?”
                “Papa yakin 100%. Zahra itu cantik, baik, ramah, pintar, belum lagi orang tuanya yang kaya dan merupakan sahabat lama papa.”
                “Apa kita nggak terlau otoriter dengan Alvin? ”
                “Ototriter bagaimana? Itu semua kan untuk kebahagiaan Alvin juga”
                “Iya mama tau. Tapi mama masih merasa aneh, kok bisa ya Alvin tiba2 putus dengan Shilla?!”
                “Mama mau tau yang sebenarnya?” Mama Alvin memandang suaminya itu tak mengerti “Papa minta Shilla untuk putusin Alvin.”
                “Apa? Papa kenapa begitu? Emangnya Shilla mau?”
                “Papa ancam Shilla dengan pemecatan terhadap papanya. Beruntung sekali papanya Shilla merupakan salah satu bawahan papa.”
                “Pa, kenapa papa bisa sekejam itu? Bagaimana kalau Alvin tau? Dia akan benci sama papa seumur hidupnya.”   
                “Kejam? Itu semua hanya sedkit tindakan yang papa lakukan untuk kebahagiaan keluarga ini. Alvin juga nggak akan tau. Karena papa juga meminta Shilla untuk tutup mulut. Kalau sampai ia membocorkan masalah ini, papa nggak segan2 memecat papanya Shilla.”
                “Tapi pa...” bantah mama Alvin yang merasa kalau suaminya ini telah melakukan kejahatan besar
                “Sudah, mama tenang aja.” Mama Alvin pun hanya bisa mendesah. Ia sendiri nggak tau bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak untuk menyadarkan suaminya ini.
======FLASHBACK END=========

                “Zah..Zahra!” panggil Alvin sambil menggoyang-goyangkan tubuh Zahra. Zahra tersadar dari lamunanya. Ia memandang Alvin sekilas.
                “Lo kenapa?”
                “Nggak apa2”
                “Yakin? Lo nggak sakit?”
                “Nggak”
                “Eh, tadi lo mau ngomong apa di depan?” Wajah Zahra semakin pucat, namun dari matanya terpancar kegelisahan yang begitu mendalam.
                “Nggak ada. Gue ke kamar mandi dulu ya.” Jawab Zahra dan meninggalkan Alvin. Alvin hanya bisa memasang tampang bingungnya. Setelah membasuh wajahnya, Zahra menatap pantulan wajahnya di cermin. ‘Zahra, apa yang harus lo lakuin??’

                                                                                                *****
                Keesokan harinya....
Bel pulang telah berbunyi sejam yang lalu, tapi Ify belum juga beranjak pulang, padahal udah jam 4 sore.  Ia membaca sekali lagi sms dari Rio yang dikirimkan tadi pagi.
From : Rio ‘My piano’
Fy, ntar plg sklh, kmu jgn langsng plg ya. Aq jemput kamu. J

Tampak beberapa cowok dengan asyiknya bermain basket.  Ify pun keluar dari kelasnya dan segera duduk di samping lapangan basket. Ia tersenyum tipis mengingat kakaknya yang dulu suka bermain di lapangan ini.
                “Ify!” Ify pun mencari asal suara yang memanggilnya “Ada yang mau gue omongin sama lo. Lo bisa kan? Tapi nggak di sini. Kita ke kelas lo aja.” Ify hanya menurut dan mengikuti Zahra. Ia tidak bertanya apapun atau mengeluarkan suara sedikit pun. Padahal, ia sendiri tidak mengerti apa yang ingin dibicarakan Zahra
                Sesampainya di kelas Ify duduk di tempat duduknya dan mengajak Zahra untuk duduk di sebelahnya
                “Ada apa?” tanya Ify akhirnya
                “Lo harus jawab semua pertanyaan gue dengan jujur.”
                “Iya.”
                “Alvin pacarnya Shilla, sama dengan Nathan tunangan gue kan?” Ify menelan ludahnya. Ia sendiri tidak tau harus menjawab apa. “Jawab yang jujur fy. Please, gue mohon...”
                “I..Iya” jawab Ify ragu2
                “Shilla mutusin Alvin bukan karena dia ngerasa nggak cocok kan?”
                “I..Iya”
                “Aaargh....gue jadi sahabat kok nggak peka banget sih. Gue ngerasa jadi orang ketiga antara hubungan Shilla sama Alvin. Mana gue jodoh2in Shilla sama Tian lagi. Padahal Tian nggak ada perasaan apa2 sama Shilla. Aduuuuh.,, Zahra bego..bego..bego..” ucap zahra memarahi dirinya sendiri
                “Emang lo tau dari mana ra?”
                “Kemarin, waktu gue ke rumahnya Alvin, gue nggak sengaja dengar omongan papa sama mamanya Alvin. Papanya Alvin, cerita semuanya tentang putusnya Alvin dan Shilla. Btw, kenapa lo nggak cerita sama Alvin?”
                “Kita udah janji sama Shilla, buat nggak ngomongin hal ini ke siapa2. Kita takut, papanya Shilla bakal dipecat.”
                “Jadi, kalau gue yang ngomong ke Alvin, semuanya bakal baik2 aja kan?”
                “Nggak. Bisa aja, papa Alvin tetap mikir kalau Shilla yang bilang ke lo.”
                “Atau gue putusin hubungan pertunangan gue sama Alvin aja, gampang kan?”
                “Nggak segampang yang lo pikirin. Malahan, kalo lo mutusin Alvin, papanya akan berpikir kalau Shilla yang menghasut kalian bedua.”
                “Duuuuh, jadi gimana dong? Gue nggak mau jadi penghancur hubungan orang.” Ify terdiam, memikirkan cara terbaik agar Alvin tau masalah ini.
                “Gue ada ide.” Cetus Ify tiba2
                “Gimana?”
                “Kita buat Alvin yang dengar sendiri dari papanya dan bukan dari kita.”
                “Gimana caranya?” Ify tersenyum dan membisikan sebuah rencana pada Zahra
                “Okay. Gue setuju. Ya udah kalau gitu, ntar lo smsin gue aja tempat, dan waktunya.” Ify pun mengangkat jempolnya tanda setuju.
                Drrt..drrt...
                From : Rio ‘My Piano’
                Fy, kamu di mana? Aq udah ada di depan sklhmu..

                “Zahra, gue jalan duluan ya..”
                “Rio ya? Cieeee yang mau jalan berdua..” goda Zahra.
                “Udah ah, gue pergi ya. Byee...” Ify pun meninggalkan Zahra sendirian di kelas. Ify berjalan ke depan sekolahnya. Celingukan mencari Rio
                “Hei Fy.” Panggil Rio
                “Hai. Tumben kamu jemput?”
                “Aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat.”
                “ke mana?”
                “Ada deh...Rahasia..” ujar Rio dan menaiki motornya “Ayo naik, kita pergi sekarang.”
                “Eh, ka udah izin sama ka Iel belum?”
                “Kenapa? Takut aku apa2in ya?” tanya Rio sambil tersenyum nakal
“Ih, apaan sih ka Rio...”
“Hahaha...tenang aja my pianist. Tante Uci juga udah izinin kok.” Ucap Rio sambil mengacak-acak rambut Ify. Ify hanya tersenyum tipis dan naik ke atas motor Rio. Tanpa diminta, Ify melingkarkan tangannya di pinggang Rio, seolah takut kehilangan Rio untuk selamanya. Rio sendiri hanya tersenyum.
Sesampainya di sana, Rio memarkirkan motornya sedikit jauh.
“Fy, aku tutup ya matamu” ujar Rio sambil mengikatkan kain hitam
“Aduuh, ada apaan sih ka. Kok tutup mata segala?”
“Tenang aja. ” Rio pun menuntun Ify ke tempat yang dituju. Ia membuka penutup matan itu, dan Ify membuka matanya, mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya remang2 di sekitar. Ify terpaku menatap yang ada di hadapannya. Bentangan kebun teh, kebun strawberry dan pepohonan hijau menyelimuti seluruh tanah di hadapannya. Langit senja saat itu melengkapi keindahannya. Ify menatap jam di tangannya. Pantas saja, sudah jam 6 lewat.
“Sebenarnya aku mau ngajakin kamu ke kawah putih, Cuma nggak jadi mengingat tempatnya jauh banget. Jadi aku Cuma ngajakin kamu ke sini aja.”
“Ya ampuun ka, ini aja tuh kereen banget tahu.”
Tiba2, di tengah2 kebun teh terlihat lampu yang menyala
Happy b’day Ify
Ify semakin menganga melihat pemandangan itu.
“Happy birthday honey.” Ucap Rio sambil mengecup kening Ify lembut 
“Ulang tahun? Hei tanggal berapa sekarang?”
“tanggal 27” (aduh, maaf ya aku nggak tau tanggal ulang tahun Ify yang sebenarnya.)
“Ya ampuuuuuuun, aku sama sekali nggak ingat, abisnya nggak ada yang ngucapin selamat ulang tahun sama aku sih..” ucap Ify cmberut
“Hei, jangan cemberut dong..Aku bikin ini semua supaya kamu senang”
“Iya, iya, makasih ya ka..Tapi aku mau bilang, lampunya kurang kelihatan tuh kak. Lagian nyalain lampu, jam 6 sore. Masih teranglah..” protes Ify. Kali ini giliran Rio yang cemberut “Hahahaha...ka Rio cemberut nih yee...Becanda kak..aku bahagiaaaaa banget hari iniiii. Ternyata ka Rio mau aja ngelakuin hal ini buat aku. Padahal kamu kan sibuk bangeet”
“Buat kamu apa sih yang nggak?” ucap Rio sambil mencubit hidung Ify
“Huuuh, gombal...” Mereka berdua pun memandangi alam yang indah itu. Hasil karya Tuhan yang begitu sempurna. Ify menyenderkan kepalanya di bahu Rio. ‘Setidaknya, kalau aku meninggal besok, aku akan selalu mengingat hal indah ini.’
                “Fy, pulang yuk. Udah malam. Ntar aku ditabok lagi sama Iel”
                Ify hanya terkekeh dan berjalan di samping Rio yang menggandeng tangannya erat.

@rumah Ify
                “Ka Rio, kamu mau masuk nggak?”
                “Iya, aku mau pamitan dulu sama tante Uci. Nggak enak udah nyulik anaknya sampai malam” ucap Rio dan mengikuti Ify masuk ke rumah. “Kok gelap sih fy?” tanya Rio ketika melihat keadaan rumah Ify.
                “Nggak tau nih ka.” Rio dan Ify pun berjalan ke arah ruang makan.
                JEDER....
                “Happy birthday to yu, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you..” Ify kaget melihat Agni, Shilla, Zahra, Via, Iel, mamanya berdiri di sana dan menyanyikan lagu happy birthday untuknya ditemani sebuah blackforest cake dengan lilin angka 17 di atasnya.
                “Fy, kok bengong?” tanya Shilla
                “Gue kira semuanya lupa sama ulang tahun gue.. Walaupun gue sendiri juga lupa sih. Hehehe..”
                “Nggak mungkinlah adikku sayang..Lo orang yang paling special buat kita. Iya nggak?” Semuanya pun mengangguk serempak. “Apalagi Rio. Dia mau ngajakin lo malam2, Cuma gue nggak izinin, makanya dia bela2in perginya sore, terus kita di sini siapin hal yang lain.”
                “Eh, jangan ngobrol dulu. Tiup lilinnya dulu dong.” Ucap tante Uci. Ify pun make a wish, meniup lilin, memotong kue ulang tahunnnya, membagi-bagikannya, kemudian mereka semua pesta barbeque di dekat kolam renang. Bernyanyi bersama, bercanda, tertawa tanpa ada beban.
                “Malam..Rame banget nih, gue boleh gabung?” Keramaian itu pun hilang seketika. Sepi dan hening menyelimuti semuanya. Tak ada yang berkutik maupun mengucap apapun. Semuanya sibuk dengan pikiran masing2. Seseorang di antara mereka mencoba menyamakan pikiran dan perasaannya. Tak tau apa yang harus dilakukan. Sedangkan seseorang yang lain lagi tersenyum.
                “Kok pada diem sih? Nggak ada yang kangen sama gue nih?” tanya orang itu lagi sambil trsenyum manis
                “Fy, gue pulang dulu ya..” ujar Agni mengambil tasnya pergi
                “Ka Cakka, kejar Agni..” kata Via. Cakka pun berlari meninggalkan rumah Ify
                “Kok Cakka bisa ada di sini?”tanya Iel berharap ada salah satu dari mereka yang menjawab
                “Gue sempat chatting sama dia. Kebetulan dia lagi libur. Makanya gue minta dia balik ke Indonesia untuk jelasin semuanya ke Agni. Gue nggak mau hubungan mereka berdua ngegantung nggak jelas. Tapi gue juga nggak tau kenapa dia bisa ada di rumah kita kak. Gue mintanya sih supaya dia langsung ke rumah Agni” Ujar Ify panjang lebar
                “Emang gimana ceritanya sih, dia bisa pergi gitu aja, dan nggak pernah hubungin Agni sama sekali?” tanya Shilla. Ify pun menceritakan semuanya yang pernah Cakka jelasin buat dirinya
                “Tapi kok lo bisa chatting sama dia fy?” tanya Via
                “Kebetulan. Kakak sepupuku, ka Rizky temenan & sekarang udah pacaran sama ka Zeva. Ka Zeva itu temannya ka Cakka di sana. Dari Indonesia juga. Terus gue hubungin ka Rizky, kebetulan banget ada ka Cakka. Ya udah kita berdua chatting gitu.. ”
                “Kok kamu nggak pernah cerita sama kita?” tanya Rio
                “Aku mau bikin surprise buat semuanya. Lagian kalau ka Cakka nggak jadi datang, terus aku bilang ka Cakka datang, kan aku kayak memberikan harapan palsu buat Agni” Semuanya pun mengangguk dan mencoba meresapi keadaan yang baru saja terjadi.
                “Tapi lo yakin fy, mereka bakal balikan lagi?” tanya Shilla
                “Hmm, liat aja nanti”

---------------------->
                Cakka masih berlari mengejar Agni yang sedari tadi menghindar darinya. Agni sendiri ingin sekali menghentikan taksi atau apa saja yang lewat di sana. Namun sayang, tak ada satupun kendaraan yang lewat malam itu.
                “Agni tunggu. Dengar penjelasan gue dulu..” teriak Cakka. Agni tetap tidak menggubris Cakka.
                “Please..dengerin gue dulu..” ujar Cakka ketika berhasil memegang tangan Agni, dan menghentikan lari Agni
                “Untuk apa gue dengerin lo? Lo pergi ninggalin gue 2x. Lo nggak ngomong apa2. Lo  biarin gue sendiri di taman saat itu. Lo bikin gue ngerasa bersalah, karena mikir lo marah sama gue. Nggak 1 haripun terlewat Cuma mikir kenapa lo nggak ninggalin pesan apa2. Sekarang, lo datang dengan senyuman seolah nggak terjadi apa2. Seolah lo baru menghilang kemarin. Seolah semuanya baik2 saja. Lo tega Cakk, Gue benci sama lo..” ucap Agni yang mulai mengeluarkan air mata. Cakka yang masih memegang tangan Agni pun menarik Agni ke dalam pelukannya, mengusap kepala Agni, mencoba menenangkan amarah maupun tangisan Agni.
                “Gue tau, gue salah. Gue mau lo dengerin penjelasan gue.” Cakka pun menjelaskan mengapa ia sama sekali nggak bisa menghubungi Agni dan bagaimana ia bisa ada sekarang di Jakarta. “Gue minta maaf Ni. Tapi itu semua terserah lo aja. Semuanya ada di tangan lo. Lo nggak mau maafin gue ataupun nggak mau hubungan kita berlanjut..............gue terima Ni”
                “Jadi lo mau kita putus?” tanya Agni mendorong pelan tubuh Cakka.
                “Bukan gitu Ni. Gue nggak mau banget hubungan kita berakhir. Tapi kalo menurut lo itu yang terbaik, gue nggak bisa ngomong apa2. Gue nggak mau paksain perasaan lo. Gue nggak mau maksain keadaan..” ujar Cakka lembut dan mendekatkan dirinya lagi pada Agni, menghapus sisa air mata di pipi Agni
                “Apa iya, hubungan kita masih harus dipertanyakan? Dengan semua keadaan yang udah kita lewati, gue rasa......gue nggak bisa tanpa lo Cakka.” Jawab Agni sambil tersenyum.
                “Makasih Ni..” balas Cakka sambil memeluk Agni
               
Keesokan harinya...
                Ify menatap wajahnya berkali-kali di cermin. Ia menata rambutnya dan merapikan short dress yang ia pakai berkali-kali. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya
                ‘Masalah Via sama Ka Iel udah selesai, masalah Ka Cakka sama Agni juga udah selesai. Tinggal yang satu ini. Setidaknya gue harus meluruskan masalah yang ada, sebelum gue pergi untuk selamanya.’ Batin Ify, kemudian mengambil tas slempangnya dan pergi

                @Restoran
                Ify memasuki sebuah restoran mahal. Ia bertanya sekilas pada seorang waittres yang kebetulan lewat. Waittres itupun menunjuk ke satu arah. Ify berjalan ke arah yang ditunjukkan tadi. Ia sudah membuat janji kemarin via telpon dengan orang ini.
                “Selamat Siang.” Sapa Ify ramah dan memamerkan senyum manis yang ia miliki
                “Siang!”
                “Betul anda Pak Chris?”
                “Iya. Kamu pasti Alyssa?” ujar bapak itu
                “Iya pak. Panggil aja Ify”
                “Ayo, ayo silahkan duduk.” Ujar bapak itu mempersilahkan Ify duduk “Sepertinya wajah kamu familiar.”              
                “Waktu itu saya datang ke acara pertunangannya Alvin.”
                “Temannya Alvin?”
                “Iya pak.”
                “Orang tua kamu kerja di mana?” tanya Pak Chris yang merupakan ayah Alvin, sinis.
                “Papa direktur BI, tapi beliau udah meninggal. Mama, pengusaha di PT Vernon Persie”
                “Wow...perusahaan asing yang sangat terkenal di jakarta. Siapa nama mama kamu?”
                “Uci om”
                “Ibu Uci? Ya ampuuun, itu adalah partner kerja om. Perusahaan mamamu itu, memegang 50% shaam di perusahaan om. Oh ya, panggil saja om.” Sahut Pak Chris dengan senyuman paling manis

                “Om udah pesan?”
                “Belum. Om tungguin kamu. Ayo kita pesan.” Waittres pun dipanggil. Ify dan papanya Alvin segera memesan makanan
                “Jadi, ada apa yang ingin kamu bicarakan sama om.”
                “Om kenal dengan Shilla kan?”
                “Oh, anak itu. ” dengan nada meremehkan “Kenapa dengan dia? Jangan bilang kalau kamu sahabatnya?”
                “Hahaha..om ini aneh2 aja deh. Masa iya, aku temenan sama Shilla yang status ekonominya nggak sederajat sama aku.”
                “Hahaha. Bagus. Kamu ternyata pintar juga dalam memilih teman. Aneh kenapa Alvin bisa suka sama dia.” Waittres datang membawakan pesanan mereka berdua “Ayo dimakan dulu fy.”
                “Aku juga nggak ngerti. Padahal banyak gadis kaya di sekolahku yang tergila-gila sama Alvin. Aku senang, ketika dengar acara pertunangan Alvin dengan Zahra. Mereka sangat serasi.”
                “Iya, iya. Karena itulah om menjodohkan mereka.”
                “Tapi setahu aku om, Alvin itu sayang banget sama Shilla. Kok bisa sih Alvin tiba2 tunangan sama Zahra?” Pak Chris mengernyitkan dahinya, berpikir apakah ia harus jujur atau tidak “Eh, kalo om nggak mau cerita juga nggak apa2 kok. Aku Cuma...”
                “Om akan cerita semuanya. Om minta Shilla buat mutusin Alvin. Kalau sampai Shilla nggak melakukan hal itu dan ia menceritakan perjanjian om dengannya pada Alvin atau yang lainnya, papa Shilla akan om pecat.”
                “Jadi om pakai ancaman supaya Shilla putus sama Alvin?”
                “Om pintar kan?”
                “Pintar banget..Aku nggak nyangka kalau papa kayak begitu” ujar Alvin yang ternyata berada di belakang papanya
                “A...Alvin? Sejak kapan kamu di situ?” tanya papa Alvin gelagapan
                “Sejak awal. Aku pergi. Makasih Fy.” Alvin pun pergi meninggalkan papanya
                “Ka..Kamu? Apa maksudmu?” ujar papanya Alvin pada Ify
                “Aku sahabat Shilla om. Sengaja aku buat semua ini supaya Alvin dengar sendiri dari mulut papanya dan bukan dari siapa2.”
                “KAMU! Lihat saja, papa Shilla akan saya pecat.”
                “Oh...mau dipecat om?” tanya Ify sambil tersenyum penuh kemenangan “Silahkan aja. Tapi sepertinya om harus ingat, kalau mamaku memegang 50% saham di perusahaan om. Jadi mamaku juga harus turut andil dalam pengambilan keputusan”
                “Aargh...dasaar...Kamu..” kata papa Alvin dan mengangkat tangannya hendak menampar Ify
                “Jangan om....Aku mohon, om jangan menghalang-halangi hubungan Alvin. Biarin Alvin bahagia om” ujar Zahra
                “Zah..Zahra?”
                “Iya om. Aku, dan Ify yang nyusun pertemuan ini. Aku juga ingin agar Alvin tau yang sebenarnya. Karena itu, kami juga menceritakannya pada Alvin.”         
                “Tapi Zahra..”
                “Aku juga nggak mau bersama dengan Alvin, tapi hati Alvin bukan buatku om. Ayo fy, kita pergi.”
                “Selamat siang om. Makasih buat makan siang yang menyenangkan ini. Oh ya, aku Cuma mau bilang, nggak enak banget kalau pakai kekuasaan dan kekayaan untuk menentukan kehidupan orang lain. Tapi tenang aja om, aku nggak akan menggunakan cara licik kayak om kok” kata Ify dan pergi bersama Zahra.

                Alvin memacu motornya lebih cepat dari biasanya. 160 km/jam. DI pikirannya ia hanya ada Shilla dan hubungannya yang tiba2 putus begitu saja. Ia masih tak habis pikir bagaimana ayahnya begitu otoriter di dalam hidupnya. Ia masih tak habis pikir, emngapa ayahnya begitu ikut capmur dalam hidupnya. Ingin menentukan mana yang baik buatnya, padahal hanya untuk kebaikan papanya sendiri. Alvin tak memperhatikan lampu merah yang baru saja menyala.
                BRUUUK...
                Sebuah mobil kijang menabraknya. Tubuhnya terhampas jauh dari motornya.

                “FY, gue telponin Alvin kok nggak diangkat ya? Gue takut dia kenapa2” sahut Zahra panik
                “Mungkin dia lagi di jalan kali. Lo jangan panik gitu dong..”

                Nathan Calling...
                “Hallo, Vin lo di mana? Kok dari tadi gue telponin nggak diangkat?”
                “Maaf, kamu temannya pemilik nomor ini ya?” jawab seorang wanita di sebrang sana
                “I..Iya. Ada apa ya?”
                “Maaf, pemilik nomor ini mengalami kecelakaan motor karena menerobos lampu merah. Dia di bawa ke rumah sakit sumber sehat. ”
                “Makasih mbak atas infonya.” Balas zahra
                “Fy, Alvin kecelakaan. Kita ke sumber sehat ya sekarang.” Ify pun mengangguk dan mengambil hp-nya menghubungi yang lainnya

                @RS
                Zahra, Ify, Shilla, Rio, Iel, Via, Agni, Cakka sudah ada di rumah sakit dari sejam lalu. Sedangkan orang tua Alvin baru saja sampai beberapa menit yang lalu. Alvin masih di ruang ICU. Dokter yang menangani Alvin pun keluar
                “Dok, gimana keadaan anak saya?” tanya Mama Alvin
                “Anda orang tua Alvin?”
                “Iya..”
“Alvin sudah melewati masa kritisnya. Kepalanya terbentur cukup keras dan mengeluarkan banyak darah. Stok darah untuk AB di rumah sakit ini sedang habis, untungnya tadi ada yang mau mendonorkan. Kalau tidak ada pendonor, mungkin anak bapak dan Ibu tidak bisa diselamatkan. Selain itu, terjadi pergeseran tulang di tangan kirinya. Tapi tenang saja, kami sudah membidai tangannya.”
“Apa kami boleh menjenguknya?”
“Sebaiknya tunggu sampai pasien sadar.”
“Kapan Alvin bisa pulang dok?”
“Kalau dalam sejam  ke depan, ia sudah sadar, besok atau 2 hari lagi mungkin ia sudah bisa pulang, kalau keadaannya sudah stabil.”
“Makasih dok” ucap mama Alvin “Siapakah di antara kalian yang mendonorkan darahnya buat Alvin?” tanya mama Alvin dan menatap semuanya satu per satu.
“Sa..Saya tante..” Papa Alvin mendekati Shilla. Shilla yang takut pun hanya bisa menundukkan wajahnya, pasrah terhadap apa yang akan dilakukan oleh papanya Alvin
“Trima kasih banyak Shilla. Makasih. Maafkan sikap om selama ini. Maafkan om yang melarang hubungan kamu dengan Alvin.” Ujar papa Alvin sambil memeluk Shilla. Shilla yang kaget dengan sikap papa Alvin hanya bisa tersenyum tipis. Merasa lega
“Iya, nggak apa2 om.”
“Makasih ya Shilla.” Ucap mama Alvin sambil tersenyum manis. Shilla pun membalas senyuman mama Alvin
“Maaf, permisi. Pasien yang bernama Alvin sudah sadar.”
“Kami boleh jenguk sus?” tanya Iel
“Silahkan.”
Semuanya pun masuk melihat keadaan Alvin.
“Alvin, maafkan papa. Papa salah Alvin.”
“Maafin mama juga Vin..”
“Aku emang sempat marah sama papa. Tapi yang lalu biarkan berlalu. Aku udah maafin papa sama mama kok.”
“Makasih Vin. Mulai sekarang, papa nggak akan menghalangi hubungan kamu sama Shilla.” Ucap papa Alvin sambil memeluk Alvin
“Makasih  juga pa.”
“Ciiieeee....Shillla...udah direstuin tuh sama mertua”
“Apaan sih kalian. Itu tunangan Zahra kali..”
“Udah nggak lagi kok Shill.”
“Bukannya lo sayang banget sama Alvin?”
“Sesayang-sayangnya gue sama Alvin, nggak akan pernah bisa mengalahkan cinta kalian berdua. Lagian gue nggak mau milikin Alvin yang setengah-setengah. Gue bakal lebih bahagia ngelihat dia bahagia sama lo”
“Tapi orang tua lo?”
“Tenang Shill..Gue udah cerita kok sama mama & papa gue. Mereka ngasih keputusan seutuhnya di tangan gue. Mereka nggak mau paksain gue.”
                “Om Chris, maaf ya untuk tadi siang.” sela Ify sambil menggigit bibirnya
                “Kamu nggak salah kok. Om yang salah.” Ucap papa Alvin sambil tersenyum
                “Ya udah Vin, kita semua pulang dulu ya. Lo istirahat aja” kata Rio
                “makasih semuanya udah pada mau jengukin gue.”
                “Take care ya...” Alvin memegang tangan Shilla, menghentikan langkah Shilla
                “Shill, gue mau ngomong.”
                “Ehm, sepertinya mama sama papa ikut keluar juga deh” ujar mama Alvin mengedipkan mata sebelahnya.
                Seminggu kemudian....
@rumah Ify.
Ify dan Iel menghabiskan waktu bersama. Ngobrol bareng, curhat maupun nyanyi2. Aktifitas yang udah cukup lama nggak mereka lakukan.
“Hah...Gue senang kak, semuanya senang. Masalah Via udah tuntas. Kak Cakka sama Agni udah balikan, ka Alvin sama Shilla juga. ”
“Lo kok ngurusin kita semua sih? Terus lo nggak ngurusin hubungan lo sama Rio?”
“Hehehe...ka Rio lagi sibuk tuh sama kuliahnya. Udah seminggu kita nggak ketemu.”
“Ciee..kangen nih ye...” goda Iel dan mengacak rambut Ify pelan
“Ka Iel rese deh. Eh kak, gue kurusan ya?”
“Iya. Kenapa emangnya?”
“Itu artinya gue udah mau pergi ninggalin dunia ini ya?”
“Hush..Lo tuh kalo ngomong, jangan yang aneh2. Fy, gue ambil cemilan dulu ya di dapur.”
“Okay..” ucap Ify bersemangat dan mengacungkan jempolnya. Iel masuk ke dapur dan mengambil setoples cemilan. Ia pun balik ke gazebo tempat mereka melakukan aktivitas tadi.
PRANG....stoples kue yang dipegang Iel pun jatuh begitu saja ketika ia melihat Ify.
“IFY! Lo kenapa?” tanya Iel panik ketika Ify berada di lantai dan mengeluarkan darah yang cukup banyak dari mulutnya. Iel pun menggendong Ify ke mobilnya. Ia tidak perduli dengan darah yang mengotori bajunya. Yang ia pedulikan sekarang adalah keselamatan adiknya. Ia pun memacu mobilnya ke rumah sakit harapan. Sesampainya di sana, ia segera menggendong Ify ke arah ICU dibantu para suster. Ify masuk ke ruang ICU. Sedangkan Iel pun mulai menghubungi mamanya serta teman2 Ify maupun Rio. Nggak tau kenapa, ia merasa hari ini adalah hari untuk semuanya mengetahui penyakit Ify. Ia duduk khawatir di ruang tunggu. Terlalu lama para dokter dan suster di dalam mengurus adiknya itu.
“Ka Iel..Gimana Ify?” tanya Agni bersama Shilla, Zahra, Cakka, Alvin, Via
“Nggak tau.” Jawab Iel singkat. Agni lemas dan terduduk di samping Iel
“Aduuh, lo berdua tolong jelasin apa yang terjadi. Kita sama sekali nggak ngerti.” Ucap Alvin yang disetujui lainnya dengan anggukan
“jadi gini...” Iel pun menceritakan semua yang terjadi dengan Ify. Shilla, Via dan Zahra menatap nanar. Mereka nggak menyangka, dibalik senyuman yang ia berikan selama ini, hanyalah palsu. Semuanya hanyalah topeng untuk menutupi sakit di dalam dirinya.
**********
                Rio begitu sebal melihat jalan yang tadi ia pilih ternyata begitu macet. Mobil2 pun tak bergerak sama sekali dari 10 menit yang lalu. Padahal ia membutuhkan waktu singkat untuk sampai di rumah sakit. Pikirannya kacau saat ini. Yang tertulis di otaknya hanyalah apa yang sebenarnya terjadi dengan Ify. Pembicaraan singkat yang diterimanya dari Iel lewat telpon. Pembicaraan yang membuat adrenalin-nya berpacu lebih cepat.
                “Yo, lo datang segera ke rumah sakit harapan, ruang ICU. Ify kritis yo. Ntar gue jelasin semuanya ke lo. Yang penting lo datang sekarang”
                Rio sama sekali nggak mengerti apa yang terjadi. Ia pun mencoba untuk sampai di rumah sakit sesegera mungkin.
                @rumah sakit
                “Gimana keadaan Ify dok?” tanya Ibu Uci segera ketika melihat dokter Chiko keluar dari ruang ICU
                “Dia sudah melewati masa kritis. Tapi saya tidak yakin dia masih bisa bertahan. Karena itu, saya harap semuanya berdoa untuk kesembuhan Ify”
                “Boleh kami melihatnya?” tanya Agni cemas
                “Boleh. Tapi jangan mengganggunya. Dia sedang istirahat.” Sepeninggalnya dokter Chikko, Ibu Uci, Iel, Via, Agni, Shilla, Zahra, Cakka dan Alvin pun langsung masuk ke ruang ICU. Mereka hanya bisa menatap sendu pada Ify yang begitu lemah di atas tempat tidur. Selama ini, mereka mengenal Ify sebagai sosok yang cerewet namun baik hati. Ify yang selalu menolong mereka padahal dirinya sendiri membutuhkan pertolongan. Ify membuka matanya dan menatap mereka semua satu persatu. Ia memberi tanda pada Iel agar membantunya membuka masker oksigen. Iel yang awalnya menolak, akhirnya hanya bisa pasrah ketika memandang mata Ify yang begitu memohon.
                “Ma..Maafin gu..gue...” ucap Ify yang terdengar seperti bisikan.
                “Nggak usah mikirin itu fy, lo istirahat aja. Yang penting lo sembuh.” Ucap Shilla. Ify hanya tersenyum tipis dan menggeleng lemah
                “Gu..Gue..nggak a..ada..waktu la..lagi...” ucap Ify yang membuat mata teman2nya mulai berkaca-kaca. “Ka Alvin, Ka Ca...kka...ma..kasih udah ngeja..gain..sahabat2..gu..gue..Viaa, makasih buat..persa..habatan..yang lo ka..siih buat gu..gue. A..Agni, ma..kasih bu..buat ra..hasia yang lo simpan bu..buat gu..gue..Shilla, ma..kasih lo mau ja..jadi sahabat gu..gue sejak SMP..dan Zahra..makasih lo..jadi sa..sahabat yang ba..baik buat gue..” Ify pun menghentikan ucapannya dan menarik nafasnya yang lebih terasa sulit. Ia menyentuh perutnya yang terasa sakit.
                “Ka Iel,, makasih u..udah jadi..ka..kakak..yang ba..ik..buat gu..gue..Lo yang pa..paling ngertiin gue kak. Maaf, ka...kalo gu..gue sering ba..bandel dengerin nasehat lo. Ma,, makasih u..udah ngasih aku yang terbaik se..selama 16 ta..hun ini. Ma..afin ify, ka..kalo Ify sering bu..buat mama nangis..”
“Makasih semuanya..” ucap Ify dan menutup matanya
                “Fy, lo nggak boleh tidur. Rio belum datang.” Ucap Cakka


                Rio yang sudah begitu hafal dengan rumah sakit ini pun langsung berlari ke arah ruang ICU. Ini memang tempat om-nya bekerja. Ia berdiri di depan ruang ICU. Terdengar suara tangisan. Ia pun membuka pintu ruang ICU perlahan, semua yang ada di dalam ruangan itu hanya bisa menitikan air mata. Ia mendekat ke tempat tidur  pasien. Ia melihat Ify menutup matanya. Suster pun mulai mencabut selang oksigen maupun infus dari tubuh Ify. Sempat ia ingin berpikir bahwa Ify sedang tertidur, namun mesin pendeteksi detak jantung yang berada di samping tempat tidur itu telah menunjukkan garis lurus. Sama sekali tak ada grafik yang terlihat di sana. Rio menatap Iel lama mencoba mencari penjelasan, namun yang ia dapatkan hanya air mata membasahi wajah semua orang di sana. Rio mengeraskan rahangnya, tangannya pun dikepal, seolah menahan emosi dan perasaan yang ada di dalam dirinya. Sedetik kemudian, tak ada ekspresi apa2 di wajah Rio. Ia hanya menatap kosong ke arah Ify yang telah tertidur untuk selamanya
                “Gue mau jelasin semuanya” ucap Iel dan menarik lengan Rio keluar ruangan. Rio yang ditarik pun hanya seperti robot yang tak mengerti apa2.
                “Ify kanker lambung. ” perkataan Iel membuat Rio menatap tajam ke arah Iel, tetapi matanya langsung sayu menatap ke arah lantai “Dia nggak mau ngomongin ini sama siapa2. Dia juga nggak mau ngomong sama lo, tentang penyakitnya. Dia nggak mau bikin lo jadi khawatir. Dia nggak mau kemo, menurutnya itu hanyalah menambah kesakitannya. Yang tau hal ini Cuma gue, nyokap, sama Agni  yang nggak sengaja dengar2. Teman2 lainnya pun tau setelah dia kritis. Tapi dia masih mencoba ngucapin perpisahan sama mereka. Dia nunggu sampai lo datang, tapi ternyata dia nggak cukup kuat untuk itu. Maafin gue yo, gue nggak bisa ngomong sama lo, karena dia yang minta.” Ujar Iel dan menghapus air matanya yang kembali jatuh. Iel memandang Rio sebentar. Tak ada satu patah kata pun yang diucapkan Rio. Tak ada setetes air matapun yang keluar, dan tak ada ekspresi apa2 yang nampak di wajah Rio. Setelah menepuk-nepuk pundak Rio, Iel pun mengurus segala administrasi. Rio hanya bisa menatap lurus ke depan. Di dalam jiwanya, yang entah di mana, ia sedang bersama Ify, jalan2 bersama, main piano bersama, semuanya dilakukan bersama. Ia mendengar semua perkataan Iel, tapi ia tidak percaya satupun, karena menurutnya Ify sedang bermain dengan dirinya di sini, di dalam kenangannya sendiri.
******************
Pemakaman akan dilaksanakan besok. Sudah 2 hari berlalu sejak meninggalnya Ify. Dan sudah 2 hari juga Rio mengurung dirinya di kamar. 2 hari, Rio nggak makan apa2, 2 hari Rio nggak tidur sama sekali, 2 hari Rio duduk di sudut kamarnya dengan gaya memluk kedua kakinya, 2 hari pula Rio merasa sedang bersama dengan Ify. Mama dan papanya hanya bisa ikut menangis menatap anaknya yang mungkin terlihat seperti orang gila.
“Rio mengalami shock berat, sehingga ia lebih senang dengan dunianya sendiri. Ia merasa dunianya itu membuat ia lebih bahagia dibandingkan dunia nyata saat ini. Rio bisa mendengar semua yang kita bicarakan, namun ia lebih ingin untuk mempercayai dunia yang ia buat daripada kenyataan ini. Kalau ini terjadi dalam keadaan yang cukup lama, bisa membuat Rio mengalami gangguan jiwa’’ ujar seorang psikolog yang pernah dipanggil orang tua Rio
                “Rio, kamu nggak boleh kayak gini. Nanti Ify jadi sedih. Kamu harus menerima semua ini Rio. Masih ada jalan panjang yang harus kamu lewati” ucap mamanya sambil terisak. Ia pun meninggalkan Rio. Tak ada reaksi apapun yang diberikan Rio

                @rumah Ify, keesokan hari
                Rio masuk ke rumah Ify bersama orang tuanya. Semua mata memandang. Ada yang mencibir namun ada juga yang menatapnya sedih dan kasihan. Cakka sahabatnya dari lama, nggak percaya apa yang terjadi dengan Rio sebenarnya. Sejak meninggalnya Ify, ekspresi Rio  seolah hilang dari wajahnya. Tak ada tangisan, senyuman ataupun luapan marah. Ia lebih terlihat seperti mayat hidup. Seperti orang yang kehilangan jiwanya. Nggak makan, nggak tidur, wajah letih terlihat jelas di wajah Rio.  Semua orang tau Rio-lah yang paling terpukul. Ia sama sekali nggak tau keadaan Ify yang sebenarnya sampai Ify menghembuskan nafas terakhirnya. Untuk kedua kalinya ia kehilangan orang yang ia sayang karena kanker. Dan untuk kedua kalinya pula, ia diminta memainkan piano untuk orang yang disayangnya. Sebuah lagu terakhir untuk Ify. Rio berjalan dengan tatapan kosong ke arah grand piano milik Ify. Di mana piano itu berada tak jauh dari peti yang berisi jenazah Ify. Tak lama terdengar alunan piano.
                Kesunyian ini, lirih ku bernyanyi
                Lagu indah untukmu, aku bernyanyi..
                Engkaulah cintaku, cinta dalam hidupku
                Bersama rembulan, Aku menangis...
Mengenangmu, sgala tentangmu
Ku memanggilmu dalam hati liriiih...

                Ingin rasanya Rio nggak mau memandang orang yang terbujur kaku di hadapannya. Tapi hati dan otaknya nggak bekerja selaras. Rio pun menatap wajah Ify lekat2. Ia merasa dirinya terenyuh mendengar lagu yang ia bawakan. Dirinya sendiri belum kembali seutuhnya ke kenyataan. Tapi hatinya begitu perih.
                Engkaulah hidupku, hidup dan matiku
                Tanpa dirimu, aku menangis
                Mengenangmu, sgala tentangmu
Ku memanggilmu dalam hatiku...
aku menangis
                Mengenangmu, sgala tentangmu
Ku memanggilmu dalam hati ,liriih...     
Suara Rio bergetar hebat. Tubuhnya terguncang. Ia sadar, dunia inilah yang nyata baginya. Ia pun sadar bahwa Ify memang sudah pergi untuk selamanya. Tapi ia  ia merasa sakit untuk menerima kenyataan ini. Ia tau, ia terlalu lemah untuk semua ini. Penglihatannya pun terhalang dengan air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya, tapi Rio tetap memainkan piano dengan indah. Permainan piano untuk terakhir kali yang ia persembahkan untuk Ify. Air matanya pun mengalir.
                aku menangis
                Mengenangmu, sgala tentangmu
Ku memanggilmu dalam hati ,liriih...
Engkaulah jiwaku...
                Rio mengusap air matanya, bangkit berdiri dan berjalan mendekati peti Ify. Tak ada ekspresi apapun yang nampak di wajahnya. Namun dalam hatinya, ia merasa begitu hancur dan rapuh. Shilla, Agni, Via, Zahra, Alvin, Cakka menangis dan menangis. Merasa kehilangan yang luar biasa. Iel sendiri, merasa air matanya telah habis sejak 2 hari lalu. Sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah memandang jenazah Ify, perih.

                Pemakaman berjalan dengan baik. Semua orang sudah berjalan pulang. Tapi Iel, Alvin, Cakka, Shilla, Via, Agni, dan Zahra masih ada di dekat kubur Ify, menemani Rio yang masih duduk tanpa ekspresi
                “Yo, ayo kita balik.” Ajak Iel
                “Fy, kamu bohong sama aku.” Ucap Rio yang sejak kematian Ify tak berbicara sedikit pun dengan siapapun. Akhirnya, ia kembali seutuhnya ke dunia ini dan bukan di dunia khayalannya. “Kamu harus jelasin semua ini fy. Kenapa kamu nggak cerita sama aku? Kenapa kamu malah nyimpan semua ini sendiri? Apa kamu nggak nganggep aku ada? Padahal aku selalu cerita ke kamu. ” bentak Rio
                “Yo..”
                “Kamu nggak nepatin janji kamu sama aku fy. Apa kamu lupa? Kamu lupa kalau pernah bilang ingin jadi pianist yang bakalan selalu ada buat pianonya? Apa kamu lupa, pernah bilang kamu nggak akan lari ke mana2, karena Cuma aku, piano yang memberikan melodi dalam hidupmu? MANA JANJI MU ALYSSA?? MANA YANG KAMU BILANG NGGAK INGIN KEHILANGAN AKU? MANA FY? ” teriak Rio mengeluarkan semua emosi yang ia rasakan. Mengeluarkan semua yang ia rasa 2 hari lalu. Saat itu juga ia menangis kembali, melebihi tangisannya waktu ia bernyanyi. Iel memegang pundak Rio memberi kekuatan padanya.
                “Fy...” lirih Rio “Kamu tau kan, aku sayang banget sama kamu? Kamu tau kan aku bukan apa2 tanpa kamu? Kamu tau kan aku hanya piano usang yang nggak akan bisa jadi baik tanpa pianistnya? Kamu tau kan aku nggak bisa hidup tanpa kamu? Tapi kenapa harus kayak gini? Kenapa fy?” Rio memegang nisan Ify masih tetap menangis. Semuanya yang telah menghapus air mata pun, kembali merebak air mata masing2
                “Aku...pengen ngabisin waktuku sama kamu.  Maaf fy, kalau aku nggak pernah punya waktu buat kamu. Maaf kalau aku nyia2in waktu. Maaf, kalau aku nggak bisa memberikan melodi yang indah dalam hidupmu. Maaf fy, aku nggak sesempurna yang kamu bayangkan. Maaf, karena aku Cuma bisa nyalahin kamu yang ninggalin aku. Maaf, aku nggak bisa jagain kamu. Maaf, aku nggak bisa jadi piano yang baik buat kamu. Maaf aku nggak bisa jadi piano tempat masalah kamu. Maaf..”
                “Fy, rasanya air mataku nggak mau berhenti” ucap Rio yang ingin bercanda untuk menenangkan dirinya sendiri, namun air matanya tetap mengalir. “Makasih buat semuanya fy. Makasih kamu udah ngisi hari2ku. Makasih, kamu mau sayang sama orang kayak aku. Makasih kamu ngebuat aku ngerti apa itu cinta. Makasih, karena kamu memberikan cinta yang nggak pernah aku rasain. Makasih, kamu buat hidupku penuh warna.”
                “Yo, Ify juga nggak mau ninggalin lo kayak gini. Tapi ia nggak bisa apa2.” Ucap Alvin yang udah duduk di sebelah Rio. Rio sendiri ingin tersenyum, tapi terlalu sulit.
                “Balik yuk” ajak Cakka dan diikuti lainnya termasuk Rio
                ‘Aku sayang banget sama kamu fy.’ Batin Rio dan meninggalkan kubur Ify. Sesampai di rumah Iel, mereka berdelapan langsung duduk2 santai di halaman belakang rumah Ify
                “Den Iel, bibi nemuin ini di kamarnya non Ify.” Ucap pembantu Iel
                “Makasih bi.” Ucap Iel dan menerima amplop cokelat dengan tulisan ‘buat semua sahabat2 gue, pacar gue, dan kakak gue tersayang’. Semuanya pun langsung mendekati Iel, dan menunggu apa yang ada di dalam amplop itu.
                “CD?” tanya Iel sambil memegang isi amplop itu di tangannya
                “Lo ambil laptop yel, kita coba putar liat isinya” ucap Cakka. Iel pun langsung mengambil laptop di kamarnya. Ia membawa ke halaman belakang, dan mulai memutar CD itu.

                “Hai semuanya. Gue yakin lo semua pada ngumpul kan?? Nggak usah nangis lagi dong. Hapus air mata lo semua dan senyum sama gue. Pokoknya lo waktu nonton ini video dilarang keras untuk nangis” ucap Ify yang ternyata merupakan isi video itu. Ia tersenyum manis. “Gue buat video ini khusus buat lo semua. Senang kan, gue pergi tapi ada oleh2nya..hehehe..Udah ah, becanda melulu nih. Langsung aja ke topik. Gue mau minta maaf sama ka Alvin, ka Cakka, Zahra, Shilla, Via, dan terkhususnya ka Rio. Maaf banget kalo gue nggak ngomong apa2 sama kalian. Maaf banget, kalo gue nutupn semua ini. Gue cuma, nggak mau ngebebanin lo semua. Lo pasti udah tau lah, kenapa Agni nggak gue sebutin namanya. Tapi please lo semua jangan berpikir, kalo gue nggak nganggep kalian. Kalian tuh anugerah terindah yang pernah gue milikin, yang ngebuat gue kuat dan tahan sampai saat ini.” Ify terdiam dan menarik nafasnya sebentar
                “Buat Via sama Ka Iel..Viaaaa, lo harus jujur lagi sama ka Iel. Lo harus lebih terbuka. Kan nggak ada gue lagi yang bisa nyelidikin ini itu. Ka Iel, lo jaga Via baik2. Jangan pernah lo kecewain dia.” Iel tersenyum miris, sedangkan mata Via berkaca-kaca lagi
                “Ka Cakka, lo kalo pergi pamitan sama Agni. Gue udah bilang kan, lo bikin dia nangis Cuma gara2 lo. Please kak, jangan bikin Agni nangis lagi. Dan gue harap, lo mau ngusap air matanya kalau gue nggak ada. Agni, lo juga jangan bandel2. Pokoknya rukun2 ya..”
                “Shilla, gue senang akhirnya lo balikan juga sama ka Alvin. Ka Alvin, perlu lo tau Shilla tuh sayang banget sama lo. Jadi kalau dia minta putus dengan alasan2 nggak jelas, jangan percaya. Lo harus pertahanin dia. Secara, gue nggak ada lagi buat bantuin. Ka Alvin, jagain Shilla ya. Pokoknya lo berdua gue doain langgeng terus” Shilla dan Alvin yang tangan mereka bertautan hanya tersenyum pahit
                “Buat Zahra, gue nggak tau lo ada sama2 yang lain atau nggak. Tapi yang pasti gue mau bilang sama lo, cowok masih banyak. Nggak Cuma ka Alvin doank. Gue tau, lo pasti bisa dapat yang lebih baik dari ka Alvin. Cowok yang benar2 sayang sama lo. Karena lo itu cewek yang baik banget, dan lo pantes dapat cowok yang sayang sama lo juga. Pokoknya lo jangan sedih lagi. Okay?”            “Last but not the least. Ka Rio, aku minta maaf nggak cerita sama kamu. Maaf aku nutupin semua ini. Maaf aku nggak bisa jadi pianist yang nemenin pianonya sampai akhir. Maaf..Mungkin Cuma kata itu yang bisa aku ucapin. Aku tau kamu pasti marah banget sama aku. Tapi kamu jangan benci ya sama aku. Aku takut dibenci kamu. Walaupun hidupku emang nggak panjang dan hanya sebentar saja, kamu perlu tau, rasa sayangku ke kamu nggak akan pernah berakhir. Makasih untuk semuanya. Untuk semua perhatian yang kamu kasih bahkan semua waktunya. Aku benar2 punya kenangan indah sama kamu. Kejar impian kamu ka. Hidup ini masih panjang. Aku sayang banget sama kamu ka” Ucap Ify yang mengeluarkan air matanya “Hahaha, aku yang nyuruh kalian nggak nangis, tapi aku sendiri nangis. Kalau kata ka Iel, gue senyum Cuma buat nutupin kesedihan gue. Well, setelah gue pikir2 sepertinya betul.” Ujar Ify yang tersenyum miris
“maaf banget ya semuanya, kalo selama gue hidup, gue nyusahin kalian semua. Gue ngebuat kalian jadi BT, ataupun lainnya. Maaf kalau gue nggak bisa jadi sahabat, pacar maupun adik yang baik. Tapi yang pasti lo semua udah ngasih sesuatu yang nggak pernah bisa gue lupain sampai gue pergi nanti untuk selamanya. Oh ya, jangan dimatiin dulu ya videonya.”
KLIK...gelap. Tak ada yang terlihat lagi. Namun seperti apa yang dikatakan Ify, semuanya pun masih menunggu kelanjutan isi Video itu
“Aku mau main + nyanyi. Skalian nunjukin kehebatan aku sama kamu ka Rio. Supaya kamu tau, anak didikmu ini udah hebat sekarang.”
If i die tonight,
I'd go with no regrets,
If it's in your arms,
I know that i was blessed,
And if your eyes,
are the last thing that i see,
Then i know the beauty heaven holds for me,

But if i make it through,
If i live to see the day,
If i'm with you,
I'll know just what to say,
the truth be told,
Boy, you take my breath away,
every minute, every hour, every day,

Cause every moment,
we share together,
is even better,
than the moment before,
If every day was,
as good as today was,
then i can't wait until tomorrow comes,

A moment in time,
is all that's given you and me,
A moment in time,
and it's something you should seize,
So i won't make,(i won't make)
the mistake of letting go,
Everyday you're here,
i'm gonna let you know,

That every moment,
we share together,
is even better,
than the moment before,
If every day was,
as good as today was,
then i can't wait until tomorrow comes,

Each morning that i get up,
(each morning i'll wait),
I love you more than ever,
(i love you more)
So every moment,
we share together,
is even better,
than the moment before,
If every day was,
as good as today was,
then i can't wait until tomorrow comes,

Every moment,
we share together,
is even better,
than the moment before,
If every day was,
as good as today was,
then i can't wait until tomorrow comes,

I love, love, love the moments,
(oh yeah)
Moments we share together,
I love, love, love the moments,
(oh yeah)
I pray they'd last forever,

I love, love, love the moments,
(oh yeah)
Moments we share together,
I love, love, love the moments,
(oh yeah)
I pray they'd last forever now..........

          “Makasih buat semuanya yang kalian kasih dalam hidupku. I love you all. Oh ya, ka Rio aku mau, kamu nyari pianist lain. Pokoknya kalau kamu dapet yang pas dan cocok, kamu harus selalu tau kalau aku akan mendukung dan menyetujui 100%. Walaupun aku pergi kalian nggak akan lupain aku kan? Kalian tetap ingat sama aku kan? Jaga kesehatan kalian, semuanya saling jaga satu sama lain ya. Hoeek...” Ify pun muntah di atas baju putih yang ia gunakan. Darah lagi. “Aduuh, maaf. Pemandangannya jadi nggak enak. Pokoknya segitu aja dari aku. Bye..”  Video pun berakhir. Semuanya saling memandang, ada bekas air mata di sudut mata semuanya, rasa perih pun tetap ada di hati, namun Ify memberikan banyak kenangan buat mereka. Kenangan akan kebaikannya itu               “Ify, kita sayang sama lo. Kita nggak pernah lupain lo.” Ucap mereka semua serempak sore itu.

                Malam harinya Rio pergi ke taman tempat Rio biasanya mencurahkan masalahnya. Sejak Ify ada, ia jarang banget datang ke sini, karena ia merasa masalahnya jadi nggak ada. Taman inilah, taman di mana Rio mengajak Ify ke sini ketika Ify hampir putus asa. Rio membawa gitarnya dan duduk di bangku taman.
                “Bintang Rify..Gue yakin lo bakal selau nyampein perasaan gue ke Ify. Di manapun dia berada, dia pasti bisa lihat bintang yang sama dan ngerasain hal yang sama kayak gue. Kali ini aja bintnag Rify, dengerin nyanyian gue dan sampein buat Ify” ucap Rio sambil memandang satu  bintang yang paling terang malam itu. Ia mulai memetik gitar yang ia bawa tadi.

Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinramu di hatinya
Embun pagi, katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
                Bintang malam sampaikan padanya
                Aku ingin melukis sinramu di hatinya
Embun pagi, katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
Tahukah engkau wahai langit, aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hioasan angkasa yang terindah, hanya untuk dirinya
Lagu Rindu ini kuciptakan, hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana, izinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan

Rio membuka matanya yang sedari ia tutup ketika bernyanyi. “I Love You my Pianist.” Teriak Rio malam itu seolah dengan demikian, Ify akan mendengarnya. Sepoi angin pun membelai wajah Rio lembut, seperti balasan pernyataan Rio itu.


Cinta itu nggak kayak bintang yang punya 5 titik, nggak kayak persegi yang punya 4 sisi, nggak kayak segitiga yang punya 3 sudut, dan cinta itu nggak kayak garis yang punya titik awal dan akhir. But, Love is circle. Cinta itu seperti lingkaran. Nggak pernah ada awal dan akhir dalam cinta. Walaupun raga kita memang udah mati, atau hubungan sudah putus, bahkan dunia ini berhenti berputar sekalipun, tapi cinta itu nggak akan pernah mati. Cinta itu akan selalu ada dan hidup dalam hati kita. Berputar seperti lingkaran tak akan terputus  dan tak pernah megenal kata akhir...

The end....
Akhirnya tamat juga......Makasih banget buat semuanya yang udah mau baca dan nunggu ini cerita. Makasih juga buat yang comment dan ngasih aku masukan2 berarti. Maaf kalau selama pengetikan aku ngebuat banyak salah. Maaf kalau suka ngaret dalam ngepost..Maaf kalau endingnya nggak sesuai di hati...Oh ya, maaf juga bagi yang minta happy ending, maaf ya jadinya sad ending buat Rio-Ify. Supaya sesuai sama judulnya...
Keep comment...