Rabu, 13 Juli 2011

Always have a choice - part 10

Alvin menekan bel yang ada di depan rumah itu. Ia ingin semuanya menjadi jelas. Entah mengapa dan sejak kapan ia mengubah semua keputusannya. Entah mengapa ia bisa berjalan sampai di sini. Yang ia tahu hanya satu, bahwa hatinya menuntun kakinya berjalan ke rumah Via. Merapatkan sedikit jaket yang ia pakai, agar udara malam tidak menusuk tubuhnya.
“Alvin?” Alvin mengangkat wajahnya menatap orang yang ada di hadapannya.
“Gue...”
“Gue minta maaf atas semua perkataan gue tadi di lapangan. Hmm, bukan hanya itu, gue juga minta maaf untuk semua kesalahan yang telah gue lakukan. ” ucap Riko membuat Alvin kembali menutup rapat bibirnya, kemudian mengangguk.
“Gue mau ngomong sama Via. Boleh?” tanya Alvin agak ragu
“Yah. Kalian berdua emang harus nyelesaiin masalah yang ada di antara kalian berdua. Ayo masuk” ucap Riko dan langsung memanggil Via. Alvin memasuki rumah besar itu. Ini adalah pertama kalinya ia masuk ke rumah Via, biasanya ia hanya mengantar Via dan segera pulang. Ia menatap foto-foto yang terpajang manis di setiap sudut meja. Ada foto Via, Riko dan kedua orang tua mereka, foto Via dan Riko sendiri2, ataupun foto Riko menarik rambut Via, sedangkan ekspresi Via sangat sulit dijelaskan.
“Ka Alvin” panggil Via membuat Alvin menatap gadis itu dan tersenyum. Sedangkan Via mencoba mencari alasan yang paling masuk akal kenapa Alvin tiba2 berada di rumahnya, sedangkan tadi siang, Alvin membentak dirinya.
“Hmm, ada yang harus gue omongin sama lo, tapi nggak di sini.” Ucap Alvin sambil melirik sedikit ke arah Riko, seolah meminta izin dari Riko. Riko hanya mengangguk.
“Bentar ya ka, aku ambil jaket dulu” ucap Via dan langsung mengambil jaketnya “Aku pergi dulu ya ka riko”
“Jagain adek gue ya vin” nasihat Riko. Alvin dan Via pun berjalan ke arah taman kompleks.
“Ada apa ka?” tanya Via akhirnya memecahkan keheningan di antara mereka. Bukannya menjawab, Alvin mengeluarkan dompetnya, kemudian mengeluarkan sebuah foto dan menyerahkan pada Via. Terlihat gambar Alvin dengan gadis manis. Ia memeluk gadis itu dari belakang, mereka berdua benar2 terlihat bahagia. Harus Via akui, gadis itu begitu manis dan terlihat imut dengan balutan kaos dan jeans-nya.  Siapakah gadis itu?
“Itu cewek yang gue sayang” ucap Alvin seolah bisa membaca pikiran Via. Via terdiam membisu, apakah gadis ini yang sempat ditanyakan Alvin di kantin? “Acha namanya. Dia adek gue” lanjut Alvin membuat Via menarik nafas lega
“Gue sayang banget sama dia. Soalnya Cuma dia yang paling ngertiin gue, Cuma dia yang bisa ngebuat gue tenang, dan malah dia yang ngelindungin gue dari semua sakit karena orang tua gue. Orang tua gue emang nggak akur. Mungkin karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Tapi mereka sama sekali nggak mau bercerai karena mereka mengingat gue dan acha. Terkadang gue malah berpikir sebaiknya mereka bercerai, daripada mereka menunjukkan perdebatan maupun pertarungan sengit mereka di hadapan gue sama Acha ” ujar Alvin sambil tertawa sinis.
“Dan Riko datang sebagai pacar Acha. Gue takut kehilangan perhatian  Acha, egois memang, tapi itu yang gue rasain dan gue ngehalangin Riko sama Acha. Acha nangis berhari-hari karena sikap gue. Saat gue mau minta maaf dan mengizinkannya, gue menemukan surat dari Acha. Isinya adalah dia pergi dengan Riko, dan dia ngerasa kecewa sama gue. Yah, gue emang payah sebagai kakak. Nggak lama kemudian gue mendapat kabar bahwa Riko dan Acha kecelakaan. Hmm, nggak, lebih tepatnya Acha meninggal di tempat sedangkan Riko dibawa ke rumah sakit, yang notabene lukanya nggak parah” Alvin terdiam, membiarkan air mata mengalir di wajahnya. Membiarkan tangan via memegang tangannya lembut. Membiarkan udara mengisi sedikit paru-parunya
“Gue marah...Gue marah banget sama Riko. Dia ngambil satu-satunya orang yang perhatian sama gue, dan orang yang paling gue sayang. Orang yang ngebuat gue sadar bahwa gue nggak pernah sendiri, dan kesepian karena ada dia. Tapi semua itu hilang sudah. Gue tau itu bukan salah Riko sepenuhnya. Itu malah salah gue, seandainya gue nggak ngelarang mereka berdua, pasti nggak bakal terjadi kecelakaan itu, dan Acha nggak mungkin meninggal. Tapi gue mencari-cari kesalahan Riko. Gue berasumsi seandainya Riko nggak pernah hadir di kehidupan Acha, gue nggak bakal pernah ngelarang Acha. ”
“Gue nggak pernah mau maafin Riko walaupun di minta maaf berulang kali. Bagi gue dia merebut kebahagiaan gue. Tapi datanglah lo Vi, orang yang ngebuat gue ngerasa nyaman dan aman, Ngebuat gue ngerasa nggak pernah sendiri dan sepi. Rasa yang pernah diberikan Acha dulu sama gue. Tapi satu yang Cuma gue rasain ke lo adalah gue sayang sama lo bukan sebagai adek.  Gue sayang sama lo lebih dari itu. Dan lagi-lagi karena keegoisan gue yang tau kakak lo adalah Riko ngebuat lo jadi takut sama gue. Ngebuat gue ingin membuang rasa ini. Tapi gue sadar, gue sama sekali nggak bisa ngebuang perasaan yang udah benar2 tertanam di hati gue.  Maafin gue vi, atas semua sikap gue ke lo tadi pagi. Gue...” ucapan Alvin terhenti. Ia merasakan tangan Via menghapus air matanya dengan begitu lembut.
“Via bukannya takut sama kakak. Via tau ada bagian dari hidup kakak yang nggak bisa diceritain. Karena itu Via ngebiarin kakak sendiri. Nggak perlu minta maaf, kakak nggak salah apa2 sama Via.”
“Via juga sayang sama ka Alvin” tambah Via lagi membuat Alvin terperangah. Mencoba mencari kebohongan dari mata Via. Tapi ia tidak menemukan itu “sayang lebih dari sayang gue ke ka Riko”
“aku mau selalu jagain kamu Vi” ucap Alvin yang menggunakan ‘aku-kamu’, dan langsung menarik Via ke dalam dekapannya. Sekali lagi, hanya Via yang bisa membuatnya tenang sekarang.
“Jangan pernah ninggalin aku ya ka” ucap Via membuat Alvin mengangguk. Seolah dengan kalimat terakhir Via, maka keduanya tau bahwa status mereka bukanlah ‘single’ saat ini.

*****
Rio menutup wajahnya menggunakan bantal. Saat ini ia merasa bahagia namun merasa kehilangan secara bersamaan. Ia begitu bahagia atas apa yang dilakukannya bersama Ify, namun saat itu juga ia sadar bahwa ia telah kehilangan Ify. Ia kalah telak dengan Iel.  Ia mencoba melupakan hal apa yang baru saja dilihatnya. Mencoba menghapus bayangan Iel dan Ify, namun sebesar apapun ia berusaha, sebesar itu pula ia semakin mengingat kejadian per kejadian dengan begitu detail. Seolah memorinya memutarkan film pendek di hadapannya.
“Rio” Rio menjauhkan bantal yang sedari tadi menutup wajahnya. Menatap orang yang memanggilnya
“Ya ma?”
“Kamu kenapa belum tidur?” tanya mama Fanny lembut dan menghampiri Rio, duduk di sebelah Rio
“Belum ngantuk ma”
“Belum ngantuk atau kepikiran yang tadi?” tanya mama Fanny seolah bisa membaca dengan jelas apa yang Rio pikirkan
“Hmm”
“Kamu sayang sama Ify?”
“Iya ma, Ify kan adik aku”
“Bukan. Maksud mama, apa kamu sayang sama Ify lebih dari sebagai adik?” tanya mama Fanny telak, sekali lagi dapat mengetahui perasaan Rio dengan baik
“Aku...” Rio terdiam, Ia duduk di samping mamanya. “Nggak tau ma. Dulu aku sayang Ify memang seperti adikku, tapi ntah kenapa semua perasaan itu seolah berubah ma. Yang aku tau, aku ingin melindungi  dan memiliki Ify, bukan sebagai adik. Ada rasa cemburu jika aku melihatnya bersama Iel. Ingin sekali aku memperjuangkannya ma, tapi aku tau itu nggak boleh karena Aku dan Ify saudara kandung.  “ lirih Rio. Ini pertama kali ia menceritakan perasaanya pada orang lain selain Alvin. Biasanya ia memang lebih memilih untuk menutup perasaannya rapat2. Mama Fanny tersenyum tipis, kemudian mengusap kepala Rio
“Aku udah coba untuk benci dia ma, aku udah coba untuk jauhin dia, aku udah mencoba dekat dengan gadis lain, Sungguh. Tapi itu sama sekali nggak merubah perasaanku ma. Aku harapini hanya perasaan semu karena tak lama bertemu. Namun semakin kuat aku menepis, semakin kuat pula aku malah semakin sayang padanya. Apa yang harus aku lakukan ma? ” ucap Rio dengan nada frustasi
“Hal yang paling menyakitkan adalah bukan ketika kita bertemu dengan orang yang kita benci, namun ketika kita bertemu dengan orang yang kita sayang, dan berusaha membencinya”
Rio terdiam mendengar perkataan mamanya
“Ify juga sayang sama kamu?” Rio mengangguk “Lakukan sesuai dengan kata hatimu sayang” ucap mama Fanny membuat ia tertegun. Apa yang dikatakan mamanya sama seperti apa yang dikatakan Alvin. Kalau mengikuti kata hatinya, ia akan merebut Ify dari Iel pastinya
“Tapi ma...”
“Mama yakin, kamu sudah dewasa dan bisa memutuskan mana yang benar untuk kamu dan semuanya. Ingat, baik nggak selalu benar, tapi benar walaupun sakit, tapi itu yang terbaik” ucap mama Fanny tak lupa mengecup kening anaknya “Selamat tidur sayang. Kalau kamu butuh cerita, mama selalu ada buat kamu” Mama Fanny kemudian meninggalkan kamar Rio. Rio tersenyum senang. Perasaanya lebih lega, dan sekarang ia tahu apa yang harus ia lakukan. Bukannya ia mengikuti saran mamanya agar segera tidur, ia malah mengambil secarik kertas dan gitar kesayangannya. Ia mulai menulis kalimat per kalimat, dan tak lupa chord-nya. Setelah menghabiskan dua jam berkutat dengan gitar dan kertasnya, akhirnya tersenyum tercipta lagi di wajahnya. Ia mecoba memainkan lagu itu dari awal, dan tersenyum senang berhasil membuat satu buah lagu lagi. Ia jadi teringat ketika Ify membantunya menyusun lirik demi lirik. Ia juga ingat ketika Ify menjadi inspirasinya dalam membuat lagu pertama. Saat ini pun Ify juga yang menjadi inspirasinya. Ia tersenyum. Ia mengambil HP-nya
To : Alvin; Ify; Iel; Cakka; Ray
Besok jam 6 pagi gue tunggu di tempat latihan kita.

Rio menatap kertas yang ada di tangannya, kemudian melipatnya dan memasukkan ke dalam tasnya. Lagi-lagi ia tak sabar menunggu respon dari teman2nya tentang lagu yang baru diciptakannya ini.

*****
“Mas Doni” pekik mama Fanny agak kaget melihat suaminya berada di depan pintu kamar Rio
“Eh, maaaf ngagetin kamu”
“Kenapa mas?”
“Apa sebaiknya aku mengatakan sebenarnya pada mereka? Setidaknya sakit itu pasti akan terbalas dengan rasa bahagia yang akan mereka dapatkan” ucap papa Doni membuat mama Fanny tersenyum
“Terserah mas saja. Aku yakin, apa yang mas putuskan itu adalah yang terbaik untuk semua, dan aku yakin mas nggak mungkin ngebiarin anak2nya menderita”
“Makasih sayang” ucap papa Doni. Kali ini mama Fanny yang mendapatkan kecupan manis di keningnya.
“Udah, turun yuk, kita tidur”

*****
                Tidak berbeda jauh dengan Rio, Zahra pun tidak dapat memejamkan matanya. Ia sedang memikirkan apakah Iel berhasil membuat surprise pada Ify. Ia memang yang memberikan saran dan usul pada Iel, ketika ditanya oleh Iel. Hmm, bukan ia bukannya memikirkan keberhasilan Iel atau tidak, tapi ia memikirkan Iel.
                Iel calling....
                Zahra segera menekan tombol Hijau di HP-nya.
                “Ra, udah tidur ya? Maaf ya gue ganggu tidur lo” ucap Iel langsung. Zahra hanya menggeleng, namun sedetik kemudian sadar bahwa mereka sedang tidak video call, jadi tidak mungkin Iel dapat melihat ekspresinya
                “Nggak kok. Nggak apa2. Gimana surprise-nya?”
“Hmm,gagal ra. Ternyata si Ify lagi pergi sama mamanya. Waktu gue terkantuk-kantuk nunggunya, eh tiba2 dia malah muncul di hadapan gue. Nggak jadi deh. Tapi si Ify sih nangis, ia ngerasa bersalah karena surprise gue nggak berhasil. Over all, oke kok. Walaupun gitu, ntah kenapa ketakutan gue tentang perasaan Ify ke Rio dan sebaliknya semakin kuat. Gue rasa mereka sama2 sayang tapi nggak mau ngakuin itu”
“Perasaan lo aja kali”
“Entahlah. Cuma kalo ngelihat tatapan mereka berdua, gue yakin ada sesuatu yang disembunyiin.”
“Hmm, ntar gue cari tau deh dari Rio”
“Thanks ya ra. Lo emang sahabat gue yang paling TOP” ucap Iel “Eh ra, udah dulu ya. Besok pagi2 gue harus ngumpul sama yang lain”
“Mau ngapain?”
“Nggak tau. Cuma disuruh datang pagi sama si Rio. Udah ya. Bye ra, Sekali lagi thanks banget. Have a nice dream”
KLIK
Zahra menghembuskan nafasnya berat. Ia menatap HP-nya itu, seolah dapat memproyeksikan wajah Iel di sana. ‘Sahabat. Apa nggak bisa lebih yel?’ tanya zahra dalam hati, namun sedetik kemudian langsung tertidur.

******
                Pagi ini dengan wajah masih mengantuk, semuanya berkumpul di ruangan ini.
                “ada apa sih yo pagi2?” tanya Ray
                “Kalo nggak penting, gue gelitikin lo” ucap Cakka dan diangguki semuanya.
                “Hehe...Maaf deh, kalo gue ganggu waktu tidur kalian semua. Semalam gue baru aja ngebuat satu lagu baru. Kalo misalnya ada yang kurang, ditambahin ya” ucap Rio dan langsung mulai memainkan gitarnya. Ify mengernyitkan keningnya. Bukankah semalam ketika Rio pulang sudah pukul 1 pagi? Ify yakin membuat lagu pasti membutuhkan waktu lebih dari 2 jam.
Us against the world
Against the world
Us against the world
Against the world

You and I, we’ve been at it so long
I still got the strongest fire
You and I, we still know how to talk
Know how to walk that wire

Sometimes I feel like The world is against me
The sound of your voice, baby
That's what saves me
When we're together I feel so invincible

Cause it's us against the world
You and me against them all
If you listen to these words
Know that we are standing tall
I don't ever see the day that
I won't catch you when you fall
Cause it's us against the world tonight

Us against the world
Against the world

There’ll be days
We’ll be on different sides but
That doesn’t last too long
We find ways to get it on track
And know how to turn back on

Sometimes I feel
I can’t keep it together
Then you hold me close
And you make it better
When I’m with you
I can feel so unbreakable

Cause it's us against the world
You and me against them all
If you listen to these words
Know that we are standing tall
I don't ever see the day that
I won't catch you when you fall
Cause it's us against the world tonight

We’re not gonna break
Cause we both still believe
We know what we’ve got
And we’ve got what we need alright
We’re doing something right...

Cause it's us against the world
You and me against them all
If you listen to these words
Know that we are standing tall
I don't ever see the day that
I won't catch you when you fall
Cause it's us against the world tonight

Us against the world
You and me against them all
If you listen to these words
Know that we are standing tall
I don't ever see the day that
I won't catch you when you fall
Us against the world
Yeah it’s Us against the world, baby
Us against the world
Tonight

Us against the world
Against the world
Us against the world

Rio menghentikan permainannya. Semuanya yang matanya setengah terbuka, langsung benar2 terbuka ketika mendengar lagu dan permainan Rio
“Hmm, permainannya ringan. Musiknya nggak sulit, tapi enak didengar” komentar Alvin
“Gue suka liriknya. Liriknya dalem banget, kayak lagu lo sebelumnya” tambah Iel membuat yang lainnya mengangguk.
“Keren yo” ucap Cakka
“Pulang sekolah, kita latihan lagu ini ya, terus kita nyanyiin pas pensi sesudah ujian.” Saran Ray dan membuat yang lainnya mengangguk setuju
“Ya udah, balik kelas yuk” ajak Rio. Ify memang lebih memilih diam. Mengapa lagi-lagi ia merasa bahwa lagu ini tercipta untuknya? Ah. Itu hanya keinginannya saja. Ify pun mulai berjalan keluar, setelah semuanya sudah tak ada lagi di ruangan itu
“Fy...” panggil Rio yang ternyata menunggunya di depan ruangan “ada yang perlu gue omongin sama lo. Ada waktu?” tanya Rio. Ify menatap jam yang melingkar di lengannya. Masih setengah jam lagi sebelum bel masuk. Akhirnya Ify mengangguk dan membiarkan Rio menggenggam tangannya dan menuntunnya.

Bersambung....
Jeng...jeng..jeng...
Alvin-Via udah jadian. Bagaimana kelanjutannya?
Apa yang akan dikatakan Rio pada Ify??

0 komentar:

Posting Komentar