Kamis, 24 Januari 2013

Love in Bali - Cerpen


                “BALIIIIIIIIIIIIIIIIIIII” teriak seorang gadis berambut panjang dengan wajah tirusnya yang baru saja keluar dari bandara, membuat banyak mata memandangnya. Gadis itu kemudian terkekeh melihat kiri dan kanannya. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di Bali. Umurnya sudah 20 tahun, dan dalam beberapa bulan lagi menjadi 21, tapi ia belum pergi ke kota di mana banyak wisatawan. Ia pernah pergi ke surabaya, jogja, semarang, solo, Makassar, manado, ambon, bandung. Tapi ia sama sekali belum pernah datang ke kota ini. Ia terlalu lama menghabiskan waktunya di Jakarta, mengurus kuliahnya maupun kegiatan kampusnya. Ia tidak akan pernah ada di sini, kalau bukan karena sepupunya menikah di sini.
“Via, gue udah sampai di Bali. ” ujar gadis itu sambil menarik kopernya menuju taksi yang paling dekat dengannya “Gue naik taksi ke hotel, nggak enak ngerepotin ka Shilla buat jemput gue. Lima hari lagi dia married, dan gue minta dia buat jemput gue? Yang bener aja. Ntar gue hubungi lo lagi ya vi. Bye”, gadis itu kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, memasukkan koper ke bagasi kemudian masuk ke dalam taksi.
Jl. Wana Segara No. 2 pak, hotel Aston” ujar gadis itu lagi pada supir taksi. Orang tua dan kakaknya nggak bisa datang, oleh karena itu ia yang mewakili keluarganya.  Ia benar2 sendiri di sini, dan ia sama sekali tak tau Bali. Tapi jiwa petualangnya memang terlalu tinggi, dan ia terlalu menyukai tantangan. Awalnya ia memang akan berangkat bersama Via, sepupunya, tapi berhubung Via masih kuliah sampai hari jumat, akhirnya ia memutuskan untuk pergi sendiri hari ini. Sekaligus ia ingin menikmati kota Bali. Masa ia hanya datang ke Bali untuk pernikahan sepupunya, kemudian balik lagi ke Jakarta. Itu hal yang sangat membosankan. Sudah jauh-jauh dari Jakarta, dan kebetulan ia nggak ada kuliah dalam seminggu ini, maka ia memutuskan nggak ada salahnya ia datang sendiri. Mungkin menyenangkan kali ya, kalau ia punya pacar yang bisa diajak ke pernikahan sepupunya dan dikenalkan pada keluarga lainnya. Uuh, bukannya nggak cantik.  Terlalu banyak pemuda yang mengantri untuk menjadi pacarnya, namun ia tolak satu persatu. Ia tidak menemukan yang sesuai dengan kriterianya. Bahkan ketika ditanya kriterianya seperti apa, ia juga nggak tau. Yang ia tau, nggak ada yang bisa membuat jantungnya berdebar-debar. Bukan nggak, tapi belum. Sungguh, ia masih normal. Ia masih suka dengan lee min ho, Daniel Radcliffe, dan lainnya.
“Sudah sampai mbak” gadis itu pun mengangguk kemudian menyerahkan uang sesuai argo
“Terima kasih pak” ucap gadis itu pun dan turun dari taksi. Baru saja ia akan melangkahkan kakinya ke dalam hotel, ada seorang pemuda menabraknya
Sorry. ” ucap pemuda itu kemudian meninggalkannya mematung. Sial, bahkan ia nggak dibantu untuk berdiri. Akhirnya setelah membersihkan celana bagian belakangnya, ia menghampiri resepsionis.
                “Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” sapa resepsionis di hotel bintang 5 itu, dengan ramah.
                “Selamat siang. Saya Alyssa Saufika, mau check in.”
                “Untuk kamar no 109, dalam waktu 1 minggu ya mbak?” gadis bernama Alyssa itu pun mengangguk. “Ini kuncinya mbak. Happy holiday
                “Thank you” ujar Alyssa atau biasa dipanggil Ify. Ify pun masuk ke kamarnya, meletakkan kopernya, kemudian pergi lagi. Ia tak ingin semenit terlewat begitu saja. Ia harus memulai petualangannya di Bali. “Ada apa mbak?” tanya Ify pada resepsionis ketika melihat orang2 lalu lalang dengan panik.
                “Oh itu mbak, mereka membutuhkan tenaga medis. Sepertinya ada korban”
                “Korban?”
                “Iya, biasany ada korban yang baru belajar diving.” Ify mengangguk-angguk kemudian meninggalkan orang2 tersebut. Ia berusaha untuk nggak perduli, toh ia juga nggak mengenal siapa yang diving, dan ia di sini tujuannya untuk liburan. Tapi sebagai mahasiswa kedokteran, ia tetap memiliki hati nurani untuk menolong siapa saja. Bukankah nanti ketika ia jadi dokter, ia harus tetap menolong siapa saja? Akhirnya ia memutuskan untuk kembali pada sekumpulan orang2 panik tadi.
                “Permisi. Butuh tenaga medis?” tanya Ify membuat orang2 itu menatap Ify dengan tatapan meremehkan, seolah Ify adalah anak SMP yang mengaku sebagai tenaga medis
                “Ayo, ikut aku” ucap seorang pemuda kemudian menarik Ify ke tempat kejadian. Ify akhirnya memeriksa keadaan korban, kemudian membidai kaki orang itu dengan alat2 yang udah disiapkan.
                “Sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut” ucap Ify membuat keluarga dari korban tersebut membawa ke RS. Ify menatap jam yang melingkar di tangannya. Ia sudah menghabiskan 1 jam di sini, setidaknya ia melakukan kebaikan.
                “Terima kasih”ucap seseorang membuat Ify terlonjak kaget. Ia berpikir bahwa semua orang sudah pergi.
                “Sama2”
                “Maaf juga karena tadi menabrakmu di depan hotel. Saya lagi terburu-buru, untuk melihat sepupu saya.”ucap lelaki itu membuat Ify mengangguk-angguk “yang kamu tolong tadi” tambah lelaki itu
                “Kamu dokter?”
                “Hmm, bukan. Gue mahasiswa kedokteran”
                “Orang Jakarta ya?” tanya pemuda itu membuat Ify mengangguk sekilas “Kenalkan saya Rio.” Ucap pemuda itu kemudian mengulurkan tangan untuk bersalaman
                “Gue Ify. Hmm, bisa nggak pake lo-gue aja? Gue agak risih denger orang ngomong ‘saya’” ucap Ify sambil bersalaman
                “Gue minta maaf banget udah nyita waktu jalan2nya. Sebagai permintaan maaf dan terima kasih, gimana kalau gue temenin jalan2 ke tempat2 terkenal di Bali?”tanya Rio. Ify selalu ingat untuk tidak menerima ajakan orang yang baru dikenal, apalagi ia sama sekali nggak tau apa2 tentang Bali. Kalau misalnya orang di depannya ini orang jahat gimana? Terus kalau misalnya ia diculik untuk dijual gimana? Ify kemudian memandang pemuda itu dari kepala sampai kaki. Wajahnya tidak menunjukkan tokoh jahat sih, malah tampan. Tapi bisa saja, orang2 zaman sekarang menggunakan orang yang tampangnya keren untuk menjebak gadis2 seperti dia yang sama sekali tidak tau menau tentang Bali. Kalau misalnya Rio orang baik, maka Ify akan sangat beruntung. Ia tidak perlu mengeluarkan sepeser pun atau pun tersesat di Bali ini, karena ia memiliki teman setidaknya untuk mengantarkan ke manapun dia mau pergi. Ia memang punya jiwa petualang, tapi tetap saja akan lebih menguntungkan jika ia pergi dengan Rio ini
“Gimana?” tanya Rio membuat Ify sadar dari pikirannya
                “Hmm...Nggak deh. Gue lebih senang jalan sendiri” ucap Ify. ‘dibandingkan harus jalan sama orang yang baru gue kenal’ tambah Ify dalam hati “Makasih buat tawarannya. Gue pergi dulu.” Ucap Ify kemudian meninggalkan Rio begitu saja. Harus ia akui, Rio memang tampan dan memiliki senyum manis yang bisa saja membuat semua gadis akan jatuh cinta. Bahkan sebenarnya ia suka melihat wajah Rio yang terlihat dewasa itu. Sepertinya kalau dijadikan pacar, akan menjadi tipe pacar yang perhatian dan lembut. Namun, ia mengenyahkan semua pemikirannya. Toh itu adalah pertama dan terakhir kali ia bertemu dengan Rio. Jadi, hanya sekedar “cuci mata” di siang hari ini. Ify menggangkat bahu tidak perduli. Kemudian mulai menatap peta yang ada di tangannya, dan menanyakan beberapa hal pada orang2 yang ia temui di jalan.
                ****
                Ify merutuki dirinya yang tidak mengisi baterei ponselnya penuh. Di saat ia tersesat seperti ini, google map akan sangat membantunya.  Ia juga merutuki dirinya sendiri yang tak pernah bisa mengingat jalan dengan baik.Ia sudah pergi ke 2 tempat hari ini. Dari hotel pun ia naik angkot hanya 2 kali untuk menuju 2 tempat itu. Ia hendak kembali ke hotel lagi, dengan naik angkot yang sama. Tapi kenapa jalanan ketika ia pergi dan pulang terasa berbeda? Akhirnya ia memutuskan untuk kembali lagi ke tempat wisata terakhir yang ia tuju. Setidaknya ia tidak semakin tersesat.
“Ify?” Baru saja ia akan menghubungi nomor sepupunya, Shilla, ada yang menyapanya. Ia menatap lelaki yang berada di sampingnya
“Lo ngikutin gue?” tanya Ify agak takut. Pikiran buruk bahwa Rio ini adalah penculik dan orang jahat pun mulai berkelabat di dalam otaknya. Rio yang mendengar pertanyaan ify pun mengerutkan keningnya tak mengerti
“Gue sama sekali nggak ngikutin lo. Gue emang ada kerjaan di sini”
“Bohong lo..” ucap Ify membuat Rio semakin nggak mengerti apa yang ada di otak Ify.
“Pak Rio, maaf, ini dokumen2nya ketinggalan. Sekali lagi terima kasih atas kerja samanya dengan hotel kami” ucap seorang yang nampaknya lebih tua dibandingkan Rio memberikan beberapa map pada Rio
“Makasih pak” balas Rio. Ify yang nggak sengaja mendengar percakapan itu membuat wajahnya memerah. Ini pertama kalinya ia benar2 malu di depan seorang lelaki. Ia sudah menuduh Rio yang bukan2
“Mau balik ke hotel?” tanya Rio kepada Ify seolah lupa dengan percakapan mereka sebelumnya “Mau bareng gue aja nggak?”
“Emang nggak ngerepotin?” tanya Ify membuat Rio tersenyum manis padanya
“Nggak kok. Yuk” ajak Rio kemudian berjalan ke mobil yang terparkir nggak jauh dari mereka.
“Maaf” ucap Ify akhirnya memecah keheningan di antara mereka berdua
“untuk?”
“Hmm,. Itu...” Ify mulai memainkan jari2 tangannya. Inilah yang biasa ia lakukan kalau gugup “Tadi gue mikir kalo lo penjahat yang mau nyulik gadis kayak gue buat dijual” ucap Ify dengan wajah yang memerah. Tawa Rio pun terdengar sedetik setelah Ify mengucapkan hal itu
“Emang muka gue kayak penjahat?”
“Nggak. Tapi bisa aja kan” ujar Ify membuat Rio lagi2 tertawa.
“Jangan2, lo tadi nolak gue anterin juga karena berpikir hal yang sama?” tanya Rio, tapi sama sekali nggak dijawab Ify. Diamnya Ify sudah cukup sebagai jawaban untuk Rio. “Oke, gue rasa gue harus mengenalkan diri lebih lengkap biar nggak disangka penjahat.” Ujar Rio sambil terkekeh melirik wajah Ify yang semakin menunduk dan memerah
“Nama gue Rio, lengkapnya Mario Stevano Aditya. Gue dulu kuliah di UI, ngambil jurusan Manajemen khususnya untuk manajemen hotel. Gue lulus tahun lalu, dan gue balik lagi ke sini
“Lo bercita-cita jadi pemilik hotel ya?”
“Sayangnya itu bukan cita2 gue. Tapi itu takdir gue. Seolah itu udah digariskan dalam hidup gue” ujar Rio membuat Ify semakin bingung “Sebenarnya cita2 gue dokter. Lo sendiri bercita-cita jadi dokter?”
“Iya. Gue senang belajar tentang tubuh manusia, gue senang berinteraksi dengan orang lain.” Ujar Ify dengan mata berbinar-binar. Rio kemudian tersenyum dan mengangguk.
“Ayo turun udah sampai” ucap Rio kemudian memberikan kunci mobilnya pada salah satu petugas hotel.
“Makasih ya yo. Eh, atau harus gue panggil ka?”
“Rio aja. ” ucap Rio membuat Ify mengangguk lagi. Ify berjalan menuju resepsionis
“Ify” Ify menoleh lagi pada Rio yang memanggilnya “Nice to meet you. Good night
Good night too” ucap Ify sambil tersenyum.
“Mbak, pacarnya pak Rio?” Tanya resepsionis
“Eh, saya bukan pacarnya kok mbak”
“Oh, soalnya mbak gadis pertama yang kelihatan dekat dengan pak Rio” Akhirnya Ify menemukan jawaban, mengapa Rio tidak menculik gadis, karena ia menyukai sesama jenis. GOSH..
“Mbak boleh nanya sesuatu?”Tanya Ify  “kenapa semua orang memanggil dia Pak Rio?
“Karena pak Rio lah yang memiliki hotel ini dan beberapa hotel lainnya. Bukan hanya di Bali, tapi juga ada di seluruh Indonesia dan di luar negeri. Pak Zeth memercayakan semua ini pada anak tunggalnya yaitu pak Rio.” Ujar resepsionis itu panjang lebar membuat Ify menganga. Ia jadi teringat percakapannya dengan Rio di mobil tadi. Jadi itu penyebabnya sampai Rio nggak bisa mencapai cita2nya sendiri.”ada lagi mbak?”
“Eh, nggak. Makasih mbak” ucap Ify kemudian memasuki kamarnya. Ia punya tiga hipotesis saat ini. Pertama, Rio sepertinya memang bukan penjahat. Kedua, Rio bisa menjadi teman yang baik selama ia di Bali. Ketiga, ntah bagaimana ia yakin hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
****
Matahari terbit di tepi pantai membuat segalanya menjadi indah. Ify senang matahari terbit. Seolah membawa secercah harapan, membawa hal baru, hari baru, dan itu semua menggetarkan hati Ify. Ify menutup matanya, kemudian menarik nafas dalam-dalam, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya kemudian mengeluarkan karbondioksida dari paru-parunya. Sinar matahari pagi yang dari tadi menerpa tubuhnya, sekarang terhalang oleh sosok lain di hadapannya. Ify membuka matanya, mencari tau siapa yang menghalangi kesenangannya pagi ini
“Rio?”
“Apa gue ganggu? Soalnya lo kayaknya senang banget”
“Gue senang sama sunrise
“Apa lo juga suka sama sunset?”
“Nggak. Gue nggak suka. Sunset seolah membuat semua harapan gue harus tenggelam, seolah matahari menyerah begitu saja untuk menyinari bumi”
“Kalau nggak ada sunset, nggak akan ada sunrise
“Salah. Kalau nggak ada sunrise,nggak akan pernah ada sunset
“Intinya sunrise & sunset saling melengkapi. Lo nggak bisa memilih salah satunya saja” ujar Rio membuat Ify merengut. Ia hanya ingin sedikit bahagia pagi ini, tapi kenapa malah berdebat tentang matahari dengan orang yang ada di depannya?
“Lupakan tentang matahari. Jangan buat gue jadi nggak mood pagi2”
“Dasar moody
“Apa lo bilang?”
Miss.Moody” ujar Rio sekali lagi membuat Ify langsung memukul lengan Rio dengan ganas. “Ampun fy, ampun. Gue Cuma bercanda” ujar Rio sambil mengelak dari pukulan-pukulan anarkis yang Ify berikan.
“Lo ada kerjaan nggak pagi ini?”
“Nggak. Ada apa?”
“Lo mau nemenin gue jalan2 nggak?”
“Lo udah nggak nganggep gue penculik gadis2?” tanya Rio membuat wajah Ify memerah. Ify kemudian menggeleng pelan. “Ah, lo nggak lagi ngajak gue ngedate kan?” tanya Rio usil sambil menaikturunkan alisnya
“RIOOOOOO” Ify mengejar Rio yang berlari menyusuri pantai. Rio hanya tertawa melihat gadis yang baru ia kenal kemarin mengejarnya dengan ekspresi kesal. Tak pernah Rio bisa dekat dengan seorang gadis seperti ini, atau setidaknya ia tidak pernah merasa nyaman dengan gadis manapun yang secara terang2an menunjukkan rasa suka mereka padanya. Sehingga ia memutuskan untuk tidak akan pernah jatuh cinta. Bukan, bukan berarti saat ini ia sedang jatuh cinta pada Ify. Terlalu cepat kalau ia merasakan jatuh cinta pada gadis yang baru saja ia kenal. Tapi bukankah cinta membuat semua yang tak mungkin menjadi mungkin??
****
Ify merengut kesal. Sudah beberapa hari ini Rio menghilang dari peredaran. Ingin sekali Ify menelpon atau mengirimkan sms padanya, namun gengsinya lebih tinggi dari pada apapun. Sekarang beginilah hasilnya, ia uring-uringan tanpa sebab. Ah, bukan. Ia uring2an karena Rio. Ia penasaran dengan apa yang dilakukan Rio, sehingga tidak memberikan kabar apapun pada dirinya.
“AAAARGH” teriak Ify kemudian mengacak-acak rambutnya
“Ify lo kenapa?” tanya Via yang agak takjub melihat sepupunya ini. Via baru sampai semalam, dan sejak Ia menginjakkan kakinya di Bali sampai sekarang, Ify sama sekali tidak tersenyum atau heboh seperti biasa. Via memang sudah mendengar kisah tentang Rio, pemilik hotel ini dari mulut Ify sendiri lewat telepon. Ketika Ify menceritakan Rio pun terdengar sangat menggebu-gebu. Lantas apa yang menyebabkan Ify jadi uring2an? Ah, bukan ‘apa’ tapi ‘siapa’. Dan sepertinya Via tau tersangkanya.
“Kesel gue”
“Kenapa? Gara2 nggak ketemu Rio? Atau karena Rio nggak ngehubungin lo sama sekali?” tanya Via telak membuat Ify semakin merengut
“awas aja kalo gue ketemu dia, gue bejek2 mukanya.”
“Haha, Ify, ify. Ada2 aja deh lo. Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo. Rio kan bukan siapa2 lo, jadi nggak apa2 dong dia nggak ngabarin lo. Ah, atau lo udah jatuh cinta sama dia?” tanya Via telak kedua kalinya untuk Ify.
“Gue nggak ngerti Vi. Padahal gue bener2 baru ketemu dia beberapa hari ini. Tapi sekarang kalau gue nggak ketemu dia, gue jadi uring2an begini”
“Lo jatuh cinta sama dia Fy. Lo nggak coba ngehubungin dia?”
“Gengsi gue. Masa iya, cewek yang ngehubungin duluan”
“Ya nggak apa2 dong”
“Udah ah, gue mau mandi, mau siap2 ke nikahan ka Shilla.” Ujar Ify kemudian meninggalkan Via yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Punya sepupu kok gengsian. Via mengangkat bahunya tak ingin mencampuri urusan cinta sepupunya itu.
****
Ify berkali-kali menatap dirinya di cermin. Ia menggunakan dress berwarna baby pink selutut, dengan high heels berwarna hitam, rambutnya dibuat keriting gantung, dan digerai, make-up tipis pun sudah ia gunakan. Sungguh tak ada yang salah dengan penampilannya, namun ia merasa ada yang kurang. Entahlah. Ia sendiri mencari tau apa yang kurang itu. Berkali-kali ia menatap cermin, berkali-kali ia memoleskan bedak, namun tetap saja tidak ada yang berubah. Ia melirik jam dinding yang menggantung di kamar hotel itu. Sudah jam 6.30 sore, itu artinya dia harus segera pergi dengan Via, karena resepsi pernikahan ka Shilla dimulai pukul 7 malam. Akhirnya ia mengambil tas pestanya yang berwarna hitam dan menghampiri Via yang masih saja duduk di balkon
“Berangkat yuk vi” ucap Ify membuat Via sedikit tersentak kemudian mengangguk.
“Muka lo kok lesu gitu sih. Senyum dong, ini kan pernikahan ka Shilla” ucap Via membuat Ify tersadar. Itu yang kurang dari penampilannya. Ia sama sekali tak bisa tersenyum. Semangatnya, seolah menghilang. Namun ia tidak mempedulikan perkataan Via, dan tetap melangkah ke ballroom hotel tersebut. Ka Shilla memang membuat acara pernikahannya di hotel ia menginap, hotelnya Rio. Ah, kenapa mengingat nama itu membuat ia merasa sedikit rindu. Ia ingat hari-hari yang ia habiskan bersama Rio mengelilingi Bali ini. Mulai dari perjalanan mereka ke Ubud, Bedugul, uluwatu, Pasar seni sukawati, dan berbagai tempat wisata lainnya. Jika ia diberikan kesempatan, rasanya ia ingin merasakannya lagi, berjalan berdua bersama Rio.
Ify dan Via kemudian memasuki ballroom tersebut. Tak henti-hentinya banyak pria maupun keluarga mereka sendiri memuji kecantikan mereka berdua. Mata Ify terpaku pada satu titik, sosok yang membuat ia uring-uringan selama beberapa hari ini malah ada di sini, dan tersenyum pada banyak gadis. Sungguh, ini membuatnya semakin sakit
“Hai Ify” sapa sosok itu namun tak dibalas oleh Ify. Ify kemudian meninggalkan Rio yang mematung begitu saja dengan tindakan Ify.
“Hai, gue Via, sepupu sekaligus temennya Ify. Lo?”
“Gue Rio”
“Oh jadi lo yang namanya Rio.” Ujar Via, membuat Rio mengangkat alisnya tak mengerti.
“Kenapa?”
“Lo kemana aja selama ini?” tanya Via membuat Rio semakin mengerutkan keningnya “Ah, nggak usah jawab ke gue. Lo cukup jawab itu ke sepupu gue. Dia uring2an selama nggak ketemu lo.”
“Heh?”
“Jangan sakitin sepupu gue. Ini pertama kalinya dia jatuh cinta” ujar Via kemudian meninggalkan Rio yang masih mencoba mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Via. Senyum simpul pun terukir di wajah Rio. Ada satu yang harus ia lakukan. Sekarang atau nggak sama sekali.
****
“Ify, gue mau ngomong bentar sama lo”
“Gue sibuk, yo, jangan ganggu gue.”
Please. Kali ini aja. Setelah itu gue nggak akan pernah ganggu lo lagi, kalo emang itu mau lo” ujar Rio membuat Ify menegang, rasa perih itu kemudian menjalar di hatinya. Akhirnya Ify mengangguk dan mengikuti langkah Rio. Tak ia sangka Rio akan membawanya ke tepi pantai yang berhadapan dengan hotel milik Rio itu.
“Apa yang mau lo bicarain?” tanya Ify memecah keheningan yang terjadi antara mereka berdua.
“Gimana kabar lo?”
“Ck. Kalo lo Cuma mau nanyain itu, lo bisa nanyain di dalam. Nggak usah bawa gue ke tepi pantai begini. Udah, gue mau balik ke acara sepupu gue.”
“Maaf” ucap Rio membuat Ify langsung menghentikan langkahnya “Maaf gue nggak ngabarin lo beberapa hari ini, soalnya gue sibuk ngurusin wedding kakak gue yang nggak disangka-sangka ternyata married sama sepupu lo.”
“Bukan urusan gue” ujar Ify dingin, namun di hatinya sungguh ia sangat bahagia. Akhirnya ia berjalan menyusuri pantai bersama Rio. Lagi-lagi kebisuan di antara mereka terjadi
“Ify, lo inget nggak apa yang gue bilang tentang sunrise &  sunset?
sunrise & sunset saling melengkapi”
“Gue pengen kita kayak sunrise & sunset. “Ujar Rio membuat Ify terpana. Rio tidak perlu menjelaskan maksud dari kalimatnya, karena Ify mengerti apa maksudnya. “Lo mau jadi sunrise gue dan gue jadi sunset lo? Gue tau mungkin kita baru kenal seminggu ini, tapi bukankah cinta nggak pernah kenal waktu?”
“Gue nggak mau” ucap Ify pelan namun masih dapat terdengar oleh Rio. Hatinya perih. “Gue nggak mau kita kayak sunrise & sunset. Gue nggak suka sama sunset. Cukup lo jadi Rio gue, dan  gue jadi Ify lo.” Ucap Ify sambil tersenyum manis membuat Rio menghembuskan nafas lega. Rio kemudian mengacak rambut Ify
“Astaga. Lo hampir membuat jantung gue berhenti berdetak. ”
“Rio, ini kan lagi romantis2nya, lo malah ngehancurin semuanya” ujar Ify membuat Rio langsung tertawa. Ia kemudian menarik gadisnya itu ke dalam pelukan. Ia meletakkan dagunya di puncak kepala Ify.
“Aku sayang sama kamu.” Ujar Rio kemudian melepas pelukannya dan mencium kening Ify, membuat pipi Ify memerah. Rio selalu berhasil membuatnya salah tingkah seperti ini.
“Aku juga sayang sama kamu” balas Ify membuat Rio kembali memeluk Ify.
“Apa ini udah romantis?” tanya Rio membuat Ify mendengus kesal
“Kamu selalu ngehancurin suasana romantis tuan Rio.” Ujar Ify membuat Rio kembali tertawa. Berada dekat dengan gadisnya ini membuat semuanya terasa sempurna
“Besok kamu balik ke jakarta?” tanya Rio membuat Ify mengangguk lesu “Hei, kok nggak semangat gitu sih. Cinta kita kan tak terbatas ruang dan waktu” gombal Rio membuat Ify langsung mencibirnya
“Mungkin kita emang nggak bakal sering ketemu, tapi aku bisa sering2 ke jakarta”
“Jangan buang2 duit Cuma buat ketemu aku”
“Yeee, PD. Aku ke jakarta buat ngurus proyek hotel bukan buat ketemu kamu” ujar Rio sambil menunjukkan senyum jailnya.
“RIOOOOOOOOOOO”
“Ampun sayaaang..”

--The end--

8 komentar:

  1. keren deh ceritanya :)
    bikin lagi dong ..
    jangan bosen-bosen yah ;)

    BalasHapus
  2. Makasiiiih yaaa komentarnya. Kalo ada waktu & ada ide, aku pasti buat kok. hehehe

    BalasHapus
  3. sippt :D
    by the way. dapet inspirasi darimana bisa buat cerpen segitu bagusnya :)
    sorry., sok kenal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kalo gitu. hehehe...
      Biasanya dari kehidupan sehari-hari sih. Misalnya nikahan sepupuku yang emang di Bali, tapi kisah selanjutnya bener2 cuma ngarang...

      Hapus
    2. ought :D
      tapi ceritanya semuanya bagus kok ...
      semangat yah buat nulis lagi ;)

      Hapus
  4. Boleh kasih saran dikit ga kak?

    BalasHapus
  5. Kakkk! KEREEEN! boleh dong buat lagi :p :)) keep writing

    BalasHapus
  6. kok ga pernah lagi ngeposting..?

    BalasHapus