Minggu, 13 Maret 2011

All about you dad - cerpen

Aku menatap sekilas ke arah teman2 kampusku yang sedang asyiknya bercerita karena dosen hari ini nggak masuk. Aku kembali menekuni sobotta-ku, namun yang ku lihat dan ku baca tak ada satupun yang masuk ke otakku. Aku mendesah pelan. Aku berjalan keluar kelas, menuju taman. Tempat inilah yang sering aku datangi akhir2 ini. Inilah aku saat ini. Pendiam, tak ramah, lebih suka menyendiri, cepat tersinggung, bahkan tersenyum pun harus ku paksakan. Aku sendiri lupa, kapan terakhir aku tersenyum dan tertawa.  Semuanya menganggap aku aneh, berubah dari yang dulu. Tapi bukankah sebuah perubahan itu selalu baik? Sahabat-sahabatku? Di mana mereka? Oh mereka selalu ada untukku, hanya saja aku yang menjauhi mereka. Mataku terpaku ketika melihat seorang anak kecil yang sedang digendong oleh ayahnya. Aku menatap nanar. Bukan pemandangan seperti ini yang aku inginkan. Ini membuatku ingat pada kejadian 1 bulan lalu..
----FLASHBACK---
Aku duduk di sudut kamarku. Memeluk kedua kakiku erat. Aku memandang pigura foto yang terletak di atas meja belajarku. Fotoku, ibu, kakak, dan ayahku tentunya. Aku menggigit sudut bibirku untuk menahan tangis. Aku tak menyangka akan kehilangan dirinya begitu cepat. Aku masih mengingat jelas, kemarin aku dan dia saling bertukar cerita. Walaupun, kadang aku suka marah karena keputusannya, namun aku tau dia akan selalu memikirkan yang terbaik untukku. Aku juga mengingat jelas, ketika teman2 ku mengatakan wajahku dan ayahku seperti pinang dibelah dua. Dulu, mungkin aku akan mendengus kesal dan menjawab “itu artinya aku anak kandungnya.” Tapi saat ini, aku akan menjawab “Aku bangga, karena ayahku adalah pahlawanku”, hmm, terdengar seperti kata2 di novel ataupun sinetron, namun ya sudahlah memang itu yang ku rasakan. Aku sama sekali tak mengerti mengapa ayahku dipanggil begitu cepat oleh Tuhan. Apa salahnya?
Aku menghapus air mata yang aku sendiri tak tau kapan jatuhnya. Aku mengambil HP-ku yang ku taruh begitu saja di atas tempat tidur. Aku mengaktifkan HP-ku yang sejak semalam ku matikan. Begitu banyak sms yang masuk, baik dari tetangga, keluarga dekat, ataupun sahabat-sahabatku. Aku hanya tersenyum miris. Mengirimkan kata2 menghibur memang mudah, tapi apa mereka merasakan apa yang ku rasakan? Aku sama sekali tak membalas sms mereka. Apa yang harus ku balas “makasih”, “aku gpp kok”. Tak semudah itu. Ini bukalah cerita di film zaman sekarang, di mana tokoh utama akan tersenyum manis, menunjukkan kepada dunia bahwa ia baik2 saja, padahal hatinya sendiri hancur dan rapuh. Menggunakan topeng ketegaran, di saat ingin menangis dan membutuhkan orang lain. Aku tak akan pernah bisa seperti itu. Semua ini terasa terlalu...tiba-tiba.
Aku keluar dari kamarku, sekali lagi menghapus air mataku. Aku mengambil selendang hitam yang tergantung rapi di lemari, ku pakai dan aku keluar kamar. Ku lihat kakakku sedang memeluk tubuh ibuku. Bukannya menenangkan ibuku, aku malah duduk di samping jenazah ayahku. Ingin sekali aku berteriak ‘ayolah pa, ini udah siang, masa mau tiduran terus.’ Tapi aku tau, teriakanku pun percuma. Aku bahkan belum sempat membanggakannya. Ayahku belum sempat melihatku menjadi seorang dokter. Aku merasakan seseorang memegang pundakku. Aku baru menyadari bahwa Rio sedang berdiri di sampingku, dan mencoba menguatkanku. Pandanganku kabur tertutup dengan bening air mata yang siap turun kapan saja. Sama sekali tak bisa kucegah air mata ini. Aku bahkan tak yakin, kapan aku bisa menghentikan air mata ini.
Aku berjalan ke arah piano. Duduk, kemudian jariku mulai menari-nari di atasnya.
Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja             
Indahnya saat itu, buatku melambung di sisimu
terngiang hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu, jauhkan godaan yang mungkin ku lakukan
dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku, terbelenggu jatuh dan terinjak
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
ku trus berjanji takkan hianati pintanya
Ayah dengaralah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan, ku mampu penuhi maumu
Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku renungkan suasana basuh jiwaku
membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
tuk wujudkan segala yang pernah terlewati

“Semoga papa tenang di sana...” ujarku sesaat sebelum peti ayahku ditutup.

-------FLASHBACK END------------
                Aku mendesah, entah untuk keberapa kalinya. Tak ada air mata lagi saat ini.
                “Ifyyy...” aku mendongak melihat siapa yang memanggilku. Mereka adalah sahabat-sahabtku di SMA. Aku mengambil tasku hendak pergi.
                “Fy,please jangan jauhin kita lagi.” Ucap Cakka yang langsung menghentikan langkahku
“Fy,  jangan sedih lagi dong.” Ucap Via, sahabatku sejak kecil. Akhrinya aku kembali duduk, namun membelakangi mereka.
                “Ke mana Ify yang dulu? Yang suka tersenyum, cerewet dan selalu ceria?”
                “Kita kangen Ify yang dulu. Bukan yang sekarang. Bukan Ify yang menutup dirinya dari lingkungan luar.” Ujar Iel
                “bukankah sebuah perubahan itu baik?” celetukku membuat mereka semua terdiam
                “Perubahan seperti apa dulu fy. Bukankah semuanya selalu ada yang positif dan negatif, ada yang baik dan ada yang buruk? Perubahan diri juga kayak gitu fy, ada perubahan yang baik dan yang buruk. Perubahan baik adalah...” ucap Rio menggantungkan kata-katanya “when you still cheer up and never give up with the condition. Because, you know? God never leave you, alone. ” Rio duduk di hadapanku, memegang kedua tanganku, dan tersenyum. Ah, dia adalah sahabat yang paling mengerti keadaanku
                “Tapi ketika aku ingin kembali seperti dulu, aku akan selalu teringat ayahku. Aku nggak bisa melupakannya.” Elakku. Rio meletakkan jari telunjuknya di bibirku, seolah ingin agar aku tak mengatakan apa2 lagi.
                “Jangan pernah dilupakan. Biarkan ia punya tempat khusus di hatimu dan dalam ingatanmu. Biarkan dia jadi penyemangatmu, dan bukan malah terpuruk seperti ini” ujar Rio. Tangan kirinya masih memegang tanganku, dan tangan kanannya menyingkirkan helaian rambutku yang menutupi wajahku. “Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun – tapi selalu membutuhkan kehadirannya. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret. Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tau bahwa ibumu hamil, tapi begitu kamu lahir, ia membuat revisi. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil. Ayah mungkin tidak tau jawaban segala sesuatu tapi ia membantu kamu mencarinya. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata kita dia tampak baik dan menyayangi. Ayah akan sangat senang membelikanmu makanan selepas ia pulang kerja, walaupun ia tak dapat sedikitpun bagian dari makan itu. Ayah selalu berdoa agar kamu menjadi orang yang sukses, walaupun jarang sekali kamu mendoakannya. Ayah... ” ucapan Rio terhenti.
                “Ayah bisa membuatku percaya diri karena ia percaya padaku. Dan ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik” lanjutku membuat air mataku kembali jatuh setelah begitu lama, aku mencoba untuk tegar. Oh ayah.. Kembali Rio menghapus air mataku dengan jari-jarinya.
                “Karena itu, kamu nggak boleh ngebuat ayahmu di atas sana kecewa. Kamu harus membuat ayahmu bangga.”
Aku menatap semua sahabatku satu per satu, semuanya mengangguk dan tersenyum padaku. Aku pun menganguk dan tersenyum, putusku akhirnya. Ini bukanlah akhir, namun ini adalah awal dari segalanya.

***************************************************
Menjalani hidup itu nggak semudah membalikan telapak tangan. Menjalani hidup emang sulit, apalagi ketika seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita, yang merupakan tumpuan, pergi meninggalkan kita. Kita seolah kehilangan sandaran, kita bahkan terlalu rapuh dan tak mampu berdiri. Kepergian mereka yang paling kita sayang, bukan berarti hidup kita pun berakhir. But, life must go on..Walau kita jatuh, bukankah Tuhan akan selalu ada untuk membantu kita berdiri? Bukankah Tuhan selalu punya rencana indah untuk kita? mungkin memang di luar keinginan kita, namun akan selalu indah pada waktunya.
Ini bukanlah akhir, namun ini awal. Awal di mana kita berdiri tanpa orang yang paling penting dalam hidup kita. Awal di mana, kita akan membanggakannya dan berusaha untuk tak mengecewakannya.


The end...

0 komentar:

Posting Komentar